41 Faedah Dari Kisah Para Ulama Dalam Menuntut Ilmu

Label: Faedah, Ilmu

Bismillah. Alhamdulillah. Semoga Shalawat dan Salam tercurahkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.

Amma ba’du :
Membaca kisah-kisah para ulama didalam mencari ilmu termasuk salah satu kiat akan kita termotivasi untuk menuntut ilmu dan mencari ilmu. Karena didalamnya disebutkan perjuangan mereka dalam mendapatkan ilmu, mulai dari pengorbanan, perjuangan dan seterusnya. Berikut ini diantara kisah tersebut :

KISAH 1 : SYU’BAH BIN HAJJAJ

Syu’bah bin Hajjaj Rahimahullah datang menemui Khalid al-Hadza’ Rahimahullah. Lalu Syu’bah bin Hajjaj berkata : “Wahai Abu Munazil (Khalid al-Hadza’), engkau memiliki hadits tentang ini dan ini, tolong ajari aku.” Khalid ketika itu sedang sakit dan dia berkata : “Saya sedang sakit.” Syu’bah bin Hajjaj berkata : “Hanya satu hadits saja, tolong ajarkan aku.” Kemudian Khalid memberitahukan hadits tersebut. Setelah selesai, Syu’bah berkata kepadanya : “Sekarang anda boleh mati, kalau mau.” [Syarafu Ashhabil Hadits (hal 116), Khatib al-Baghdadi]

Syu’bah juga bercerita : “Saya menjual bejana warisan ibu saya seharga tujuh dinar untuk biaya belajar.” [Tadzkiratul Huffazh (1/195), Adz-Dzahabi]

Imam Ahmad Rahimahullah bercerita : “Syu’bah tinggal di tempat Hakam bin Utbah, selama 18 bulan. Beliau menjual penyangga dan tiang rumahnya untuk biaya belajar.” [Al’Ilal bi Ma’rifatir Rijal, Imam Ahmad]


KISAH 2 : JA’FAR BIN DURUSTUWAIH

Ja’far bin Durustuwaish Rahimahullah bercerita : “Kami mengambil tempat duduk karena terlalu padat disebuah majelis kajian Ali bin Al-Madini Rahimahullah pada waktu Ashar untuk kajian esoknya. Kami menempatinya sepanjang malam, karena khawatir esoknya tidak mendapatkan tempat untuk mendengarkan kajian nya, karena penuh sesaknya manusia. Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut, kencing di jubahnya, karena khawatir tempat duduknya diambil apabila ia berdiri untuk kencing.” [Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’ (2/199), Khatib al-Baghdadi]


KISAH 3 : IBNU JANDAL AL-QURTHUBY

Ibnu Jandal al-Qurthuby Rahimahullah bercerita : “Saya pernah belajar kepada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar agar saya bisa duduk lebih dekat dengan nya. Ketika saya sampai di gerbang pintu yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya kesulitan membukanya. Saya berkata : “Subhanallah, saya datang sepagi ini, tetapi saya tetap saja tidak bisa duduk didekatnya.” Kemudian saya melihat sebuah terowongan disamping rumahnya. Saya membuka dan masuk kedalamnya. Ketika sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa keluar ataupun kembali. Saya membuka terowongan selebar – lebarnya agar bisa keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas ditubuh saya, dan sebagian daging badan saya terkelupas. Allah Subhanahu wa ta’ala menolong saya untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya, sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (3/363), al-Qifthy dengan saduran]


KISAH 4 : MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah bercerita : “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibu saya. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada di masjid). Dia tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya karena mengajari saya. Saya mendengar darinya (guru) hadits atau pelajaran, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya mengambilnya dan menulis diatasnya. Apabila sudah penuh tulisanya, saya menaruhnya didalam guci/botol besar yang sudah tua.” [Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/98), Ibnu Abdil Baar]


KISAH 5 : HAMID AL-ISFIRAYAINI

Salim Ar-Razy Rahimahullah menceritakan bahwa Syaikh Hamid al-Isfirayaini Rahimahullah pada awalnya adalah seorang satpam disebuah rumah. Beliau belajar ilmu dengan cahaya lampu ditempat jaganya karena terlalu fakir dan tidak mampu membeli minyak untuk lampunya. Beliau makan dari gaji nya. [Thabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (4/61), As-Subki]


KISAH 6 : AHMAD AL-ASHBAHANI

Ahli Hadits Ahmad bin Muhammad Al-Ashbahani Rahimahullah berangkat dengan tergesa-gesa ke Baghdad ketika masih berusia enam belas tahun untuk bertamu dengan ulama hadits Abu Nashir az-Zainabi Rahimahullah dan mengambil dirinya hadits-hadits Ali bin Al-Ja’d Rahimahullah yang diriwayatkan dari Syu’bah Rahimahullah. Ketika sampai di Baghdad beliau mendapatkan kabar bahwa Abu Nashr Az-Zainabi telah wafat. Al-Ashbahani menangis dan berteriak : “Darimana saya bisa mendapatkan hadits Ali bin Al-Ja’d riwayat Syu’bah lagi?” [Tadzkiratul Huffazh (4/1284), Adz-Dzahabi]


KISAH 7 : ABU HATIM AR-RAZI

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah berkata : “Saya tinggal di Bashrah selama delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun (agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki nafkah lagi.” [Al-Jarh wa Ta’dil (hal 363), Ibnu Abi Hatim]

Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah juga bercerita : “Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan tidak pernah merasakan kuah makanan (karena sibuk untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak makanan yang berkuah). Siang hari kami berkeliling ke para Masyaikh (guru) dan malam hari kami gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan kami.

          Suatu hari, saya bersama seorang teman mendatangi salah seorang Syaikh. Dikabarkan kepada kami bahwa beliau sedang sakit. Kami pulang melewati sebuah pasar dan tertarik pada ikan yang sedang dijual. Kami membelinya. Setelah sampai dirumah, ternyata waktu kajian untuk Syaikh yang lain sudah tiba. Maka kamipun segera pergi ke sana (dan meninggalkan ikan tersebut dengan harapan bisa dimasak dilain waktu).

          Lebih dari tiga hari ikan tersebut belum sempat dimasak karena kesibukan menuntut ilmu, hingga hampir busuk. Kami memakan nya mentah-mentah karena tidak punya waktu untuk menggorengnya. “Ilmu itu tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai.” [Al-Jarh wa Ta’dil (1/5), Ibnu Abi Hatim]


KISAH 8 : IBNU JARIR ATH-THABARY

Abu Muhammad  Al-Firghani Rahimahullah berkata : “Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah melakukan perjalan (rihlah untuk menuntut ilmu) ketika usianya baru dua belas tahun. Ayahnya mengizinkan nya untuk pergi selama hidupnya, dia (ayahnya) mengirimkan sesuatu sebagai bekal untuk belajar. Ibnu Jarir bercerita : “(Pernah) terjadi keterlambatan (kiriman) nafkah dari orangtua saya, sehingga saya terpaksa merobek kedua kantong jubah saya dan menjualnya  (untuk biaya belajar).” [Tadzkiratul Huffazh (3/711), Adz-Dzahabi]

Dari Al-Mu’afa bin Zakaria Rahimahullah dari sebagian orang yang terpercaya bahwa beliau berada disamping Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari Rahimahullah sesaat sebelum beliau wafat. Ibnu Jarir diingatkan dengan sebuah doa dari Ja’far bin Muhammad Rahimahullah. Beliau meminta pena dan kertas kemudian menulis doa tersebut. Beliau ditanya : “Wahai Imam, apakah anda masih menulis ilmu dalam keadaan seperti ini –yakni dalam keadaan sakaratul maut-?” Beliau –Ibnu Jarir- menjawab : “Seharusnya seseorang tidak meninggalkan mencari ilmu sampai ia mati.” [Kunuzul Ajdad, Muhammad Kurdi Ali]


KISAH 9 : ABDULLAH BIN FARRUK AL-QAIRUWANI

Abdullah bin Farruk al-Qairuwani Rahimahullah pergi menemui Imam Abu Hanifah An-Nu’man Rahimahullah untuk belajar darinya. Ketika Abdullah duduk dirumah Abu Hanifah, tiba-tiba batu jatuh dari atas rumah Abu Hanifah tepat mengenai kepala Abdullah hingga ia terluka dan darahnya mengucur. (Kata Abdullah Al-Qairuwani) Abu Hanifah berkata kepada ku : “Apakah engkau memilih harga denda atau memilih tiga ratus hadits?” Maka saya menjawab : “Saya memilih tiga ratus hadits.” Kemudian beliau mengajarinya 300 hadits tersebut.


KISAH 10 : HISYAM BIN AMMAR

Hisyam bin Ammar Rahimahullah bercerita : “Ayah ku yakni Ammar menjual rumah seharga dua puluh dinar. Beliau menyiapkan nya untuk perjalanan ibadah hajiku. Setelah sampai di Madinah, saya mendatangi majelis Imam Malik bin Anas Rahimahullah. Saya memiliki beberapa permasalahan yang ingin saya tanyakan kepadanya. Saya mendatangi beliau yang sedang duduk disebuah majelis layaknya raja (karena penghormatan orang kepadanya). Orang-orang bertanya dan beliau menjawabnya. Saya masuk dan menemui Imam Malik, dan tibalah giliran ku untuk berbicara. Saya berkata kepada beliau : “Bacakanlah hadits kepadaku” Beliau (Imam Malik) berkata : “Tidak, anda yang membacakan nya.” Saya berkata : “Tidak, tetapi bacakanlah hadits kepada ku.” Beliau berkata lagi : “Tidak anda yang membacakan nya.” Ketika saya menolaknya dan membantahnya, beliau marah kepada saya dan berkata kepada orang lain : “Wahai pemuda, ke marilah, bawa orang ini (maksudnya saya) dan pukullah lima belas kali cambukkan.” Pemuda (orang itu) membaca saya dan memukuli saya lima belas kali. Kemudian pemuda itu mengembalikan saya ke Imam Malik dan berkata : “Saya telah memukulinya.”

          Saat itu saya berkata : “Anda (wahai Imam Malik) telah menzhalimi saya. Orang tua saya menjual rumahnya dan mengirim saya untuk belajar kepadamu. Saya bangga bisa belajar dari anda. Anda telah memukul saya lima belas kali cambukkan tanpa ada kesalahan yang saya lakukan. Saya tidak menghalalkan anda.” Imam Malik berkata : “Apa tebusan dari kezaliman itu?” Saya berkata : “Tebusan nya engkau harus mengajarkan saya lima belas hadits.” Imam Malik lalu membacakan kepada saya lima belas hadits. Setelah selesai, saya berkata kepadanya : “Wahai Imam, pukullah saya lagi dan tambahlah hadits kepada ku..!” Imam Malik tersenyum dan beliau berkata : “Pergilah dan pulanglah.” [Ma’rifatul Qurra’ (1/196), Adz-Dzahabi]


KISAH 11 : ABDURRAHMAN AL-QASHIM AL-MISHRI

Abdurrahman Al-Qashim Rahimahullah bercerita : “Saya mendatangi Imam Malik bin Anas Rahimahullah di akhir malam sebelum fajar untuk bertanya dua, tiga atau empat masalah. Disaat-saat itu, saya mendapati beliau dalam keadaan tenang hatinya, sedikit murid (yang disekitarnya), dan saya selalu mendatanginya diwaktu tersebut.

          Suatu ketika saya datang, seperti biasa. Saya bersandar dipalang pintunya untuk menunggu beliau keluar shalat, kemudian saya bertanya tentang semua yang ingin saya tanyakan. Saya sangat mengantuk dan (akhirnya) tertidur. Imam Malik keluar ke masjid dan saya tidak menyadarinya. Seorang budak perempuan kulit hitam membangunkan saya dengan kakinya dan berkata : “Tuan mu sudah keluar ke masjid. Dia tidak lalai sebagaimana kelalaian mu.” [Tartibul Madarik (3/250), Qadhi Iyadh]


KISAH 12 : ASAD BIN FURRATH

Asad bin Furrath Rahimahullah pergi ke Irak untuk belajar kepada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullah. Ketika sampai kepadanya, Asab berkata kepada beliau : “Saya seorang asing yang miskin, kajian mu sedikit, sementara muridmu banyak, bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan ilmu sebanyak mungkin dari anda? Sekalipun murid anda banyak dan saya terpaksa segera meninggalkan anda sebentar lagi?”

Imam Asy-Syaibani berkata : “Belajarlah bersama murid-muridku yang lain diwaktu siang dan aku akan menjadikan malamku untuk mu sendirian. Anda bermalam bersamaku dan aku akan mengajarimu ilmu.”

Asad berkata : “Saya bermalam bersamanya dirumahnya. Beliau menemui saya dan menaruh sebuah kendi air disamping nya. Beliau mulai membaca. Apabila malam sudah larut dan saya mengantuk, maka beliau penuhi tangan nya dengan air dan dipercikkan nya ke wajahku, hingga saya terjaga kembali. Ini terus berlangsung sampai saya menyelesaikan ilmu yang ingin saya dapatkan darinya.” [Bulughul Amaani fi Sirah Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, Al-Kautsari]


KISAH 13 : ABU ALI AL-HASAN AL-BALKHI

Abu Ali Al-Hasan bin Ali Al-Balkhi Rahimahullah bercerita : “Saya penah tinggal di Asqalan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih dan lain nya. Nafkah saya semakin menipis sehingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, tetapi tidak bisa karena sangat lapar. Saya pergi ke toko roti dan duduk didekat roti tersebut untuk mencium aroma nya agar saya punya tenang. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membantu saya.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1173), Adz-Dzahabi]


KISAH 14 : MUHAMMAD BIN THAHIR AL-MAQDISI

Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi Rahimahullah bercerita : “Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al-Haddad Rahimahullah. Bekal saya semakin menipis hingga yang tersisa hanya satu dirham saja. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis. Saya bingung, kalau saya belikan roti, maka saya tidak ada (uang untuk) beli kertas untuk menulis. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut sampai tiga hari dan selama itu pula saya tidak merasakan makan sama sekali.

          Pada pagi hari keempat, dalalam hati, saya berkata : “Kalau saya punya kertas, saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar.” Saya letakan dirham itu dimulut dan mengeluarkan untuk membeli roti. Tanpa terasa saya telah menelan dirham tersebut, saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya : “Apa yang membuat anda tertawa?” Saya menjawab : “Sesuatu yang baik.” Beliau meminta saya untuk menceritakan nya, tetapi saya menolak. Ia terus menerus memaksa sehingga saya ceritakan permasalahan nya. Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1246 dengan saduran), Adz-Dzahabi]

Beliau juga bercerita : “Saya pernah kencing darah dua kali saat belajar hadits, sekali di Baghdad dan sekali lagi di Mekkah. Karena saya berjalan tanpa alas kaki di Baghdad dan di Mekkah dibawah terik sinar matahari yang menyengat, sehingga saya mengalami hal tersebut. Saya tidak pernah naik kendaraan sama sekali ketika belajar hadits kecuali sekali saja dan saya membawa kitab di pundak saya.” [Tadzkiratul Huffazh (4/124), Adz-Dzahabi]


KISAH 15 : AL-BUKHARI

Imam Al-Bukhari Rahimahullah bercerita : “Saya menemui Adam bin Abi Iyyas Rahimahullah di Asqalan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan. Saya tidak menceritakan nya kepada seorangpun. Dihari ketiga saya didatangi seseorang yang saya tidak kenal dan memberiku bungkusan yang didalamnya berisi dinar. Ia berkata : “Nafkahlanlah untuk dirimu sendiri.” [Tabaqatus Syafi’iyah Al-Kubra (2/227), As-Subki]

Umar bin Hafs Al-Asyqar Rahimahullah berkata : “Suatu hari kami kehilangan Imam al-Bukhari Rahimahullah ketika menulis hadits di Bashrah. Kami mencari beliau dan mendapati nya sedang berada dirumahnya, beliau tidak berpakaian. Semua yang beliau memiliki telah habis sehingga beliau tidak memiliki harta lagi. Kami berkumpul dan sepakat untuk mengumpulkan beberapa dirham dan membelikan beliau pakaian dan memberikan nya. Kemudian beliau dan mengajari kami hadits.” [Tarikh Baghdad (2/13), Khatib al-Baghdadi]


KISAH 16 : MUSLIM

Ahmad bin Salamah Rahimahullah salah seorang teman Imam Muslim Rahimahullah –penulis Shahih Muslim- bercerita : “Imam Muslim dibuatkan sebuah acara untuk mendiskusikan hadits, dibacakan kepada beliau sebuah hadits yang tidak beliau ketahui. Beliau kembali ke rumahnya kemudian menyalakan lampu dan berkata kepada orang-orang yang ada dirumahnya : “Tidak boleh seorangpun masuk ke dalam kamar ini.”

          Seseorang berkata : “Kita diberi hadiah satu keranjang kurma.” Imam Muslim berkata : “Berikan kepadaku.” Merekapun memberikannya kepada Imam Muslim. Beliau mencari hadits yang tidak diketahui sebelumnya dalam kitab-kitabnya sambil mengambil kurma dan mengunyahnya sampai tiba waktu Subuh. (Karena seriusnya beliau meneliti, tanpa sadar) kurma telah habis dan hadits baru didapatkan.

          Al-Hakim berkata : “Saya diceritakan oleh orang yang bisa dipercaya, bahwa Imam Muslim sakit setelah memakan kurma tersebut, dan setelah itu beliau meninggal dunia.” [Shiyanatus Shahih Muslim min Ikhlal wa Ghalath, Ibnu Shalih]


KISAH 17 : MALIK

Ibnu Qashim Rahimahullah berkata : “Karena fakirnya, Imam Malik Rahimahullah berupaya menuntut ilmu hingga menghabiskan atap rumahnya, kayunya dijual. Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan dunia dan memberi nya rezki. Imam Malik berkata : “Ilmu tidak akan bisa diraih, hingga merasakan nikmatnya kefakiran karena nya.” [Tartibul Madarik (1/130), Qadhi Iyadh]


KISAH 18 : ABU MUHAMMAD ABDULLAH AL-KHASYSYAB

Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah menceritakan, Abu Muhammad Abdullah Al-Khasysyab Rahimahullah pernah suatu hari beliau membeli kitab seharga 500 dinar. Karena tidak memiliki sesuatu untuk membayarnya, beliau meminta ditangguhkan pembayaran nya sampai tiga hari. Beliau segera pulang dan menawarkan rumahnya untuk dijual, sedangkan tawaran harganya mencapai 500 dinar. Ia lalu menuju ke penjual kitab itu. Ia telah menjual rumahnya seharga 500 dinar, persis seharga kitabnya, sehingga lunaslah hutang-hutang nya.” [Dzailut Tabaqatil Hanabilah (1/319), Ibnu Rajab dengan saduran]


KISAH 19 : MUHAMMAD BIN SAHNUN

Al-Maliki Rahimahullah bercerita : “Muhamad bin Sahnun memiliki seorang budak yang bernama Ummu Madam. Suatu hari ia bersamanya, dan dia sangat sibuk menulis sebuah kitab hingga malam hari. Budak tersebut membawakan kepadanya makanan dan meminta beliau untuk makan. Beliau berkata kepada budaknya : “Saat ini saya masih sibuk” Setelah lama menunggu, budak tersebut menyuapkan nya sambil ia terus menulis hingga adzan shalat subuh tiba. Beliau berkata kepada budaknya : “Saya sudah merepotkan dirimu malam ini wahai Ummu Madam. Bawa kemari makanan yang telah anda siapkan tadi.” Budaknya berkata : “Demi Allah, wahai tuan ku. Saya telah menyuapkan anda semalam.” Ia berkata kepadanya : “Saya sama sekali tidak merasakan hal itu.” [Tartibul Madarik (3/114), Qadhi Iyadh]


KISAH 20 : IBNU TAIMIYAH

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah bercerita : “Terkadang untuk mempelajari tafsir satu ayat, saya membaca seratus kitab tafsir, namun belum juga dapat memahaminya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala kepahaman dengan berdoa : “Wahai gurunya Nabi Adam dan Nabi Ibrahim (yakni Allah Subhanahu wa ta’ala), ajarilah aku.” Saya mendatangi masjid yang kosong dan menyungkurkan wajah saya ke tanah dan bersujud kepada Allah sambil berdoa : “Wahai gurunya Nabi Adam dan Nabi Ibrahim, ajarilah aku.” [Tafsir Surat Al-Ikhlas karya Ibnu Taimiyah]


KISAH 21 : ABDULLAH BIN ABBAS

Sahabat Nabi yang Mulia, Abdullah bin Abbas Radhiyallahu’anhu bercerita : “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam wafat saya masih muda. Saya berkata kepada para pemuda-pemuda Anshar : “Mari kita bertanya kepada sahabat Rasulullah dan belajar dari mereka, karena hari ini mereka masih banyak.”

Mereka berkata kepadaku : “Kamu sangat mengherankan, apakah orang-orang akan membutuhkan mu, karena ditengah- tengah mereka masih ada sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam?”
Mereka malas belajar, tetapi saya segera belajar dan mendatangi para sahabat Rasulullah. Saya terkadang mendatangi seseorang yang saya dengar memiliki hadits dari Rasulullah, tetapi dia sedang tidur siang. Maka saya tidur didepan rumahnya dengan berbantalkan surban saya. Wajah saya penuh dengan debu yang ditiupkan oleh angin sampai dia keluar (rumah). Ketika ia keluar dan melihatku, dia berkata : “Apa yang membuat anda ke sini?” Kenapa anda tidak mengutus seseorang kepada saya dan saya akan datang kepadamu?”

Saya menjawab : “Tidak, saya lebih berhak untuk datang kepada anda. Saya mendengar bahwa anda pernah mendengar hadits dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan saya ingin mendengar langsung dari anda.”

(Setelah beberapa lama, para sahabat Rasulullah mulai wafat satu persatu). Pemuda Anshar yang dulu menolak ketika saya ajak belajar ketika melihat saya bersama orang-orang berkumpul disekeliling saya dan bertanya kepada saya, ia berkata : “Pemuda ini lebih pintar dari saya.” [Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (1/85), Ibnu Abdil Baar]


KISAH 22 : URWAH BIN ZUBAIR

Urwah bin Zubair Rahimahullah bercerita : “Saya diberitahu ada seorang dari Muhajirin yang mempunyai hadits. Saya mendatanginya dan mendapatkan nya sedang tidur siang. Saya duduk didepan pintunya untuk bertanya kepadanya ketika ia keluar dari rumahnya.” [Tarikh Islam (4/32), Adz-Dzahabi]


KISAH 23 : ABDULLAH BIN FARUKH AL-QAIRUWANI

Abdullah bin Farukh Al-Qairuwani Rahimahullah bercerita : “Saya pergi ke Kufah dan banyak mendengar hadits dari Sulaiman bin Mahran Al-A’masy Rahimahullah. Saya pun bertanya tentang beliau. Seseorang berkata : “Beliau yakni Al-A’masy marah kepada pelajar hadits dan bersumpah untuk tidak mengajarkan mereka hadits beberapa waktu.”

Saya pergi ke rumahnya dan duduk didepan pintunya dengan harapan saya bisa bertemu dengan A’masy, namun saya tidak bisa bertemu dengan nya. Suatu hari ketika saya duduk didepan pintunya, sambil merenungkan tentang keterasingan saya dan tidak bisa mendengarkan hadits. Tiba-tiba seorang budak perempuan membuka pintu dan keluar. Ketika ia melihat saya, ia berkata : “Apa yang membuat anda duduk didepan pintu kami?” Saya menceritakan semuanya. Ia bertanya negeri asal saya dan saya pun memberitahukan nya. Ternyata dia dahulunya seorang budak kecil kami yang kemudian kami jual ke Kufah. Ia segera masuk dan menemui tuan nya yakni Al-A’masy dan menceritakan tentang saya dan dia membantu saya untuk bisa bertemu dengan beliau. Akhirnya Al-A’masy menyuruh saya tinggal dirumah depan rumahnya dan mengajarkan hadits yang beliau miliki, sementara orang-orang tidak bisa melakukan nya.” [Tartibul Madarik (3/110), Qadhi Iyadh]


KISAH 24 : MUHAMMAD BIN SYIHAB AZ-ZUHRI

Ibnu Khalqan Rahimahullah bercerita : Imam Muhammad Ibnu Syihab Az-Zuhri, seorang toko ulama besar dalam ilmu hadits, apabila beliau duduk dirumahnya ia menaruh kitab-kitabnya disampingnya. Beliau membacanya, sehingga ia tidak lagi memperhatikan semua urusan dunia nya. Suatu hari isterinya berkata : “Demi Allah, Kitab-kitab nya ini lebih berat bagi saya dari tiga orang isterinya yang lain.” [Wafiyatul A’yan (3/317), Ibnu Khalqan]


KISAH 25 : ABDULLAH BIN QASIM AL-ATQI 

Abdullah bin Qasim Al-Atqi Rahimahullah menikah dengan putri paman nya. Disaat isterinya hamil, ia ingin pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas Rahimahullah. Dia berniat tinggal bersama Imam Malik dalam waktu yang lama agar bisa belajar darinya. Ia memberitahukan hal tersebut kepada isterinya. Agar tidak menzalimi isterinya, ia menyuruh isterinya memilih antara dicerai agar bisa menikah dengan laki-laki lain yang dia inginkan atau ia menunggu kepulangan nya dalam waktu yang hanya Allah yang mengetahuinya. Isterinya memilih untuk tetap menjadi isterinya. Ia meninggalkan harta sekedarnya untuk isterinya. Kemudian pergi menuju Madinah meninggalkan isterinya yang sedang hamil. Beliau tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun dan tidak lagi mengetahui berita tentang isteri dan anaknya.

          Abdullah bin Qasim bercerita : “Saya tinggal bersama Imam Malik selama tujuh belas tahun. Saya tidak pernah menjual dan membeli sesuatu. Suatu hari, rombongan haji datang dari Mesir. Diantara mereka ada seorang pemuda yang bersorban dan masuk menemui kami di Masjid. Dia mengucapkan salam kepada Imam Malik dan bertanya : “Apakah diantara anda ada Abdullah bin Qashim?” Orang-orang menunjuk ke arah saya. Dia segera mencium antara dua mata saya dan saya mendapatkan aroma yang sangat harum yaitu aroma seorang anak. Ternyata dialah putera saya yang dulu saya tinggalkan dalam kadungan ibunya. Ia telah dewasa dan sudah menjadi seorang pemuda.” [Tartibul Madarik (3/250), Qadhi Iyadh]


KISAH 26 : IBRAHIM AL-HARBI

Imam Ibrahim Al-Harbi Rahimahullah bercerita : “Suatu hari saya mengalami krisis keuangan hingga tidak ada lagi makanan untuk keluarga saya. Isteri saya berkata : “Saya dan anda bisa bersabar untuk lapar. Tetapi dua anak ini tidak akan bisa bersabar seperti kita. Berikan saya sebagian kitabmu, untuk saya jual atau saya gadaikan dan kita bisa membeli makanan.” Saya menolaknya dan tidak ingin kitab saya dijual. Saya berkata kepadanya : “Berhutanglah untuk mereka berdua makanan, dan tangguhkanlah pembayaran nya beberapa hari atau malam. Semoga Allah memberikan kemudahan dari-Nya.”

          Suatu malam, ketika saya berada didalam kamar untuk membaca dan menulis, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Saya berkata : “Siapa itu?” Ia menjawab : “Salah seorang tetanggamu.” Saya menyuruhnya untuk masuk. Ia berkata : “Matikan lampu agar saya masuk.” Saya matikan lampu kemudin dia masuk dan menaruh satu karung besar dan berkata kepada saya : “Saya sudah membuat makanan untuk anak-anak saya, dan saya ingin kamu dan anak mu juga mendapatkan bagian darinya. Dan yang lain saya letakkan disamping karung besar, pergunakanlah untuk mencukupi kebutuhan mu.” Ia pergi dan saya tidak pernah mengetahui siapa orang itu.

          Saya memanggil isteri saya dan menyuruhnya untuk menyalakan lampu. Dia menyalakan nya dan kami mendapatkan karung besar yang didalamnya ada limapuluh bungkus berisi berbagai macam makanan. Disamping kantung besar terdapat kantung berisi 1000 dinar. Saya berkata kepada isteri saya : “Bagunkan anak- anak agar makanan dan bayarlah hutang dengan dinar-dinar tersebut.” [Tarikh Baghdad (6/31), Khatib Al-Baghdadi]


KISAH 27 : IBNU MUKWI

Qadhi Iyadh Rahimahullah bercerita tentang Abu Umar Ahmad bin Abdul Malik Al-Asybili Rahimahullah yang dikenal dengan nama Ibnu Mukwi, beliau bercerita : “Beliau yakni Ibnu Mukwi adalah orang yang gemar belajar sepanjang hayatnya, tidak pernah berhenti siang dan malam. Dia merasakan kenikmatan dalam belajarnya. Disebutkan bahwa ada seorang teman nya yang mengunjunginya ketika hari raya. Dia mendapatkan rumahnya terbuka dan menunggunya. Setelah lama tidak keluar, dia menyuruh seseorang untuk memberitahukan kedatangan nya kepada Ibnu Mukwi. Dia (Ibnu Mukwi pun) keluar dari rumahnya sambil membaca kitab dan tidak terasa hingga ia menabrak teman nya. Saat itu beliau sadar dan langsung mengucapkan salam kepadanya. Ia meminta maaf atas keterlambatan nya keluar karena beliau sedang disibukkan dengan sebuah masalah penting yang tidak mungkin dia tinggalkan sampai Allah Subhanahu wa ta’ala membukakan nya dan memberinya pemahaman. Teman nya berkata : “Pada hari Raya, disaat orang-orang dianjurkan untuk beristirahat, tapi anda tetap belajar?” Ibnu Mukwi menjawab : “Apabila saya merasa sakit, saya segera membaca dan belajar. Saya tidak merasakan kenikmatan kecuali disaat belajar dan membaca.” [Tartibul Madarik (4/636), Qadhi Iyadh]


KISAH 28 : ABI YUSUF AL-QADHI

Ibrahim bin Jarrah Rahimahullah bercerita : “Imam Abi Yusuf Al-Qadhi Rahimahullah menderita sakit menjelang kematian nya. Saya datang untuk menjenguknya dan saya mendapati beliau dalam keadaan pingsan. Ketika sadar beliau berkata : “Apa pendapatmu tentang masalah ini dan ini?” Saya berkata : “Wahai Imam, dalam keadaan seperti ini –yakni dalam sakaratul maut engkau masih mendiskusikan ilmu-?” Beliau menjawab : “Tidak mengapa kita belajar, semoga hal itu bisa menyelamatkan seseorang.” Kemudian beliau bertanya : “Wahai Ibrahim, mana yang lebih utama ketika melontar jumrah waktu haji, dilakukan dengan berjalan kaki atau naik kendaraan?” Saya menjawabnya dan setelah itu saya meninggalkan beliau. Belum sampai dipintu rumahnya, saya sudah mendengar orang menangisi beliau, dan ternyata beliau sudah meninggal. Semoga Allah merahmatinya.” [Manaqib Abu Hanifah (1/481), Muwaffiq Al-Makky]


KISAH 29 : ISHAQ BIN MANSHUR AL-MARWAZI

Imam Ishaq bin Manshur Al-Marwazi Rahimahullah adalah salah satu murid Imam Ahmad. Beliau telah banyak menulis dari Imam Ahmad Rahimahullah berbagai permasalahan fiqhiyah. Beliau kembali ke daerahnya di Naisabur. Suatu hari beliau mendengar bahwa Imam Ahmad meralat beberapa fatawanya dalam permasalahan fiqhiyah tersebut dan memfatwakan yang berbeda dengan nya. Imam Ishaq segera mengemaskan kitab yang berisi masalah-masalah yang dia tulis sebelumnya dan menaruhnya dalam tas, kemudian membawanya pergi dengan jalan kaki dari Naisabur ke Baghdad. Beliau menjumpai Imam Ahmad dan menanyakan permasalahan tersebut sambil membacanya kembali dihadapan beliau. Imam Ahmad tetap mengaku fatwanya yang pertama –yakni tidak berubah-. Dan takjub dengan kesungguhan nya (ishaq).” [Thabaqatut Turatsil Arabi (1/238), Muhammad Fuad]


KISAH 30 : AHMAD BIN HANBAL

Imam Yahya bin Ma’in Rahimahullah bercerita : “Ketika saya keluar bersama Imam Ahmad –untuk pergi- ke Yaman untuk menuntut ilmu (dari Imam Abdurrazzaq Ash-Shan’ani), kami sempatkan diri untuk melaksanakan Ibadah haji. Ketika thawaf di Ka’bah, tiba-tiba saya bertemu dengan Imam Abdurrazzaq yang juga sedang thawaf. Saya mengucapkan salam kepada beliau dan memberitahukan beliau : “Ini saudaramu Ahmad bin Hambal.” Beliau (Imam Abdurrazzaq) berkata : “Semoga Allah menjaga dan mengokohkan nya dalam (kebenaran).” Yahya berkata : “Saya menjumpai Ahmad dan berkata kepadanya : “Allah telah mendekatkan langkah kita dan memudahkan nafkah kita serta membebaskan kita dari perjalanan satu bulan (dari Mekkah ke Yaman).” Imam Ahmad menjawab : “Ketika di Baghdad saya sudah berniat untuk belajar pada Abdurrazzaq di Shan’a (Yaman). Demi Allah saya tidak akan merubah niat saya –yakni saya tetap ke yaman.” [Al-Manjahul Ahmad (11/386) Ibnu Hajar]

Imam Ishaq bin Rahawaih Rahimahullah bercerita : “Ketika Imam Ahmad pergi menemui Abdurrazzaq Ash-Shan’ani untuk belajar darinya di Shan’a, semua perbekalannya habis, hingga beliau menawarkan dirinya sebagai pekerja agar bisa sampai di Shan’a. Beberapa orang teman nya menawarkan bantuan, namun beliau tidak menerimanya sedikitpun.” Imam Ahmad bin Sinan Al-Wasithi Rahimahullah berkata : “Saya mengetahui Imam Ahmad menggadaikan sandalnya pada tukang roti dengan makanan ketika beliau keluar dari Yaman.” [Manaqib Imam Ahmad, Ibnu Jauzi. dengan saduran]


KISAH 31 : ABU WAQT AS-SAJZI

Imam Abu Waqt As-Sajzi Rahimahullah berkata : “Saya pergi bersama ayah saya untuk mendengar Shahih al-Bukhari dengan berjalan kaki dari Hirrah (sebuah kota di Masyriq) ke Ad-Dawudi di Bosang (juga sebuah kota di Masyriq), ketika itu usia saya baru sepuluh tahun.

          Ditengah-tengah perjalanan ayah saya menaruh dua batu di tangan saya dan berkata : “Bawalah keduanya” Karena saking takutnya, saya menjaga kedua batu tersebut sambil berjalan dan ayah saya memperhatikan saya. Apabila ayah saya melihat saya kelelahan, dia menyuruh saya untuk membuang salah satu batu tersebut. Saya membuangnya dan itu meringankan saya.

          Saya berjalan hingga kelihatan lelah dan dia berkata kepada saya : “Apakah kamu lelah?” Saya takut kepada nya dan menjawab “Tidak” Dia berkata : “Kenapa jalanmu lambat?” Saya segera mempercepat langkah didepan nya selama satu jam, kemudian kami kelelahan. Dia mengambil batu yang lain dan melemparkan nya. Saya berjalan hingga tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ketika itulah beliau menggendong saya.

          Kami bertemu dengan sekelompok petani dan lain nya. Mereka berkata : “Wahai Syaikh Isa (isa nama ayahku), biarkan kami membawa anak ini dan anda dengan kendaraan ke Bosang.” Ayah saya berkata kepada mereka : “Saya berlindung kepada Allah. Untuk naik kendaraan dalam belajar hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Tetapi kami akan bejalan (karena berjalan pahalanya lebih besar). Apabila anak saya lelah saya suruh dia naik diatas kepala saya sebagai penghormatan terhadap hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan mengarapkan pahalanya.”

          Abu Waqt melanjutkan ceritanya : “Buah dari yang demikian itu dan karena niat yang tulus, saya bisa belajar kitab ini –yakni Shahih Bukhari- dan lain nya. Tidak ada teman seorangpun yang tersisa sehingga rombongan dari berbagai negera, berdatangan untuk belajar kepada saya.” [Siyar A’lam Nubala (20/303), Adz-Dzahabi]


KISAH 32 : ABUL GHANAIM MUHAMMAD BIN ALI AL-BAGHDADI

Hibatullah bin Al-Mubarak as-Saqthi Rahimahullah berkata : “Ulama besar Baghdad, Abul Ghanaim Muhammad bin Ali Al-Baghdadi As-Saqthi memiliki kedudukan dan kekayaan. Lama-kelamaan beliau menjadi fakir dan hartanya berkurang. Kami bersama rombongan orang-orang kaya mendatangi beliau untuk mendengarkan hadits dari beliau yang sedang sakit. Kami masuk menemui beliau yang berada diatas tikar dan mengenakan jubah yang sebagian besar pernah terbakar. Beliau tidak memiliki harta walaupun satu dirham. Beliau menahan sakitnya dan mengajarkan kami hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Setelah selesai, kami berdiri dan meninggalkan beliau. Sesampai di luar, saya berkata kepada rombongan : “Apakah kalian memiliki harta untuk kita berikan kepada Syaikh?” Kami mengumpulkan harta sampai mencapai lima mitsqal emas. Saya memanggil salah satu puterinya dan memberinya harta tersebut untuk diserahkan kepada ayahnya. Saya menunggu apa yang akan beliau lakukan. Ketika puterinya menemui beliau dan memberinya uang tersebut, beliau memukul wajahnya sendiri dan berkata : “Ah, alangkah hina nya, saya mengambil balasan dari hadits Rasulullah? Tidak, Demi Allah.” Beliau bangkit dari tempat tidurnya dengan tanpa alas kaki, dan memanggil saya dan sayapun mendatanginya. Beliau menangis dan berkata kepada saya : “Engkau menghina kami dihadapan para ahli hadits? Kematian lebih ringan bagiku dari yang demikian (mengambil harta dari balasan mengajar hadits).” Saya mengambil kembali emas tersebut dan menggembalikan nya kepada rombongan, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Lalu kami sedekahkan kepada orang-orang fakir.” [Fathul Mughits Syarah Alfiyatil Hadits (11/247), As-Sakhawi]


KISAH 33 : IBNU JAUZI

Imam Ibnu Jauzi Rahimahullah bercerita : “Ketahuilah wahai puteraku, sesungguhnya ayahku dahulunya kaya dan meninggalkan ribuan dirham. Ketika saya dewasa, ia memberi saya dua puluh dinar dan dua rumah seraya berkata kepada saya : “Inilah warisan semuanya” saya mengambil dinar tersebut untuk membeli kitab-kitab para ulama. Saya menjual kedua rumah tersebut dan saya gunakan untuk biaya belajar, sehingga tidak ada lagi harta yang tersisa buat saya.” [Lathaiful Kabid fi Nasihatil Walad, Ibnu Jauzi]

Beliau juga bercerita : “Saya telah menulis dengan dua jari saya ini 2.000 jilid kitab. Dan orang-orang bertaubat lewat tangan saya ini 100.000 orang.” [Tadzkiratul Huffazh (4/1242), Adz-Dzahabi]


KISAH 34 : YAHYA BIN MA’IN

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menyebutkan : “Ayah Yahya bin Ma’in Rahimahullah adalah seorang seketaris Abdullah bin Malik. Ketika wafat beliau meninggalkan (harta warisan) untuk Yahya Rahimahullah 1.500.000 dirham. Yahya membelanjakan seluruh nya untuk belajar hadits, tidak ada yang tersisa sampai sandal yang bisa dipakai (untuk berjalan).” [Tahdzibut Tahdzib (11/282), Ibnu Hajar]


KISAH 35 : ASY-SYA’BI

Imam Asy-Sya’bi Rahimahullah berkata : “Saya tidak pernah menulis diatas kertas hingga hari ini. Dan tidak ada seorangpun yang membacakan kepada saya sebuah hadits kecuali saya menghafalnya. Dan saya tidak ingin dia mengulanginya untuk saya.”

Beliau juga bercerita : “Saya tidak pernah menghafal sesuatu yang lebih sedikit dari sya’ir. Tetapi seandainya saya mau, saya akan bacakan syair itu satu bulan dan tanpa saya ulang.” [Siyar A’lam Nubala (4/301), Adz-Dzahabi]


KISAH 36 : HAJJAJ BIN ASY-SYA’IR

Hajaj bin Asy-Sya’ir Rahimahullah berkata : “Ibu ku pernah menyiapkan untuk ku seratus roti kering dan aku meletakkan nya didalam tas. Beliau mengutusku ke Syubbanih –yakni salah seorang ahli hadits- di Madain. Aku tinggal disana selama seratus hari, dan setiap hari aku membawa satu roti dan mencelupkan nya ke sungai Dajlah kemudian memakan nya. Setelah roti habis, aku kembali ke Ibu ku.” [Tadzkiratul Huffazh (2/550), Adz-Dzahabi]


KISAH 37 : ABDULLAH BIN ABU DAUD

Abdullah bin Abu Daud Rahimahullah bercerita : “Saya masuk ke Kufah –untuk mencari ilmu- dan saya hanya memiliki satu dirham. Saya membelikan 30 mud ful –yakni sejenis kacang-. Saya memakan nya sambil menulis kitab “Al-Asyaj Abdullah bin Said al-Kindi”. Setelah habis memakan nya, saya telah menulis 30.000 hadits yang terputus atau bergantung sanadnya.” [Tadzkiratul Huffazh (2/768), Adz-Dzahabi]


KISAH 38 : MUHAMMAD BIN AHMAD Al-BARQANI

Muhammad bin Ahmad Al-Barqani Rahimahullah berkata : “Saya masuk kekota Al-Asfarayin –untuk mencari ilmu- dengan membawa tiga dinar dan satu dirham. Tetapi dinar saya hilang dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Saya memberikan nya kepada sebuah toko dan setiap hari saya mengambil dua roti kering darinya. Saya belajar dari Bisyr bin Ahmad beberapa bagian dari kitab hadits. Saya masuk ke masjid Jami’ dan menulis hadits darinya. Beliau pulang untuk makan malam dan saya telah selesai menulis. Saya berhasil menulis 30 juz dari hadits dalam satu bulan. Setelah habis satu dirham yang ada ditoko, saya pun kembali ke negeri saya.”


KISAH 39 : ABU BAKAR BIN AL-ANBARI

Imam Abu Bakar bin Al-Anbari Rahimahullah melihat seorang budak wanita yang cantik lagi jelita di pasar sedang dijual. Dia tertarik kepadanya dan membelinya. Kemudian budak itu dibawa kerumahnya.

Ibnu Al-Anbari bercerita : “Saya disibukkan dengan mengkaji sebuah masalah dari beberapa masalah-masalah ilmiah. Hati saya menjadi terganggu dengan budak tadi dari mengkaji masalah-masalah tersebut. Saya menguruh pembantu saya untuk membawa budak tersebut ke pasar dan menjualnya. Dia tidak boleh mengganggu saya dari belajar ilmu. Pembantu saya membawanya ke pasar untuk menjualnya. Budak itu berkata : “Biarkan saya berbicara dengan Ibnu Anbari walau sekedar dua patah kata.” Dia membawa kesaya dan berkata : “Kenapa anda menjual saya, apakah saya memiliki catat / aib?”

Saya –Ibnu Anbari- menjawab : “Anda tidak memiliki aib, tapi anda mengganggu belajar saya. (yakni pikiran saya selalu teringat kepada mu)” Ketika kabar itu sampai ke Khalifah Al-Radli Billah, beliaupun berkata : “Tidak mungkin ada yang lebih manis dihati orang tersebut melebihi manisnya ilmu.” [Shafahaat min Shabril Ulama’, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah]


KISAH 40 : ABU NASHR AS-SAJZI

Abu Ishaq Al-Habbal Rahimahullah bercerita : “Suatu hari saya bertemu Abu Nashr As-Sajzi Rahimahullah. Seseorang mengetuk pintu dan saya membukakan nya. Tiba-tiba seorang wanita masuk dan mengeluarkan uang seribu dinar dari dalam tasnya, kemudian wanita itu menaruhnya didepan Syaikh Abu Nashr dan berkata : “Pergunakanlah ia sekehendakmu.”

Abu Nashr berkata : “Apa maksudmu?” Dia menjawab : “Anda menikah dengan saya. Saya sebenarnya tidak ada keinginan untuk menikah kecuali untuk berkhidmat kepadamu.” [Wanita itu menawarkan dirinya untuk dinikahi agar bisa berkhidmat dan membantu beliau sebagai penghormatan terhadap ilmu syari yang ada pada beliau]

Beliau memerintahkan wanita tersebut untuk mengambil uang nya dan berpaling darinya. Ketika ia telah keluar, Abu Nashr berkata : “Saya keluar dari Sajistan dengan niat untuk belajar dan bila saya menikah akan hilang nama ini. Saya tidak akan mendahulukan sesuatu apapun dari pahala menuntut ilmu.” [Tadzkiratul Huffazh (3/1119), Adz-Dzahabi]


KISAH 41 : ABDULLAH BIN HAMUD AZ-ZUBAIDI

Syaikh Abdullah bin Hamud Az-Zubaidi Rahimahullah belajar kepada Syaikh Abu Ali Al-Qaaly. Abu Ali memiliki kandang ternak di samping rumahnya. Beliau mengikat tunggangan nya disana. Suatu ketika, Abdullah bin Hamud az-Zubaidi tidur dikandang ternaknya agar bisa mendahului murid-murid Abu Ali yang lain nya untuk menjumpai sang Guru –yakni Abu Ali- sebelum mereka datang. Agar bisa mengajukan pertanyaan sebanyak mungkin sebelum orang berdatangan. Allah mentakdirkan Abu Ali keluar dari rumahnya diwaktu pagi sebelum terbit fajar. Az-Zubaidi mengetahui hal tersebut dan langsung berdiri dan mengikutinya dikegelapan malam. Merasa dirinya dibuntuti oleh seseorang dan khawatir kalau itu seorang pencuri yang ingin mencelakakan dirinya, Abu Ali berteriak dan berkata : “Celaka, siapa anda?” Az-Zubaidi menjawab : “Saya muridmu, Az-Zubaidi.” Abu Ali berkata : “Sejak kapan anda membuntuti saya.? Demi Allah tidak ada dimuka bumi ini orang yang lebih tahu tentang Nahwu daripada anda, pergilah dan tinggalkan saya.” [Inaabatur Ruwat ala Anbain Nuhaat (2/119), Al-Qifthy]


Demikianlah, 41 Kisah Para Ulama –semoga Allah merahmati mereka- yang kami pilihkan dari kitab Kaifa Tatahammas fi Thalabil Ilmisy Syar’i karya Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah. Yang sudah diterjemahkan dengan judul 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara. Cet Elba. Semoga bermanfaat.

Sumber:  Prima Ibnu Firdaus ar-Roni al-Mirluny

Sebarkan artikel ini :


Artikel Terkait :

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Aqidah

Ibadah

Nasehat

Hukum Islam

Penyejuk Hati

Faedah Ilmu