Mutiara Salaf

Label: Mutiara Hikmah dan Sya'ir


Muqoddimah

      Segala puji hanya untuk Allah semata, Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman yang tiada lagi nabi setelahnya, panutan dan qudwah serta nabi kita semua Muhammad, kepada keluarga beliau para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat datang. Amma ba'du

     Sesungguhnya ilmu bagaikan barang yang hilang dari seorang mukmin, yang mana dia akan mengambilnya di mana pun ia menemukanya, lantas bagaimana kalau sekiranya ilmu tersebut bersumber dari lisannya orang-orang yang telah mengenyam pendidikan al-Qur'an dan Sunnah, terdidik dengan ajaran al-Qur'an dan Sunnah serta meminum dari sumber aslinya, maka tidak perlu di ragukan lagi kalau hal tersebut akan lebih banyak memberi pengajaran pada orang-orang yang datang belakangan lebih khusus lagi pada kita semua, ilmu mereka menjadi contoh yang sempurna, dan permisalan yang tinggi di dalam sejarah umat, sehingga hasilnya seorang muslim pada zaman ini bisa mengambil metode dan petunjuknya mereka sebagai cahaya serta pelita untuk mengarungi kehidupan, di saat semua orang sedang kehausaan dan sangat membutuhkan contoh dan teladan yang baik seperti keadaan mereka, sebagaimana yang terjadi pada zaman akhir seperti sekarang.  

       Dan sesungguhnya di dalam buku-buku biografi serta siroh perjalanan para ulama Salaf sangatlah banyak di penuhi dengan kisah teladan dalam perjalanan hidup mereka, hikmah serta petuah-petuah mereka yang sangat menyejukkan hati, yang tetap kekal tercatat di dalam sejarah perjalanan umat manusia, serta tersimpan rapi di dalam tumpukan kitab perpustakaan Islamiah, maka pada kesempatan kali ini kami mencoba menukil dari sumbernya untuk di hidangkan pada para pembaca budiman dengan tidak mengurangi sikap ilmiah atau menghilangkan sikap amanah di dalam keakuratan menukil, sesuai dengan apa yang ada pada tulisan yang terpatri dengan tinta emas tersebut sebagaimana aslinya yang telah di goreskan oleh para ulama umat ini.

       Dengan menggunakan pena yang bersih mereka sanggup untuk menulis sesuatu yang bisa membangun serta menumbuhkan kejayaan dan peradaban umat bukan perkara yang malah menghancurkan serta memporak porandakan umat seperti yang banyak kita saksikan pada zaman kita sekarang ini, yang di lakukan oleh para penulis yang telah tertipu dan terbawa oleh arus pemikiran orang barat dan tertipu dengan kemajuan serta syubhat-syubhatnya meraka.

      Dan di antara buku-buku para ulama tersebut kami nukil untuk para pembaca yang budiman berbagai petuah serta hikmah yang telah terucap dan tersimpan dari sebagian besar para pembesar ulama umat ini, ini tidak lain dalam rangka menyebarkan ilmu dan teladan serta mengingat kisah perjalanan hidup mereka supaya kita bisa mengambil nilai pelajaran yang terkandung di dalamnya. Maka kami biarkan kepada para pembaca yang budiman sekalian untuk meringkas serta  mengambil sendiri pelajaran  yang terkandung di dalam petuah serta hikmah yang terucap dari lisan-lisannya meraka, sebagai pegangan untuk bisa tetap istiqomah di dalam memegang agama  ini, sehingga pada akhirnya bisa meluruskan hati serta akal secara bersamaan di atas pondasi yang kokoh. Inilah sedikit muqodimah dalam tulisan ini semoga bermanfaat. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta seluruh para sahabatnya semua.  

1. Al-Jama'ah (berkumpul.pent) harus sesuai dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala 

Di nukil dari kitab "Ighatsatul Lahfaan min Mashayidil Syithon" [1] karangan Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah, berikut nukilanya. 

      Imam Ibnul Qoyim mengatakan: "Kebenaran (yang hakiki) yaitu yang telah di wariskan oleh Jam'ah pertama dari mulai zamannya Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam serta para sahabat beliau, oleh karena itu janganlah terkecoh dengan banyaknya para ahli bid'ah setelah mereka". 

       Berkata Amr bin Maimun al-Awadi, "Saya menemani sahabat Mu'adz bin Jabal di Yaman, tidaklah saya berpisah dari beliau sampai saya melihat beliau meninggal di negeri Syam, kemudian setelah itu saya menemani orang yang paling faqih di antara manusia yaitu sahabat Abdullah bin Mas'ud semoga Allah meridhoinya, maka pada suatu ketika saya pernah mendengar beliau mengatakan, "Wajib atas kalian untuk berpegang di atas jama'ah, sesungguhnya tangan Allah bersama jama'ah". Pada kesempatan yang lain saya juga pernah mendengar beliau mengatakan, "Akan datang kepada kalian suatu masa para pemimpin yang mengakhirkan sholat dari waktunya, maka sholatlah kalian sendirian tepat pada waktunya karena dia adalah wajib bagimu, setelah itu sholatlah berjama'ah bersama mereka dan itu tercatat sebagai sholat sunah atas kalian". Maka saya katakan kepada beliau: "Wahai sahabat nabi Muhammad, saya tidak paham apa yang sedang engkau bicarakan kepada kami? Beliau menjawab: "Apa itu? Saya katakan: "Engkau (pernah) menyuruhku untuk berpegang erat-erat kepada jama'ah, lantas sekarang engkau mengatakan ;Sholatlah kamu sendirian, dan dia adalah sholat wajib bagimu, lalu sholatlah bersama jama'ah sedangkan dia adalah sholat sunah? Beliau lantas menasehatiku: "Wahai Amr bin Maimun, sungguh saya telah menyangka bahwa kiranya engkau adalah orang yang paling faqih di negeri ini, tahukah kamu apa itu al-Jama'ah? Jawab saya: "Tidak", beliau berkata: "Sesungguhnya jika kebanyakan jama'ah (manusia) telah menyilisihi al-Jama'ah itu sendiri, maka tinggalkan mereka karena sesungguhnya hakekat al-Jama'ah adalah sesuatu yang sesuai dengan kebenaran walau pun engkau sendirian".

      Dalam jalur riwayat yang lain, lalu beliau menepuk dadaku sambil berkata: "Celakalah engkau wahai Amr, sungguh jika kebanyakan manusia (sudah di ambang menyelisihi al-Jama'ah) maka tinggalkanlah meraka, sesungguhnya al-Jama'ah adalah sesuatu yang sesuai di atas ketaatan kepada Allah Azza wa jalla".

       Nu'aim bin Hamaad mengatakan: "Maksud perkataan beliau adalah jika manusia telah rusak maka wajib atas dirimu untuk tetap berpegang teguh dengan al-Jama'ah sebelum datangnya kerusakan (tersebut) walau pun kamu sendirian, maka dengan itu engkau tetap di katakan sedang berada di atas al-Jama'ah. Dan ucapan yang semakna dengan ini juga telah di katakan oleh Imam al-Baihaqi dan selain beliau".

2. Di pimpin oleh penguasa yang zalim selama tujuh puluh tahun itu lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin walaupun satu hari   

      Telah di sebutkan dalam sebuah kitab "Tartib al-Madaarik" karangan Qodhi Iyadh rahimahullah 2/493 ketika beliau sedang menjelaskan biografinya Imam ahli fikih Qur'us bin al-Abas bin Humaid ats-Tsaqofi Abu Fadhl al-Qurthubi al-Andalusi yang meninggal pada tahun 220 H, sebagai berikut:

      Imam Qodhi Iyadh mengatakan, "Beliau adalah salah seorang yang dituduh telah melakukan gerakan bawah tanah untuk memberontak dan keluar dari pemerintahan, maka beliau di giring bersama dengan orang-orang yang tertangkap, kemudian beliau di jongkokkan di bawah kaki supaya di penggal lehernya, lantas sang pemimpin berkata kepadanya, "Orang sepertimu yang telah di kenal dengan ke sholehan serta amanah di dalam menjaga ilmu, mau mengikuti orang-orang rendahan? Kalau sekiranya makar mereka berhasil berapa banyak kehormatan yang akan terobek serta kenistaan yang akan terjadi, sampai tegaknya pemimpin yang akan mendamaikan manusia". Maka beliau menjawab: "Celaka lah diriku sekiranya aku melakukan dan ikut terjatuh pada perkara semacam ini, dengan kedua tangan ku ini atau dengan lisanku. Sungguh saya pernah mendengar Imam Malik dan Imam ats-Tsauri keduanya pernah mengatakan, "Pemimpin yang zalim selama tujuh puluh tahun lebih baik bagi umat dari pada tidak ada pemimpin dalam satu hari". Maka pemimpin tersebut berkata kepadanya, "Kamu mendengar ini dari kedua imam tersebut? Beliau menjawab, "Sungguh kedua telingaku ini telah mendengar dari beliau". Lantas beliau pun di bebaskan. 

3. Masyarakat tidak mungkin bisa menjadi baik melainkan dengan keadilan 

       Di sebutkan dalam kitab "Bidayah wa Nihayah" oleh Ibnu Katsir dalam jilid 10/126 ketika beliau menjelaskan biografinya Khalifah al-Abas Abdullah bin Muhammad bin Ali Abu Ja'far al-Manshur rahimahullah, di mana beliau pernah mengatakan kepada anaknya al-Mahdi:

 "Sesungguhnya khalifah tidak layak di sandang kecuali oleh orang yang bertakwa, kepemimpinan tidak layak di pegang melainkan bagi orang yang taat kepada Allah, (ingatlah) masyarakat tidak akan menjadi baik melainkan jika di perlakukan dengan adil, (sedangkan) manusia yang terbaik adalah orang yang suka memberi maaf sedangkan dirinya mampu untuk memberi hukuman kepadanya, dan manusia yang paling sedikit akalnya adalah orang yang menzalimi orang lain yang di bawah kekuasaannya. Wahai anak ku senantiasa iringi sebuah nikmat dengan rasa syukur, sertai kekuatan dengan senang memberi maaf pada (orang lain), ketaatan dengan lemah lembut, dan ikuti kemenangan dengan rendah diri dan menyayangi orang lain, (dan) jangan lupakan (untuk mengambil) bagianmu di dunia serta bagianmu dari rahmatnya Allah Azza wa jalla".  

4. Kemarahan penguasa lebih ringan dari kemurkaan Allah Azza wa jalla 

     Di nukil dari kitab "Al-Aqdul Farid" karangan Ibnu Abdirabihi jilid 4/25, berikut salinan teksnya:

      Pada suatu hari Jami' al-Mahaaribi masuk pada Hajaj bin Yusuf  - Jami' al-Mahaaribi adalah seorang syaikh yang sholeh, penceramah ulung, cerdas dan berbudi pekerti, beliau adalah orang yang pernah mengatakan kepada al-Hajaj tatkala membangun kota Wasith, "Engkau membangunnya bukan di negeri asalmu, dan akan diwarisi oleh selain keturunanmu".

       Beliau menemui al-Hajaj, maka al-Hajaj mengeluh kepadanya tentang jeleknya perangai penduduk Iraq di mana mereka juga enggan untuk mentaatinya serta mengeluhkan buruknya pemikiran yang mereka miliki kepada beliau. 

     Syaikh Jami' berkata kepadanya: "Adapun mereka seandainya mereka mencintaimu tentu mereka akan mentaati dirimu, bersamaan dengan itu apa urusan mereka dengan dirimu, engkau tidak ada ikatan nasab dengan mereka, begitu juga ini bukan negerimu, tidak pula membuat engkau merasa tenang. Buang jauh-jauh dari pikiranmu yang membuat mereka malah bertambah jauh darimu lalu berpikirlah agar mereka bisa dekat denganmu, jadilah orang yang suka memaafkan kepada orang yang lebih rendah darimu maka orang yang di atasmu akan membalasnya, dan hendaklah ancaman itu selaras dengan (perkaranya), dan berilah mereka janji yang baik".

     Maka al-Hajaj menimpalinya: "Saya tidak ada pilihan lain supaya Bani al-Lukai'ah kembali mentaatiku melainkan dengan menggunakan pedangku ini".

     Di jawab oleh syaikh Jami': "Sesungguhnya jika pedang sudah bertemu dengan pedang, maka tidak ada lagi pilihan".

     Berkata al-Hajaj: "Pilihan pada waktu itu diserahkan kepada Allah Ta'ala".
Beliau menjawab: "Benar perkataanmu, namun kamu tidak tahu pada siapa Allah akan menjatuhkan pilihanya".

      Al-Hajaj menukas perkataan beliau: "Sungguh dirimu termasuk orang yang pandai berperang, bukankah begitu".

Beliau lantas menjawab dengan untaian bait syair:
Al-Harb itulah nama kami, dan kami orang yang pandai berperang
 Jika kami berperang tentu dengan sebab yang benar 

    Al-Hajaj berkata: "Demi Allah, sungguh saya berkeinginan untuk mencabut lidahmu lalu saya pukul wajahmu".

Syaikh Jami' menjawab: "Jika kami berkata jujur kami membuat kamu marah, namun jika kami berpura-pura dan membuat kamu senang maka kami telah membuat Allah murka, dan kemarahan pemimpin itu lebih ringan dari pada kemurkaan Allah Azza wa jalla". 

Al-Hajaj mengatakan: "Benar (apa yang kamu katakan)", kemudian beliau pun diam. 

5. Seorang Khalifah yang kekuasaanya tidak lebih dari segelas air 

    Telah di sebutkan dalam kitab "Syadzraat dzahab fii akhbaari man dzahaba"  karangan Ibnul Amaad al-Hanbali juz 1/336, ketika menjelaskan biografinya Khalifah Harun ar-Rasyid rahimahullah, berikut nukilannya:

     Pada suatu hari Ibnu Samak pernah masuk ke istana Harun ar-Rasyid, maka ar-Rasyid meminta untuk di hadirkan air minum untuknya. Berkata Ibnu Samak kepada beliau: "Wahai amirul mu'minin, demi Allah (saya bertanya kepadamu, jika seandainya engkau terhalangi (oleh penyakit dan tidak bisa meminum air ini kecuali harus mengobati terlebih dahulu, berapa dirham akan engkau bayar? Beliau menjawab: "Dengan setangah kerajaanku". Ibnu Samak bertanya lagi: "Kalau seandainya setelah kamu meminumnya lantas tidak bisa keluar dari badanmu, berapa banyak akan kamu bayar? Beliau menjawab, "Dengan setengahnya lagi dari kekuasaanku". Ibnu Samak lantas mengatakan kepadanya, "Sungguh kerajaanmu nilainya tidak lebih dari segelas air, oleh karena itu tidak selayaknya untuk saling berlomba-lomba untuk mendapatkanya". 

6. Diamlah, Fir'aun binasa salah satunya karena campur tangan Hamaan 

       Di sebutkan sebuah kisah dalam kitab "Siraajul Muluuk" hal 51, demikian juga dalam kitab "al-Wara'" oleh Imam Ahmad hal: 162, juga dalam kitab "Muqodimah Jarh wa Ta'dil" hal 14, ketika sedang menjelaskan biografinya Imam al-Qudwah, ahli ibadah, yang fakih Sufyan bin Sa'id bin Masruuq ats-Tsauri al-Kufii rahimahullah, sebagai berikut:

       Berkata Sufyan ats-Tsauri, "Ketika Abu Ja'far al-Mansyur melaksanakan ibadah haji, dirinya berkata: "Sekarang saya membutuhkan Sufyan sebagai pemandu ibadahku". Maka para pengawalnya pun sibuk menyebar di sekitar Ka'bah guna mencari dan mengawasiku, mereka pun menemukanku ketika hari sudah menjelang malam lalu saya di bawa untuk menghadap kepadanya, ketika saya sudah berdiri di hadapannya, dia menyuruh supaya saya mendekat kepadanya, kemudian mengatakan: "Kenapa kamu enggan untuk mendatangi kami, supaya kami bisa meminta pendapat serta fatwa darimu dalam urusan kami, apa yang kamu perintahkan kepada kami, kami akan mematuhinya, dan apa yang kamu larang untuk kami, kami akan menjauhinya".

         Maka saya bertanya kepadanya, "Berapa banyak uang yang telah engkau keluarkan untuk perjalanan ibadah ini?

Dia menjawab: "Saya tidak tahu pastinya, tapi saya punya orang-orang yang amanah yang bisa saya percayai".

          Lalu saya katakan: "Dengan apa kamu akan memberi alasan esok (pada hari kiamat), ketika dirimu berdiri di hadapan Allah Azza wa jalla, manakala Allah bertanya kepadamu tentang harta tersebut? sedangkan kamu hanya mempercayakan kepada orang lain, Akan tetapi (lihatlah kepada) Umar bin Khatab semoga Allah meridhoinya tatkala pergi menunaikan haji, beliau bertanya kepada pembantunya: "Berapa banyak biaya yang telah kamu keluarkan untuk perjalanan ini? Pembantunya menjawab: "Wahai Amirul Mu'minin, (biaya yang di keluarkan semuanya) delapan belas dinar".

           Dia menjawab: "Apa engkau menyangka kalau kami menggunakan harta (tersebut) dari baitul muslimin, bukankah kamu telah mengetahui apa yang pernah di ceritakan kepada kita oleh Mansyur bin Amaar sedangkan engkau hadir pada saat itu, sebagai orang pertama yang menulis hadits darinya di antara orang-orang yang berada di majelis tersebut, (dia mengatakan, telah meriwayatkan) dari Ibrahim dari al-Aswad dari al-Qomah dari sahabat Ibnu Mas'ud bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa salam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :(( رب متخوض في مال الله ومال رسول الله فيما شاءت نفسه له النار غدًا )) [رواه الترمذي وصححه الأبلباني]
"Celakalah bagi orang yang mencampur aduk (antara hartanya dengan) harta Allah dan harta RasulNya sesuai yang dia inginkan, karena pada hari kiamat nanti tempatnya di neraka".   HR. Tirmizi dan disahihkan oleh al Bani

        Abu Ubaid seorang bendaharanya mengatakan: "Apakah Amirul Mu'minin terima di perlakukan seperti ini?
Maka Sufyan berkata kepadanya: "Diamlah, hanyalah saja yang membuat hancur Fir'aun adalah Hamaan, demikian pula sebaliknya".

7.  Juallah dunia lalu ambil akhiratmu pasti engkau akan beruntung 

         Di kisahkan dalam kitab "Tahdzibul Kamal"  juz 6/116, begitu juga dalam kitab  "Hilyah Auliyaa" karangan Abu Nu'aim  juz 2/143, ketika sedang menjelaskan biografinya Imam al-Qudwah pembesarnya para Tabi'in dan salah seorang ahli zuhud yang sangat terkenal yaitu al-Hasan bin Abu Hasan, Abu Sa'id al-Basri rahimahullah, berikut nukilannya:

         Abdul Mu'min bin Ubaidillah dari Hasan Basri, telah menceritakan kepada kami, "Wahai anak Adam, amalanmu, amalanmu, dia adalah bagian dari darah dan dagingmu, lihatlah di mana kamu letakan amalanmu tersebut, sesungguhnya ahli takwa mempunyai tanda yang mereka bisa di ketahui dengannya, (yaitu) jujur ketika berkata, menetapi janji, menyambung tali silaturahim, sayang kepada orang lemah, tidak suka berbangga diri apalagi menyombongkan diri, suka menolong, tidak suka beradu ketenaran bersama orang lain, berbudi pekerti, senang membantu makhluk dengan perkara yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.

         Duhai anak Adam, sesungguhnya kamu seperti permisalan dari amalan yang engkau kerjakan, hanya engkau yang bisa menimbang baik dan buruknya, janganlah sekali-kali kamu sepelekan perbuatan baik sekecil apa pun, dia kecil di matamu namun jika kamu harus merasa senang dengannya karena bisa mengerjakanya, dan jangan kamu remehkan sedikitpun dari perbutana jelek, oleh karena itu pandanglah ia dengan keburukan.

        Semoga Allah merahmati seseorang yang bekerja dengan baik, dengan tujuan untuk bisa berinfak, memilih hidup miskin dari pada untuk mendapat keutamaan, duhai sungguh sangat sayang dunia telah pergi dengan segala angan-angannya, (sekarang) yang tersisa hanyalah amal sholeh yang terkalung di pundak-pundak kalian, kalian sibuk dengan jual beli bersama manusia, sedangkan waktu telah membelimu, dan sungguh kalian telah kalah sigap untuk bisa menjatuhkan pilihan, maka apa lagi yang kalian tunggu? Seolah-olah kalian sudah mendapat jaminan, (ketahuilah) sesungguhnya tidak ada lagi kitab setelah kitab kalian ini (maksudnya al-Qur'an), tidak pula ada nabi setelah nabi kalian.

      Duhai anak Adam, juallah duniamu dengan akhiratmu maka engkau akan mendapat keuntungan pada keduanya, namun jangan sekali-kali kamu jual akhiratmu dengan duniamu karena engkau akan merugi selama-lamanya". 

8. Pengkhianat akan di telantarkan sedangkan orang yang ingkar janji pasti akan di benci 

      Di kisahkan dalam kitab "Qoshoshul Arab" juz 3/80 yang di riwayatkan dari jalur Amr bin Hafs mantan budak al-Amin, bahwasanya dia pernah berkata:

"Pada suatu ketika saya masuk ke ruangan Muhammad bin al-Amin pada pertengahan malam, dan saya termasuk orang dekatnya yang bisa masuk ke ruangannya kapan saja saya inginkan, yang mana tidak mungkin seorangpun dari para pelayan lainnya yang bisa masuk kepadanya, maka saya mendapati beliau sedang mendunduk sambil merenung sedangkan lentera kecil berada di hadapanya, saya ucapkan salam, namun beliau tidak menjawabnya, dari situ saya mengetahui kalau dirinya sedang berpikir tentang sebagian urusanya, saya pun tetap berada pada tempat saya berdiri sampai malam jauh meninggalkan kami, tidak lama kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu berkata kepada saya: " Tolong panggilkan Khuzimah bin Khaazim". Saya pun berpaling pergi ke tempatnya Khuzaimah bin Khazim lalu menghadapkan kepada beliau, maka saya dapati mereka berdua berada dalam diskusi yang berat sampai malam pergi menjelang pagi, di antara pembicaraanya, saya mendengar Khuzimah berkata: "Demi Allah, wahai Amirul Mu'minin saya bertanya kepadamu, akankah engkau senang kalau di katakan sebagai khalifah pertama yang mengingkari janji pada zamannya, melepas ikatan yang sudah sangat kuat, menganggap rendah orang-orang yang berada di sekelilingnya dan menolak gagasan dari khalifah yang sebelumnya".

       Beliau menjawab: "Diamlah, celakalah bapakmu, sungguh  Abdullah bin Khazim lebih bagus pendapatnya dari pada pendapatmu, lebih sempurna di dalam menilai, yang mana dia mengumpulkan solusinya sebelum memberi kata putus".

       Kemudian pada keesokan harinya beliau mengumpulkan para punggawanya, lalu mengungkapkan kepada mereka satu persatu apa yang menjadi keinginannya, namun mereka enggan untuk mematuhinya hanya sedikit saja yang mau menyanggupinya, hingga sampai perkara tersebut kepada Khuzaimah bin Khaazim, mereka pun meminta pendapatnya di dalam masalah tersebut. Lantas dia pun datang menghadap kepada khalifah lalu berkata kepadanya, "Wahai Amirul Mu'minin, tidak ada orang yang tertawa kepada orang-orang yang mendustakanmu, orang  yang jujur tidak akan menipumu, jangan sekali-sekali menggiring para punggawa untuk melepas ba'iatnya karena akan berakibat mereka melepasnya, jangan bebani mereka supaya melanggar perjanjian karena akan berakibat kepada mereka untuk melanggar sumpah dan ba'iatnya kepadamu, (ketahuilah) sesungguhnya seorang pengkhianat itu akan di tinggalkan sedangkan orang yang melanggar janji pasti akan di benci".

9. Jangan lupakan saudaraku sekalipun wajahku telah tiada karena mereka akan tetap mengingatku 

           Di kisahkan dalam kitab "Tahdzibul Kamal"  juz 22/37 ketika penulis sedang menjelaskan biografinya seorang ulama Tabi'in yang mulia Amr bin Sa'id bin Ash Abu Umayah al-Quraisyi al-Umawi yang lebih di kenal dengan nama al-Asydaq rahimahullah, berikut nukilannya:

           Kisah ini di riwayatkan oleh Abdul malik bin Amiir dari bapaknya, ia berkata: "Tatkala Sa'id bin Ash sudah dekat dengan ajalnya, beliau mengumpulkan semua anak-anaknya, lalu bertanya kepada mereka semua, "Siapa yang sanggup menanggung hutangku? Mereka semua menunduk diam. Beliau bertanya kembali, "Kenapa kalian tidak ada yang menjawabnya?

           Maka Amr al-Asydaq menjawab dan beliau adalah seorang pembesar asy-Syadaqoin, "Wahai bapakku berapa (besar) hutangmu? Bapaknya menjawab: "Tiga puluh ribu dinar".

"Duhai bapakku engkau gunakan untuk apa saja (uang sebanyak itu)" tanya Amr, bapaknya menjawab: "Untuk kebaikan yang saya kira tepat sasarannya, dan untuk menebus hutang orang fakir yang sudah tidak sanggup membayar hutangnya". "Sudah itu semua biar saya yang menanggungnya" jawab Amr.

       Berkata Sa'id kepadanya, "Saya lega masalahku sudah selesai satu, tapi aku masih punya dua masalah lagi".

       Amr bertanya, "Apakah itu, wahai bapakku?
Dia menjawab, "Jangan nikahkan anak perempuanku  melainkan dengan orang yang setara denganya walau hanya dengan sedikit roti dan gandum".

      Amr menjawab: "Akan saya tunaikan pesanmu".
Bapaknya berkata kembali: "Satu tanggunganku sudah beres, tinggal satu beban lagi".
Amr bertanya: "Apa itu wahai bapakku?

       Bapaknya menjawab: "Saudaraku walau pun mereka sudah kehilangan wajahku namun mereka tetap masih mengenalku (maksudnya jalinlah hubungan baik bersama mereka.pent)".

Amr menjawab: "Akan saya tunaikan pesanmu".
Sa'id berkata: "Adapun sungguh demi Allah apa yang kamu ucapan, saya telah mengetahuinya dari pandangan matamu, semoga kamu di beri kemudahan (untuk melakukanya)".

       Kemudian beliau melanjutkan perkataanya, "Tidak pernah saya mencaci seorang pun semenjak saya menjadi orang, tidak pernah pula saya merasa terbebani oleh orang lain yang meminta kepadaku, dan dia selalu dalam keadaan aman dari saya sampai dirinya mampu melunasinya, jika memang dia membutuhkannya".  

10. Tidak ada yang paham bagaimana cara memuliakan ahli fadhilah melainkan orang-orang yang mempunyai fadhilah (keutamaan) juga. 

           Di kisahkan dalam kitab "Tarikh Baghdad" karangan Khathib al-Baghdadi juz 14/15, demikian pula di kisahkan dalam kitab "Al-Wafiyaat" karangan Ibnu Khulakaan juz 2/228, ketika sedang menjelaskan biografinya Imam ahli bahasa dan nahwu, imamnya orang-orang Kufah di dalam masalah nahwu yaitu Yahya bin Ziyad al-Faraa al-Kufii yang meninggal pada tahun 208 H rahimahullah. Berikut kisahnya:

         Adalah sang khalifah al-Ma'mun telah memberi tugas pada al-Faraa untuk mengajari dua anaknya ilmu nahwu, pada suatu hari setelah selesai mengajar,  al-Faraa bangun ingin menyelesaikan sebagian keperluanya, maka keduanya berebut untuk mengambilkan sandal gurunya al-Faraa, keduanya saling berebut ingin mengambilkan sandalnya, lalu al-Faraa memutuskan supaya keduanya mengambil sandal tersebut satu orang satu, sehingga tidak ada yang merasa kecewa, keduanya pun melaksanakan titah gurunya, setiap orangnya mengambil satu sandal lalu di kasihkan kepada gurunya. Sedangkan al-Ma'mun pada setiap perkaranya pasti mempunyai pelayan yang selalu mematai-matai guna mencari berita yang bisa di sampaikan kepadanya, sampailah berita tersebut kepadanya, maka di tulislah perintah untuk memanggil al-Faraa supaya menghadap kepadanya, ketika beliau sudah berada di hadapannya, berkatalah al-Ma'mun kepadanya: "Siapa orang yang paling mulia di antara manusia? Beliau menjawab: "Saya tidak mengetahui ada orang yang lebih mulia (kedudukannya) melainkan paduka Amirul Mu'minin".

        Jawab al-Ma'mun: "Tentu, lantas siapa orangnya (kedudukannya apa) jika putera pangeran kaum muslimin rela saling berebut hanya untuk mengambilkan kedua sandalnya, sampai-sampai keduanya merasa senang (dengan keputusanya) supaya setiap orang mengambil satu bagian sandal".

        Beliau menjawab: "Wahai Amirul Mu'minin, sungguh saya sudah berusaha mencegah keduanya untuk melakukan hal tersebut, akan tetapi saya takut kalau sekiranya saya jadi mencegah mereka malah membikin hilang sifat memuliakan orang yang telah ada pada mereka, dan membikin kecewa serta sakit hati dengan kebaikan yang keduanya miliki, yang mana mereka begitu semangat untuk memberikannya pada orang lain, sungguh telah di riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya beliau memegang (hewan tungganganya) untuk Hasan dan Husain sampai keduanya keluar dari pandanganya, maka ada salah seorang yang menyeletuk kepada beliau: "Apakah engkau mau memegangi hewan tunggangan bagi dua bocah itu, sedangkan engkau lebih berumur darinya". Beliau pun marah kepadanya, lalu berkata: "Diamlah wahai orang yang bodoh, sungguh (benar) tidak ada orang yang bisa memahami bagaimana memulaikan orang yang mempunyai keutamaan melainkan orang-orang yang punya kemuliaan".

         Mendengar hal tersebut lalu al-Ma'mun berkata kepadanya: "Kalau sekiranya engkau jadi  mencegah kedua anakku tentu engkau akan saya beri ganjaran yang tidak ringan, dan saya anggap  kamu telah perbuatan suatu kesalahan yang besar, yang di lakukan oleh kedua anakku tidaklah mengapa, walaupun mereka mempunyai kemuliaan namun tidak menjadikan jatuh martabatnya bahkan yang ada malah mengangkat derajatnya, sehingga menjadi jelas keindahan akhlaknya, saya sudah memahami apa yang telah di perbuat oleh kedua anakku, seseorang tidak lah di anggap dewasa -walaupun sudah berumur-  dari tiga perkara: tawadhu bersama pemimpinya, kedua tawadhu kepada kedua orang tuanya dan yang terakhir tawadhu kepada orang yang mengajari ilmu kepadanya, dan saya sudah menyiapkan hadiah untuk keduanya sebanyak seribu dinar, sedangkan untuk kamu saya siapkan sepuluh ribu dinar atas bagusnya akhlak yang telah kamu tanamkan kepada anak-anakku".

11. Bersalah di dalam kebenaran lebih saya sukai dari pada menjadi pemimpin dalam kebatilan 

           Di ceritakan oleh al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqolani di dalam kitabnya beliau "Tahdzibu Tahdzib" juz 7/7 ketika sedang menjelaskan biografinya Ubaidillah bin al-Hasan al-Anbari, salah seorang pemimpin di negeri Basrah dan juga salah seorang ulama mereka, di sampan itu beliau adalah seorang qodhi.

          Beliau berkata: "Telah mengkisahkan Abdurahman bin Mahdi –beliau adalah salah seorang muridnya- pada suatu hari ketika kami sedang menghadiri sholat jenazah, saya pernah bertanya kepada beliau suatu masalah, maka beliau sedikit keliru di dalam memberi jawabanya, sehingga saya katakan kepadanya: "Semoga Allah menjagamu, pendapat yang benar adalah begini dan begini".

         Kemudian beliau terdiam beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya lalu berkata: "Kalau benar demikian masalahnya maka saya kembali kepada kebenaran, sungguh saya keliru dalam suatu masalah serta berbuat salah (dengan tidak sengaja) di dalam kebenaran lebih saya cintai dari pada (tetap bertahan) dan menjadi pemimpin di dalam kesalahan". 

12. Biarkan udzur kesalahan orang lain dan jangan di ikuti 

            Di sebutkan dalam kitab "Washoya Ulama 'indal maut"  hal 69-70 yang di riwayatkan oleh asy-Sya'bi.

            Beliau mengatakan, "Ketika Abdullah bin Mas'ud berada pada saat menjelang wafatnya, beliau memanggil anaknya, kemudian berwasiat kepadanya: "Wahai anakku Abdurahman bin Abdullah bin Mas'ud, sesungguhnya saya berwasiat kepadamu lima perkara maka jagalah wasiat ini; tunjukan kepada manusia jika dirimu tidak butuh pada bantuan (harta) mereka, maka kamu akan meraih kekayaan yang hakiki, tinggalkan senang meminta-minta pada orang lain karena sesungguhnya itu merupakan kefakiran yang akan selalu menghantuimu, berilah orang lain udzur jika melakukan kesalahan dan jangan sekali-kali engkau tiru kesalahannya, berusahalah untuk selalu beramal pada hari ini dan usahakan amalanmu lebih baik dari kemarin, jika kamu mengerjakan sholat maka sholatlah seperti sholatnya orang yang akan berpisah seakan-akan dirinya tidak akan sholat lagi setelahnya (maksudnya akan meninggal.pent)". 

13. Orang yang menang pada hari ini adalah orang yang di ampuni dosa-dosanya 

           Di kisahkan dalam kitab "al-Jalisu Sholeh" karangan al-Kafii juz 4/ 60-61 yang di riwayatkan oleh al-Madaaini, beliau berkata: "Pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkhotbah di Arafah di hadapan manusia yang sedang melakukan wukuf di sana, di antara isinya beliau mengatakan setelah selesai memuji dan mengagungkan Allah Subhanahu wa ta'ala, "Wahai manusia sekalian, sesungguhnya kalian telah datang (ke tempat ini) dari segala penjuru, ada yang datang dari tempat yang jauh ada pula yang datang dari tempat yang dekat, (pada hari ini) sholat dhuhur telah kalian laksanakan, pakaian kalian pun sudah berdebu dan lusuh, (ketahuilah) sesungguhnya orang yang menang pada hari ini bukan lah orang yang mampu melewati orang lain dengan hewan tunggangannya namun orang yang menang (pada hari ini) adalah orang telah di ampuni dosa-dosanya". 

 14. Rambutnya Mu'awiyah Radhiyallahu 'anhu 

         Telah di sebutkan dalam kitab "Uyunul akhbar" karangan Ibnu Qutaibah juz 1 / 62 sebuah kisah dari Mu'awiyah Radhiyallahu 'ahnu, berikut kisahnya:

         Mu'awiyah berkata, "Saya tidak pernah menggunakan pedangku ini jika saya rasa pecutku sudah cukup, dan saya tidak pernah menggunakan pecutku jika saya rasa lidahku sudah sanggup menggantikannya, kalau seandainya ada rambut yang menghubungkan antara diriku dengan orang lain, tentu saya tidak akan berani memotongnya".

        Maka ada yang bertanya kepada beliau: "Apa maksudnya? Beliau menjawab: "(Yaitu) jika mereka menyambung persahabatan denganku maka saya terima (dengan senang hati), dan jika persahabatan telah terjalin maka saya tambah pererat lagi".

  15. Keluarkan uang yang bukan hakmu 

        Di sebutkan sebuah kisah dalam kitab "Uyunul akhbar" karangan Ibnu Qutaibah juz 1/116 tentang kepemimpinan khalifah Umar bin Khatab Radhiyallahu 'anhu, berikut kisahnya:

        Kisah ini di riwayatkan dari Isma'il bin Abu Khalid dari Ashim, beliau berkata, "Adalah Umar bin Khattab jika beliau mengutus seorang pegawai, maka beliau memberi empat syarat kepadanya; supaya tidak menaiki al-Baraadziin,[2] tidak memakai pakaian yang tipis menerawang, tidak memakan makanan an-Naqo,[3] dan yang terakhir tidak mengambil pengawal yang bertugas membukakan pintunya.

        Pada suatu hari Umar bin Khattab lewat pada sebuah bangunan yang di bangun dengan batu dan di tembok yang indah, maka beliau bertanya pada orang-orang yang berada di sekelilingnya: "Rumah siapakah ini? Mereka menyebutkan bahwa rumah tersebut adalah milik pegawainya yang biasa beliau utus ke negeri Bahrain. Maka berkatalah Umar: "Apakah dia telah memotong dirham yang saya amanatkan, hitunglah kekayaannya lalu bagilah menjadi dua".  

16. Janganlah kalian merasa bosan untuk menulis ilmu karena dengan itu kalian akan memperoleh derajat di dunia dan di akhirat 

         Di kisahkan dalam sebuah kitab "Tartibul Madarik" karangan Qodhi Iyadh juz 2/477 ketika sedang menjelaskan biografinya Asad bin al-Faraat seorang Imam dalam masalah ilmu dan salah seorang sahabatnya Imam Malik rahimahullah, berikut kisahnya:

        Ketika Asad keluar menuju kota Susah - sebuah kota di negeri Tunisia yang dekat dengan pantai- untuk bertolak dari sana menuju kota Shoqliyah, maka keluar bersama dirinya sekumpulan para ulama dan manusia yang selalu mengelilingi beliau, bahkan di antara mereka ada yang menyuruh supaya tidak ada seorang pun yang ketinggalan untuk menemani beliau, maka ketika beliau melihat manusia yang begitu banyak berada di sekelilingnya, dan kuda pun banyak yang meringkik, maka di pukullah rebana dan dikibarkan bendera.

        Beliau pun lalu berkata, "Tidak ada Ilah yang berhak untuk di sembah dengan benar melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagiNya, wahai kaum muslimin semuanya, sungguh demi Allah, tidak ada darah pemimpin yang mengalir dari bapak saya tidak pula dari kakek saya, dan saya tidak pernah melihat seorang pun dari para penghuluku yang (perlakukan) seperti ini, ketahuilah tidak ada sebab yang menjadikan saya seperti sekarang melainkan dengan pena, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam mencatat ilmu, dan janganlah pernah menyerah untuk mengumpulkan ilmu, karena dengan sebab itu kalian akan memperoleh derajat di dunia dan di akhirar".

17. Sungguh mengherankan orang kafir bisa selamat darimu namun saudaramu sesama muslim tidak bisa selamat 

       Telah di kisahkan dalam kitab "Bidayah wa Nihayah" karangan Imam Ibnu Katsir pada juz  yang ke 9/336, ketika sedang menjelaskan biografinya Iyaas bin Mu'awiyah al-Muzni seorang qodhi di kota Basrah dan ulamanya mereka, dan kisah ini di riwayatkan melalui jalur Sufyan bin Husain al-Wasithi, beliau mengkisahkan ceritanya:

       "Pada suatu hari saya pernah mengucapkan kalimat yang buruk kepada seseorang di hadapan Iyaas bin Mu'awiyah al-Wasithi, beliau adalah seorang qodhi di kota Basrah – dan beliau adalah seorang tabi'in yang di kenal dengan kecerdasan akalnya - (mendengar ucapanku) tadi, beliau lalu melihat ke arah wajahku dengan tajam, seraya mengatakan: "Apakah kamu pernah ikut perang melawan Romawi? Saya jawab: "Tidak pernah". Beliau berkata: "Sungguh mengherankan orang-orang Romawi, Sanad, India dan Turki bisa selamat dari mu, kemudian saudaramu yang muslim tidak bisa selamat?!

       Sufyan pun berkata, "Setelah kejadian itu saya tidak pernah lagi mengulanginya –yaitu suka mengejek orang lain atau mengghibahnya-". 

18. Jawabannya apa yang kamu lihat bukan yang kamu dengar 

         Di kisahkan dalam sebuah kitab "Tarikh Baghdad" jilid ke 3/344 kisah ini juga ada di dalam kitab "Bidayah wa Nihayah" jilid ke 10/296, demikian juga dalam kitab "Siyar a'lamu Nubala" jilid 10/291 karangan Imam Dzahabi, kisah ini datang ketika sedang menjelaskan biografinya Khalifah Mu'tashim Abu Ishaq Muhammad bin Roshid al-Abasi, kisah lengkapnya sebagai berikut:

        Berkata ar-Riyaasi, "Thoghut Romawi menulis surat yang di tujukan kepada sang Khalifah Mu'tashim dengan mengancam supaya segera membalasnya, ketika di sampaikan kepada Khalifah, setelah selesai di baca, beliau pun geram sambil melempar surat tersebut, sambil berkata kepada juru tulisnya: "Tulislah, amma ba'du, saya sudah membaca suratmu, dan telah saya dengar ajakanmu, maka jawabanya adalah apa yang kamu lihat bukan yang kamu dengar (lalu di tulislah ayat) :
قال الله تعالى: { وَسَيَعۡلَمُ ٱلۡكُفَّٰرُ لِمَنۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ  } [الرعد: 42
"Dan orang-orang kafir akan mengetahui untuk siapa tempat kesudahan (yang baik) itu".  (QS ar-Ra'du: 42). 

19. Ulama kalian masih ada namun orang-orang yang bodoh enggan untuk belajar padanya 

          Diriwayatkan dalam kitab "al-Hilyah"  jilid ke 2/213 demikian juga di dalam kitab "Shofatu Shofah" jilid ke 1/628 dari Dhohak  beliau berkata: "Telah berkata Abu Darda Rodhiyallahu anhu:

"Wahai ahli Damaskusi! Kalian semua adalah saudaraku seagama, tetanggaku dalam lingkungan, (namun sayang kalian adalah para) pembela musuhmu sendiri, apa yang mencegah kalian enggan untuk menyayangiku? Sehingga saya mencari pertolongan kepada selain kalian, saya tidak melihat ulama kalian telah pergi, saya juga tidak  melihat orang-orang bodoh enggan untuk belajar? Namun yang saya lihat kalian telah mangkir dan meninggalkan apa yang seharusnya kalian jamin.

       Ketahuilah sesungguhnya sebuah kaum yang di bangun di atas kebakhilan, walau pun berkumpul dan bersatu dengan cita-cita yang tinggi namun kenyataannya cita-cita tersebut (menipu) yang jauh melambung ke depan, sehingga akibat yang terjadi adalah bangunan yang telah di bina bagaikan kuburan, cita-cita yang di harapkan membikin lupa daratan dan persatuan yang mereka raih tidak menjadikan kerukunan namun yang terjadi malah membikin saling tentang.

       Oleh karena itu belajarlah kalian ilmu agama, namun jangan lupa setelah itu ajarkan kepada orang lain, karena sesungguhnya orang yang alim dan orang yang sedang belajar dalam masalah mendapat pahala sama kedudukanya, kemudian ketahuilah bahwa tidak ada lagi kebaikan yang dapat di harapkan di kalangan manusia setelah keduanya hilang di antara mereka". 

20. Lezatnya mencari dan menghafal ilmu lebih nikmat dan lezat dari pada menjadi menteri 

        Telah di sebutkan dalam sebuah kitab karangan Imam adz-Dzahabi "Tadzkirotul Hufaadz" jilid yang ke 3/915 sebuah kisah yang sangat menakjubkan tentang keberadaan ulama salaf dengan ilmu, kisah tersebut di sebutkan beliau ketika sedang menjelaskan biografinya ulama Hufadz bahkan salah seorang pembesarnya dan juga seorang Imam yang kokoh Abu Qosim Sulaiman bin Ayub ath-Thabrani asy-Syami rahimahullah, berikut kisahnya:

       Kisah ini di riwayatkan dari Ibnul Amiid, di mana beliau berkata, "Saya tidak pernah mengira di dunia ini ada yang lebih nikmat dan lezat melainkan enaknya menjadi seorang menteri seperti keberadaanku sekarang ini, sampai pada suatu ketika saya melihat sebuah diskusi ilmiah antara ath-Thabrani dan al-Ja'ani di hadapanku.

       Adalah ath-Thabrani sering mematahkan perkataan lawan debatnya dengan hafalanya yang sangat luas dan banyak, sedangkan Abu Bakar (al-Ja'ani) mampu mematahkan perkataan lawan debatnya dengan kecerdasanya, kejadian itu sampai terdengar suara masing-masing yang kadang saling meninggi.

       Sampai pada giliranya al-Ja'ani mengatakan kepada beliau, "Saya memiliki sebuah hadits yang tidak ada di kolong langit ini yang mempunyainya melainkan saya".

    Beliau menjawab: "Sebutkanlah". Lantas dirinya mulai menyebutkan sanadnya: "Telah menceritakan kepada kami Abu Khalifah, dia berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ayub", kemudian beliau menyebutkan haditsnya secara sempurna.

        Maka berkatalah ath-Thabrani: "Saya adalah Sulaiman bin Ayub itu, dan dari saya lah Abu Khalifah itu mendengar hadits tersebut, dia mendengar dengan ijazah yang tinggi dari saya". Maka al-Ja'ani menjadi merah mukanya karena merasa malu. Maka Ibnul Amiid mengatakan setelah menyebutkan kisah di atas: "Saya berandai-andai sekiranya tidak menjadi menteri seperti sekarang tapi menjadi ath-Thabrani yang merasa bahagia seperti kebahagianya".      
                       
21. Tidak layak bagi seorang mukmin membalas kemarahan yang terjadi di masa lampau 

        Kisah ini di nukil dari kitab "Tarikh Baghdad" pada juz yang ke 9/66 ketika penulis sedang menjelaskan biografi Sa'id bin Sulaiman al-Madini al-Masaahiqi rahimahullah, beliau adalah seorang qodhi dan juga seorang Imam yang terkenal di dalam keilmuannya, berikut nukilannya:

        Nufail bin Maimun menceritakan, "Sa'id bin Sulaiman pernah datang kepada Abdullah bin Muhammad bin Imran sebagai saksi (dalam sebuah perkara), namun Ibnu Imran menolak persaksianya. Tatkala Sa'id bin Sulaiman di tunjuk sebagai seorang qodhi, Abdullah bin Muhammad bin Imran datang kepada beliau sebagai saksi dalam sebuah perkara, maka beliau mengambil persaksianya lalu memeriksanya beberapa saat, kemudian beliau mengangkat kepala seraya berkata: "Seorang mukmin tidak boleh membalas kemarahan (yang terjadi) pada masa lampau, wahai Ibnu Dinar apakah telah (yakin) dengan persaksiannya? Maka di putuskan perkara tersebut dengan sebab persaksian beliau. 

22. Tidak semua pertemuan membawa kasih sayang namun bukan berarti jarang bertemu menjadi kering dari kasih sayang 

     Kisah ini menjelaskan tentang perkataan al-Hafidhz Abu Ishaq Ibrohim bin Ishaq al-Baghdadi al-Harbi seorang ulama yang terkenal dengan banyaknya tulisan yang di milikinya, dan kisah ini di riwayatkan oleh Abu al-Hasan bin Quraisy, beliau menceritakan:

"Pada suatu hari saya hadir di majelis Ibrohim al-Harbi, tidak selang berapa lama kemudian datang Abu Yusuf al-Qodhi (sahabatnya Abu Hanifah) bersama anaknya Abu Umar.

      Beliau berkata kepadanya, "Wahai Abu Ishaq, kalau sekiranya kami mendatangimu sesuai dengan hakmu (sebagai seorang ulama), tentulah seluruh waktu kita semuanya ada di sisimu".

   Maka beliau menjawab, "Seringnya ghoib tidak hadir dan jarang  bertemu bukan sebagai penghalang untuk tidak saling mawwadah (saling menyayangi.pent) namun seringnya bertemu, juga bukan sebagai jaminan akan bertambah rasa mawwadahnya, hanya saja hal itu bisa menjadikan hati  terasa semakin dekat (dengannya)". 

23. Mencela tetap saja buruk walau pun maksudnya baik 

         Mutiara ini di ambil dari kitab "Wafiyaatul A'yaan" karangan Ibnu Khulakan jilid yang ke 4/210 ketika beliau sedang menjelaskan biografinya al-Waziir Muhammad bin Ali bin Khalaf Abu Gholib yang di juluki dengan sebutan raja yang mulia. Berikut kisahnya:

        Bahwasanya beliau pernah mendapatkan seseorang yang mencela orang lain dengan celaan yang sangat buruk, walau pun maksudnya baik. Maka beliau berkata: "Kalau sekiranya kamu mengambil tangannya lalu menasehatinya tentu kerugian yang engkau dapatkan tidak lebih banyak dari keuntungan yang kamu raih, sesungguhnya kami tidak mau ikut campur pada perkara yang di larang, kami juga enggan untuk mendengar ucapan orang yang tak tahu malu yang telah merobek tirai (saudaranya), kalau seandainya dirimu sudah tidak punya rasa sungkan dan malu lagi tentu kami akan membalasnya, sebagai balasan atas perbuatanmu dan sebagai pelajaran bagi yang lain, namun tutupilah aib ini darimu, takutlah kepada Dzat yang Maha Mengetahui perkara yang ghoib, sesungguhnya Allah Ta'ala selalu mengawasi perbuatan setiap orang yang sholeh mau pun yang tholeh".

24.   Kedermawanan bukan hanya sekedar teori 

       Di sebutkan dalam kitab "Bidayah wa Nihayah" karangan Imam Ibnu Katsir rahimahullah pada jilid yang ke 9/349 dari Syafi'i bahwasanya beliau pernah bercerita:

"Rojaa bin Haiwah pernah menegur az-Zuhri dalam masalah israaf (terlalu berlebih-lebihan.pent), dan keduanya saling menghutangi. Maka beliau mengatakan kepadanya: "Saya merasa yakin denganmu dari pada mereka yang menangguhkan membayar hutang di karenakan kesulitan, dan saya menjamin rasa amanahmu".

     Kemudian beliau menasehati az-Zuhri supaya membatasi dirinya (untuk tidak berlebih-lebihan), pada suatu ketika dirinya lewat di depan az-Zuhri, makanan sudah di siapkan, demikian pula alat-alat untuk menaruh madu, maka Rojaa berhenti di hadapan beliau sambil mengatakan: "Wahai Abu Bakar, untuk apa ini, semua sudah di pisah-pisah". Az-Zuhri pun menjawab: "Turunlah sesungguhnya rasa dermawan tidak di ajarkan dalam teori belaka". 

25. Seseorang jika telah paham jati dirinya maka sudah tidak butuh lagi pada pujian orang lain . 

      Di jelaskan dalam kitab "Siyaar A'lamu Nubala" pada jilid yang ke 11/211 ketika sedang menjelaskan biografi Imamul Qudwah pendidik sejati, Ahmad bin Hanbal Abu Abdillah asy-Syaibani rahimahullah ta'ala.

      Di riwayatkan dari al-Marwazi, beliau mengatakan: "Pada suatu hari pernah seorang nasrani masuk ke rumahnya Abu Abdillah - maksdunya Imam Ahmad bin Hanbal- maka dirinya berkata kepada beliau: "Sungguh saya  sangat rindu untuk bisa bertemu dengan dirimu, saya menahanya semenjak beberapa tahun lamanya. Keberadaanmu bukan hanya membawa kebaikan untuk Islam saja namun juga membawa kebaikan untuk seluruh orang, ketahuilah tidak ada seorang pun dari kalangan kami melainkan mereka semua telah ridho dengan dirimu".

      Maka saya katakan kepada Abu Abdillah: "Dan saya mengharapkan supaya engkau di do'akan oleh semua orang di seluruh negeri".
      Beliau menjawab: "Jika seseorang itu telah paham akan jati dirinya, maka tidak perlu lagi dengan pujian manusia yang sanggup memberi manfaat padanya". 

26. Ucapan bisa membawa bencana 

         Di sebutkan dalam kitab "Nuzhatul Albaab fii Thobaqootil Udabaa" karangan Ibnul Anbaari hal 61-62 ketika sedang menjelaskan biografinya Imam ahli bahasa Ali bin Hamzah Abul Hasan al-Kisaai rahimahullah ta'ala. Berikut kisahnya:

        Berkata Ibnul Dauroqi: "Pada suatu kesempatan al-Kisai berkumpul bersama al-Yazidi di hadapan khalifah Harun al-Rasyid, kemudian pada waktu itu telah masuk sholat jahriyah (maghrib), maka mereka mendaulat al-Kisai supaya menjadi imam sholat mereka, ketika sedang membaca surat al-Kafirun beliau tertegun sejenak (karena lupa). Tatkala sholat sudah selesai, al-Yazidi berkata menyindir beliau: "Qorinya ahlu Kufah lupa hanya ketika membaca surat al-Kafirun? Beberapa lama kemudian datang waktu sholat jahriyah (Isya), maka sekarang al-Yazidi yang maju ke depan sebagai imam, ketika sholat baru di mulai beliau tertegun karena lupa membaca surat al-Fatihah, tatkala sholat selesai beliau bertutur:

"Jagalah lisanmu, jangan engkau biarkan berkata seenaknya, karena bisa jadi ia akan membawa petaka bagimu, sesungguhnya bencana bisa terjadi karena sebab ucapan".

27. Orang yang suka mengadu domba tidak mungkin berkata jujur 

        Kisah ini di nukil dari kitab "Ihya Ulumudin" karangan Imam al-Ghozali rahimahullah pada jilid yang ke 3/156, berikut kisahnya:

       Di riwayatkan bahwa ketika Sulaiman bin Abdul Malik sedang duduk-duduk dan di sisi beliau ada az-zuhri, di datangkan kepada beliau seseorang yang (tertuduh), maka beliau bertanya kepada orang tersebut: "Telah sampai di telingaku bahwasanya kamu telah mengatakan padaku begini dan begitu?

      Orang tersebut menjawab: "Saya tidak pernah melakukannya, tidak pula mengatakannya".
       Sulaiman merasa geram kepadanya sambil berkata: "Sesungguhnya yang mengabarkan kepadaku adalah orang yang bisa di percayai". Maka az-Zuhri menukas perkataan beliau seraya berkata: "Tidak ada sejarahnya orang yang suka mengadu domba itu mau berkata jujur". Beliau pun menjawab: "Benar sekali ucapanmu". Kemudian beliau berdiri menghampiri orang tersebut sambil mengatakan: "Pergilah kamu, sesungguhnya kamu selamat (dan tidak bersalah)". 

28. Rizki yang paling banyak bagi seseorang adalah kesehatan 

        Di sebutkan dalam kitab "Siyar A'lamu Nubala" karangan Imam adz-Dzahabi pada jilid yang ke 15/507 sebuah kisah manakala beliau sedang menjelaskan biografi Imam ahli zuhud di negeri andalus (sekarang spanyol) Abu Wahb rahimahullah ta'ala.

        Kisah ini di riwayatkan dari Abu Ja'far bin Aunillah, di mana beliau mengatakan: "Saya pernah mendengar dengan kedua telingaku ini kalau Abu Wahb pernah berkata, "Tidak ada lagi kesengsaraan ketika seseorang sudah masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan, sedangkan manusia pada hari kiamat nanti pasti melewati hari perhitungan, tidak ada yang bisa menyelamatkan dari itu semua melainkan dengan selalu menetapi rasa dzul [4] serta sabar, sehingga dia keluar darinya sebagaimana ketika dia masuk. Tidak ada rizki yang lebih banyak bagi seseorang seperti halnya rizki kesehatan (yang telah di berikan kepadanya), dan tidak ada shodaqoh yang lebih berharga seperti halnya orang yang senang memberi nasehat (pada orang lain), serta tidak ada yang patut untuk selalu di minta seperti halnya (ketika dirinya) meminta ampun kepada Allah Ta'ala".

29. Tidak ada kebaikan di dunia melainkan untuk di akhirat 

          Di sebutkan dalam kitab  "Tahdzibul Kamal" karangan al-Mizzi jilid yang ke 7/481 sebuah kisah ketika penulis sedang menjelaskan biografi ahli ibadah, orang yang zuhud ahli fikih Haiwah bin Suraih bin Shofwan at-Tajiibi Abu Zur'ah al-Mishri rahimahullah, berikut nukilannya:

         Berkata Ahmad bin Sahl al-Urduni bahwasanya beliau mendengar dari Khalid bin al-Fizri berkata: "Adalah Haiwah bin Suraih seorang yang banyak berdo'a dan ketika berdo'a beliau selalu menangis, adapun keadaan ekonomi beliau, sangatlah memprihatinkan."

       Pada suatu hari saya menghampiri beliau lalu duduk di sampingnya, sedangkan seperti biasa beliau sedang menyendiri sambil berdo'a, maka saya katakan padanya: "Semoga Allah merahmatimu, kalau seandainya engkau berdo'a kepada Allah agar di beri kelapangan hidup (tentu itu lebih baik bagimu)".

Beliau tidak langsung menjawabnya namun diam sejenak lalu menengok ke kiri dan ke kanan, setelah yakin tidak ada orang lain, maka beliau mengambil kerikil dari tanah, lalu berdo'a: "Ya Allah jadikanlah (kerikil ini) menjadi emas".

        Maka sungguh demi Allah, kalau kerikil tadi berubah menjadi sekeping emas di telapak tanganya, yang saya tidak pernah melihat emas sebaik itu sebelumnya, kemudian beliau melemparkan kepada saya sambil berkata: "Tidak ada kebaikan di dunia ini melainkan (sesuatu yang di gunakan) untuk kebaikan akhirat". Lalu beliau memandang saya, sambil bertutur: "Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk para hambaNya".

      Saya bertanya kepada beliau, "Lantas apa yang harus saya lakukan dengan emas ini?
      Beliau menjawab: "Sedekahkanlah untuk orang miskin, dan itu sebagai hadiah, demi Allah saya tidak membutuhkannya".

30. Lakukanlah kalau tidak engkau yang akan di dahului 

         Di sebutkan dalam kitab "Iqtidho'ul Ilmi al-Amal" karangan al-Hafidhz Khatib al-Baghdadi hal 114, sebuah kisah yang di riwayatkan dari Yusuf bin Asbaath di mana beliau berkata, "Muhammad bin Samuroh as-Saaih pernah menulis surat kepada saya, berikut isi suratnya:

         "Saudaraku, hati-hatilah dirimu dari senang menunda-nunda perkara yang bisa kamu kerjakan yang terlintas di dalam hatimu, karena sesungguhnya akan membikin lemah dan menjadikan tidak bergairah, suka menunda akan memutus harapan, jika dirimu berusaha untuk mengerjakan apa yang terlintas pada dirimu maka engkau telah mampu mengalahkan hawa nafsumu dan juga mampu mengarahkan kemauanmu secara sempurna, mengembalikan semangat dari rasa penat yang terasa di badanmu, yang bila engkau tengok kembali seakan-akan dirimu tidak bisa memberi manfaat sama sekali (dengan kepenatan tersebut).

        Bersegeralah saudaraku untuk mengerjakanya karena jika tidak engkau yang akan di langkahi olehnya, cepat-cepatlah karena sesungguhnya engkau sedang berlomba dengannya, bersungguh-sungguhlah karena perkaranya membutuhkan kesungguhan, bangunlah dari tidur panjangmu, sadarlah dari kelalaianmu, ingatlah apa yang telah berlalu darimu, kekuranganmu (dalam beribadah), menyepelekan perintah, perbuatan dosa, dan maksiat, sesungguhnya itu semua telah tercatat dan tetap (di sisi Allah). Anggap saja perkara tersebut sesuatu yang datang secara tiba-tiba, yang dirimu merasa bahagia jika mampu mengerjakannya, dan menyesal bila lewat tanpa ada amal dan kesan yang di lakukan". 

31. Kekeliruan seorang ulama akan meruntuhkan dunia 

        Di nukil dari kitab "Muqodimah Hasyiah Ibnu Abidin" pada jilid yang ke 1/67, kisahnya Imam Abu Hanifah bersama seorang anak kecil, berikut nukilannya:

       Suatu ketika Imam Abu Hanifah melihat seorang anak kecil yang sedang bermain-main dengan lumpur, maka beliau menghampirinya lalu berkata kepadanya: "Wahai anak kecil, hati-hati nanti kamu jatuh terpeleset ke tanah". Anak kecil tersebut menjawab perkataan sang Imam: "Hati-hati juga dirimu dari jatuh (ke dalam kesalahan), karena jatuhnya seorang alim akan bisa menjadikan jatuhnya dunia".

      Maka semenjak mendengar ucapan tersebut Imam Abu Hanifah enggan untuk memberi fatwa kepada manusia, melainkan setelah terlebih dahulu mempelajari isi pertanyaanya dan mendiskusikan bersama murid-muridnya selama sebulan penuh. 

32. Seorang mukmin senang memberi udzur pada kesalahan orang sedangkan orang munafik dia akan mencari-cari kejelekan orang 

        Mutiara ini di ambil dari kitab "Ihya Ulumudin" karangan Imam Abu Hamid al-Ghozali pada jilid yang ke 3/36, di mana beliau pernah bertutur:

"Sesungguhnya manusia yang paling wara', paling takwa dan paling berilmu di antara mereka adalah orang yang tidak pernah melihat pada orang lain dalam satu pandangan, namun dia membagi dua, kadang dengan pandangan ridho, terkadang dengan pandangan marah, oleh karena itu seorang penyair pernah menuturkan dalam qosidahnya:
Pandangan cinta akan menutup seluruh aib
Sedangkan pandangan benci akan menampakan semua kesalahan 

     Oleh karena itu seharusnya dia membuang jauh-jauh sikap buruk sangka, serta suka menuduh orang lain telah terjatuh dalam kenistaan, sesungguhnya orang yang jatuh dalam kenistaan tidak pernah melihat pada orang lain melainkan semuanya juga jelek.

     Ketika dirimu melihat orang lain apa pun kelakuanya, yang selalu mempunyai prasangka buruk pada orang lain dan selalu mencari-cari aibnya, maka ketahuilah bahwasanya hal tersebut menandakan hatinya telah rusak, hati yang telah terkontaminasi oleh kotoran buruk sangka, di mana dirinya menyamakan orang lain sama seperti dirinya, (ketahuilah) sesungguhnya sifat seorang mukmin sejati adalah senang memberi udzur (pada kesalahan orang lain) ada pun orang munafik maka dia akan sibuk untuk mencari aib orang lain, dan hendaknya seorang mukmin memperhatikan dan menjaga hatinya (untuk bisa selamat) pada hak semua makhluk".

33. Jangan percaya melainkan kepada orang yang takut kepada Allah Ta'ala 

          Di jelaskan dalam kitab "Zuhud" karangan Abdullah bin Mubarak rahimahullah hal 491. Dari Umar bin Khattab radiyallahu anhu bahwasanya beliau pernah berkata: "Jangan coba-coba engkau menjerumuskan dirimu ke dalam perkara yang tidak ada gunanya, menyingkirlah dari musuhmu, ketika meminta bantuan untuk menjaga barangmu maka pilihlah orang yang bisa di percaya, karena orang yang amanah pada sebuah lingkungan mendatangkan keadilan, (ketahuilah) bahwa tidak ada orang yang bisa di percaya melainkan orang yang takut kepada Allah, jangan sekali-kali berteman dengan pelaku maksiat karena sesungguhnya dia akan menyeretmu, jangan perdulikan mereka, ajaklah dialog orang-orang yang merasa takut kepada Allah Ta'ala di dalam urusanmu". 

34. Engkau bertemu Allah dalam keadaan bersumpah itu lebih baik dari pada engkau menemuiNya dalam keadaan membunuh orang 

         Kisah ini di nukil dari kitab "Tarikhul Khulafaa" yang di karang oleh Imam Jalaludin as-Suyuthi rahimahullah pada hal 320, ketika beliau sedang menjelaskan biografi Khalifah al-Abaasiyah Abu Abaas Abdullah al-Ma'mun bin Harun ar-Rasyid rahimahumullah.

       Dan kisah ini diriwayatkan dari Ibrahim bin Sa'id al-Jauhari, beliau berkata: "Di hadapan al-Ma'mun ada seorang laki-laki yang berdiri, dirinya sedang di adili karena telah melakukan kejahatan.

       Al-Ma'mun berkata kepadanya: "Demi Allah saya akan membunuhmu". Maka orang tersebut memelas kepada sang Khalifat serambi berkata: "Duhai Amirul mu'minin kasihani saya, sesungguhnya kasih sayang adalah bagian dari kebajikan".

       Beliau menjawab: "Bagaimana mungkin saya mengampunimu sedangkan saya telah bersumpah akan membunuhmu". Dirinya lantas mengiba sambil mengatakan: "Kalau sekiranya engkau bertemu Allah dalam keadaan bersumpah maka itu lebih baik dari pada engkau bertemu denganNya dalam keadaan membunuh orang". Mendengar jawabanya tersebut maka al-Ma'mun membebaskanya. 

35. Orang yang lancang berfatwa adalah orang yang sedikit bekal ilmunya 

         Di riwayatkan dalam kitab "Akhalaqul Ulama" karangan Imam al-Ajuri hal 110-111 dari Hajaj bin Umair bin Sa'ad, beliau berkata: "Saya pernah bertanya kepada Alqomah tentang sebuah masalah, maka beliau mengatakan padaku "Datanglah kepada Ubaidah lalu tanyakan pada beliau".

        Saya pun mendatangi Ubaidah dan bertanya tentang masalah tersebut namun beliau berkata: "Datanglah kepada Alqomah". Saya katakan kalau saya sudah bertanya kepada beliau dan beliaulah yang menyuruh supaya bertanya kepada dirimu. Beliau lalu menasehati saya supaya datang kepada Masruq, saya lantas mendatangi Masruq dan bertanya tentang masalah tersebut, namun beliau menyuruhku supaya bertanya kepada Alqomah, maka saya katakan kalau Alqomah menyuruhku supaya bertanya kepada Ubaidah lalu Ubaidah menyuruhku supaya bertanya kepada dirimu. Beliau lalu menyarankan saya supaya bertanya kepada Abdurahman bin Abu Ya'la.

      Saya lantas pergi ke tempat Abdurahman bin Abu Ya'la dan menanyakan masalahku, namun beliau enggan untuk menjawabnya. Maka saya kembali lagi ke tempatnya Alqomah dan mengabarkan semua kejadian yang saya alami. Mendengar hal tersebut beliau bertutur: "Dahulu di katakan "Orang yang lancang untuk berfatwa adalah orang yang paling sedikit bekal ilmunya". 

36. Sungguh buruk sekali ketika punya saudara bilamana kamu kaya ia mendekatimu namun bila kamu jatuh miskin ia meninggalkanmu 

           Di riwayatkan dalam kitab "al-Mutahaabin fiillah" karangan Ibnu Qudamah al-Maqdisi hal 79, dari al-Aswad bin Katsir bahwa beliau pernah berkata: "Saya pernah mengadu kepada Muhammad bin Ali bin Husain tentang kebutuhanku serta keadaan saudara-saudaraku yang tidak mau menolong kebutuhan saudaranya".

      Maka beliau mengatakan: "Sungguh sangat buruk sekali mempunyai saudara seperti saudaramu yang ketika engkau kaya dia mendekatimu namun bila dirimu ditimpa kefakiran ia pergi meninggalkanmu".

         Kemudian beliau menyuruh kepada pelayannya supaya mengambilkan kantong  yang berisi uang sebanyak tujuh ratus dirham, setelah di ambilkan beliau berkata kepada saya: "Gunakanlah uang ini, jika sudah habis maka beri tahulah saya".

37. Siapa yang tidak mempunyai tekad maka ilmunya tidak bermanfaat 

         Di sebutkan dalam kitab "Thobaqoot as-Syafi'iyah" karangan Imam as-Subki rahimahullah jilid yang ke 2/99, perkataanya Imam Syafi'i, berikut nukilannya:

         Imam Syafi'i pernah berkata: "Siapa yang mempelajari al-Qur'an maka kedudukanya akan tinggi, siapa yang mempunyai perhatian terhadap fikih maka dirinya akan menjadi mulia, dan siapa yang mau menghafal hadits maka dia akan kuat di dalam berhujah, siapa yang memperhatikan bahasa maka tabi'atnya akan lunak sedangkan barangsiapa yang mau memperlajari ilmu hisab maka pikiranya menjadi jernih, (namun) siapa saja yang tidak mempunyai tekad untuk itu semua maka tidak akan bisa mendapat ilmu yang bermanfaat baginya". 

 38. Seseorang tidak akan punya kedudukan sebelum dirinya diuji 

         Di nukil dari kitab "al-Fawaid" karangan Imam Ibnu Qoyim rahimahullah ta'ala pada hal 269, sebuah kata mutiara yang patut kita renungkan, berikut nukilanya:

        Ada seseorang yang pernah bertanya kepada Imam Syafi'i, ia mengatakan: "Wahai Abu Abdillah, mana yang lebih baik, seseorang yang di beri kedudukan atau diberi cobaan?

      Maka Imam Syafi'i menjawab, "Tidak mungkin ada seseorang yang mendapat kedudukan melainkan setelah mendapat cobaan terlebih dahulu. Sesungguhnya AllahTa'ala telah memberi cobaan kepada para nabiNya, Allah Ta'ala memberi cobaan pada nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi kita Muhammad sholawatullah wa salaamuhu 'alaihi 'ajmain, ketika mereka semua mampu bersabar maka Allah Ta'ala memberi mereka kedudukan di muka bumi ini, jangan pernah engkau sangka kalau seseorang itu tidak akan pernah merasakan sakitnya cobaan hidup".




[1] . Ighatsatul Lahfaan min Mashayidil Syithon 1/69-70.
[2] . al-Baraadziin adalah jama' dari Bardzun dengan di kasrah huruf ba, yaitu hewan tunggangan atau kuda keturuanan, ada juga yang mengatakan perkawinan antara kuda dengan keledai yaitu bighol.
[3] . an-Naqo yaitu tulang sum-sum.
[4] . adz-Dzul yaitu seorang hamba yang merendahkan diri kepada Allah Ta'ala sambil mentaatinya, dan merasa sangat rendah di hadapan kekuasaan yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. 

Download Versi Ebook :
Sumber ebook: www.islamhouse.com Di publikasikan ulang :  www.faisalchoir.blogspot.com

Sebarkan artikel ini :


Artikel Terkait :

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Aqidah

Ibadah

Nasehat

Hukum Islam

Penyejuk Hati

Faedah Ilmu