Keutamaan Al-Quran dan Membacanya

Label: Al-Quran, Ibadah, Keutamaan - Fadhillah

Kitab Keutamaan [Bab-bab Keutamaan Al-Qur'an]-Riyadhus Shalihin.
Oleh: Imam an-Nawawi

Keutamaan Membaca Al-Quran

Dari Abu Umamah رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

اقْرَؤُا القُرْآنَ فإِنَّهُ يَأْتي يَوْم القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat - yakni pertolongan - kepada orang-orang yang mempunyainya." (Riwayat Muslim)

Maksudnya mempunyainya ialah membaca al-Quran yang dilakukan dengan mengingat-ingat makna dan kandungannya lalu mengamalkan isinya, mana-mana yang merupakan perintah dilakukan dan yang merupakan larangan dijauhi.

Dari an-Nawwas bin Sam'an رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

يُؤْتى يوْمَ القِيامةِ بالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الذِين كانُوا يعْمَلُونَ بِهِ في الدُّنيَا تَقدُمهُ سورة البقَرَةِ وَآل عِمرَانَ ، تحَاجَّانِ عَنْ صاحِبِهِمَا

"Al-Quran itu akan didatangkan pada hari kiamat nanti, demikian pula ahli-ahli al-Quran yaitu orang-orang yang mengamalkan al-Quran itu di dunia, didahului oleh surat al-Baqarah dan surat ali-lmran. Kedua surat ini menjadi hujah untuk keselamatan orang yang membaca, memikirkan dan mengamalkannya." (Riwayat Muslim)

Dari Usman bin Affan رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

خَيْرُ كُم مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik engkau semua ialah orang yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya pula." (Riwayat Bukhari)

Dari Aisyah رضي الله عنها, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:


الَّذِي يَقرَأُ القُرْآنَ وَهُو مَاهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ ، وَالَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ ويَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُو عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

"Orang yang membaca al-Quran dan ia sudah mahir dengan bacaannya itu, maka ia adalah beserta para malaikat utusan Allah yang mulia lagi sangat berbakti, sedang orang yang membacanya al-Quran dan ia berbolak-balik dalam bacaannya-yakni tidak lancar - juga merasa kesukaran di waktu membacanya itu, maka ia dapat memperoleh dua pahala." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مثَلُ المؤمنِ الَّذِي يقْرَأُ القرآنَ مثلُ الأُتْرُجَّةِ : ريحهَا طَيِّبٌ وطَعمُهَا حلْوٌ ، ومثَلُ المؤمنِ الَّذي لا يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمثَلِ التَّمرةِ : لا رِيح لهَا وطعْمُهَا حلْوٌ ، ومثَلُ المُنَافِق الذي يَقْرَأُ القرْآنَ كَمثَلِ الرِّيحانَةِ : رِيحها طَيّبٌ وطَعْمُهَا مرُّ ، ومَثَلُ المُنَافِقِ الذي لا يَقْرَأُ القرآنَ كَمَثلِ الحَنْظَلَةِ : لَيْسَ لَها رِيحٌ وَطَعمُهَا مُرٌّ

"Perumpamaan orang mu'min yang suka membaca al-Quran ialah separti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mu'min yang tidak suka membaca al-Quran ialah separti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah separti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah separti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit." (Muttafaq 'alaih)

Dari Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اللَّه يَرْفَعُ بِهَذَا الكتاب أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat derjat beberapa kaum dengan adanya kitab al-Quran ini - yakni orang-orang yang beriman - serta menurunkan derjatnya kaum yang lain dengan sebab al-Quran itu pula - yakni yang menghalang-halangi pesatnya Islam dan tersebarnya ajaran-ajaran al-Quran itu."  (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما dari Nabi صلي الله عليه وسلم, sabdanya:

لَا حَسَدَ إلاُّ في اثنَتَيْن : رَجُلٌ آتَاهُ اللَّه القُرآنَ ، فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيلِ وآنَاءَ النَّهَارِ ، وَرجُلٌ آتَاهُ اللَّه مَالًا ، فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ

"Tidak dihalalkanlah dengki itu, melainkan terhadap dua macam orang, yaitu: Orang yang diberi kepandaian oleh Allah dalam hal al-Quran, lalu ia berdiri dengan al-Quran itu - yakni membaca sambil memikirkan dan juga mengamalkannya - di waktu malam dan waktu siang, juga seorang yang dikurniai oleh Allah akan harta lalu ia menafkahkannya di waktu malam dan siang - untuk kebaikan."  (Muttafaq 'alaih)

Dari al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه, katanya: "Ada seorang lelaki membaca surat al-Kahfi dan ia mempunyai seekor kuda yang diikat dengan dua utas tali, kemudian nampaklah awan menutupinya. Awan tadi mendekat dan kuda itu lari dari awan tersebut. Setelah pagi, orang itu mendatangi Nabi صلي الله عليه وسلم menyebutkan apa yang terjadi atas dirinya itu. Beliau صلي الله عليه وسلم lalu bersabda:

تِلكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ لِلْقُرآنِ

"Itu adalah Sakinah - ketenangan yang disertai oleh malaikat - yang turun untuk mendengarkan bacaan al-Quran itu." (Muttafaq 'alaih)

Dalam Hadisnya Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, katanya: "Saya berada di samping Rasulullah صلي الله عليه وسلم, lalu beliau dilutupi oleh sakinah." Yang dimaksudkan ialah ketenangan ketika ada wahyu turun pada beliau. Di antaranya lagi ialah Hadisnya Ibnu Mas'ud رضي الله عنه: "Tidak jauh bahwa sakinah itu terucapkan pada lisannya Umar رضي الله عنه". Ada yang mengatakan bahwa sakinah ialah kedamaian dan ada yang mengatakan kerahmatan.

Dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

منْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابَ اللَّهِ فلَهُ حَسَنَةٌ ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ : الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ : أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ ، ومِيَمٌ حَرْفٌ

"Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah -yakni al-Quran, maka ia memperolehi suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang separti itu. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim juga satu huruf."  (HR. Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih)


Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash رضي الله عنهما dari Nabi صلي الله عليه وسلم, sabdanya:


يُقَالُ لِصاحبِ الْقُرَآنِ : اقْرأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَما كُنْتَ تُرَتِّلُ في الدُّنْيَا ، فَإنَّ منْزِلَتَكَ عِنْد آخِرِ آيةٍ تَقْرَؤُهَا

"Dikatakanlah - nanti ketika akan masuk syurga - kepada orang yang mempunyai al-Quran - yakni gemar membaca, mengingat-ingat kandungannya serta mengamalkan isinya: "Bacalah dan naiklah derajatmu - dalam syurga - serta tartilkanlah - yakni membaca perlahan-lahan - sebagaimana engkau mentartilkannya dulu ketika di dunia, sebab sesungguhnya tempat kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca,"  (HR. Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih)

Maksudnya kalau membaca seluruhnya adalah tertinggi kedudukannya dan kalau tidak, tentulah di bawahnya itu menurut kadar banyak sedikitnya bacaan.

Perintah Menjaga dan Membaca Al-Quran Secara Tetap dan Ancaman Bagi yang Melupakannya

Dari Abu Musa رضي الله عنه dari Nabi صلي الله عليه وسلم, sabdanya:

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحمَّدٍ بِيدِهِ لَهُو أَشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإِبِلِ في عُقُلِهَا

"Berta'ahudlah kepada al-Quran - yakni peliharalah untuk selalu membaca al-Quran itu secara tetap waktunya-, sebab demi Zat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya, niscayalah al-Quran itu lebih sangat mudah terlepasnya daripada seekor unta yang ada di dalam ikatan talinya."  (Muttafaq 'alaih)

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ المــُعَقَّلَةِ ، إِنْ عَاهَدَ عَليْهَا أَمْسَكَهَا ، وإِنْ أَطْلَقَهَا ، ذَهَبَتْ

"Bahwasanya perumpamaan orang yang menghafal al-Quran adalah sebagaimana perumpamaan seekor unta yang diikat. Jikalau ia terus langsung mengikatnya, dapatlah ia menahannya -ingat- dan jikalau ia melepaskannya, maka itu pun pergi -lupa-." (Muttafaq 'alaih)

Sunnahnya Memperbaguskan Suara Dalam Membaca Al-Quran dan Meminta Untuk Membacanya Dari Orang yang Bagus Suaranya dan Mendengarkan Bacaannya

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ

"Allah tidak pernah mendengarkan pada sesuatu - dengan penuh perhatian dan rasa ridha serta menerima - sebagaimana mendengarnya kepada seseorang Nabi yang bagus suaranya, ia bertaghanni dengan al-Quran itu yakni mengeraskan suaranya." (Muttafaq 'alaih)

Dikatakan oleh para alim ulama: "Bahwasanya sabda Nabi صلي الله عليه وسلم: Yajharu bihi -artinya: Memperkeraskan suara dalam membaca al-Quran - ini adalah sebagai penjelasan dari sabdanya: yataghanna - yakni bertaghanni dari kata ghina'."

Makna: adzinallahu yakni mendengarkan. Ini sebagai tanda keridhaan dan diterima.

Dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda padanya:

لَقَدْ أُوتِيتُ مِزْمَارَاً مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُد

"Sesungguhnya engkau telah dikurnia - oleh Allah - mizmar -yakni seruling - dari mizmar-mizmarnya keluarga Dawud." (Muttafaq 'alaih)

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda padanya:

لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا أَسْتَمِعُ لِقِرَاءَتِكَ البارحَةَ

"Alangkah gembiranya hatimu, jikalau engkau melihat bahwa saya mendengarkan bacaanmu - akan al-Quran - tadi malam."

Imam as-Syafi'i رحمه الله berkata: Artinya bertaghanni ialah memperbaguskan suara dan melemah-lembutkannya - atau mengiramakan bacaan al-Quran itu." Uraian sedemikian ini disaksikan pula dengan Hadis lain, yaitu:
- Hiasilah al-Quran itu dengan suara-suaramu. Menurut bangsa Arab, setiap orang yang mengeraskan suaranya dan mengiramakannya, maka suaranya itu dapat disebut ghina'.

Maksudnya bahwa bacaan Abu Musa رضي الله عنه itu amat indah dan baik sekali. Kata mizmar atau seruling [1] dijadikan sebagai perumpamaan untuk bagusnya suara dan kemanisan iramanya, jadi diserupakan dengan suara seruling. Dawud adalah seorang Nabi عليه السلام dan beliau ini adalah sebagai puncak dalam kebagusan suaranya di dalam membaca.

وعَنِ الْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عنهمَا قالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَرَأَ في العِشَاءِ بِالتِينِ والزَّيْتُونِ ، فَمَا سَمِعْتُ أَحَدَاً أَحْسَنَ صَوْتَاً مِنْهُ

Dari al-Bara' bin 'Azib رضي الله عنه, katanya: "Saya mendengar Nabi صلي الله عليه وسلم membaca dalam shalat Isya' dengan surat Attin wazzaitun - dalam salah satu dari kedua rakaatnya yang dibaca keras. Maka saya tidak pernah mendengar seseorang pun yang lebih indah bacaannya dari beliau صلي الله عليه وسلم itu." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Lubabah yaitu Basyir bin Abdul Mundzir رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا
"Barangsiapa yang tidak bertaghanni dengan al-Quran - yakni di waktu membacanya, maka ia bukanlah termasuk golongan kita." (HR. Imam Abu Dawud dengan isnad yang baik)

Makna: yataghanna atau bertaghanni ialah memperbaguskan suaranya ketika membaca al-Quran

Dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, katanya: "Nabi صلي الله عليه وسلم bersabda kepadaku:

اقْرَأْ عَلَيَّ الْقُرْآنَ
"Bacakanlah al-Quran padaku."

Saya berkata: "Ya Rasulullah, adakah saya akan membaca al-Quran untuk Tuan, sedangkan al-Quran itu kepada Tuan-lah diturunkannya?" Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

« إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي
"Saya senang sekali kalau mendengar al-Quran itu dari orang lain."

Saya lalu membacanya untuk beliau صلي الله عليه وسلم itu surat an-Nisa', sehingga sampailah saya pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هؤُلاءِ شَهِيدَاً
"Bagaimanakah ketika Kami datangkan kepada setiap ummat seorang saksi dan engkau Kami jadikan saksi atas ummat ini" [QS. an-Nisa' 42]

Setetah itu beliau صلي الله عليه وسلم lalu bersabda:

حَسْبُكَ الآنَ
"Cukuplah sudah bacaanmu sekarang."

Saya menoleh pada beliau صلي الله عليه وسلم dan kedua matanya menitiskan airmata." (Muttafaq 'alaih)

_____________________

[1] Dalam Syariat Islam Seruling diharamkan, Baca polemik seputar hukum lagu & Musik oleh syaikh Al-Albani

Anjuran Membaca Surat-surat atau Ayat-ayat Tertentu

Dari Abu Said, yaitu Rafi' bin al-Mu'alla رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda kepadaku:

أَلا أُعَلِّمُكَ أَعْظَم سُورةٍ في الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تخْرُج مِنَ المــَسْجِدَ ؟ فأَخَذَ بِيَدِي ، فَلَمَّا أَردْنَا أَنْ نَخْرُج قُلْتُ : يَا رسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ لأُعَلِّمنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ في الْقُرْآنِ ؟ قال : الحَمْدُ للَّهِ رَبِّ العَالمِينَ هِيَ السَّبْعُ المَثَاني ، وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

"Tidakkah engkau suka jikalau aku mengajarkan padamu akan seagung-agung surat dalam al-Quran sebelum engkau keluar dari masjid?" Kemudian beliau صلي الله عليه وسلم mengambil tanganku. Setelah kita ingin hendak keluar, aku pun berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Tuan tadi bersabda: "Sungguh-sungguh aku akan mengajarkan padamu seagung-agung surat dalam al-Quran." Beliau صلي الله عليه وسلم lalu bersabda: "Seagung-agung surah ialah الحَمْدُ للَّهِ رَبِّ العَالمِينَ - dan seterusnya-. Itulah yang disebut Assab'ul matsani - yakni tujuh ayat banyaknya dan diulang-ulangi dua kali atau surat Alfatihah-. Juga itulah yang disebut al-Quran al-'Azhim yang diberikan padaku." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Said al-Khudri رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda mengenai surat Qulhuwallahu ahad - yakni surat al-lkhlas, yaitu:

والَّذِي نَفْسي بِيدِهِ ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ
"Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya,sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah menyamai sepertiga al-Quran - mengenai pahala membacanya-."

Dalam riwayat lain disebutkan: Bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda kepada sahabat-sahabatnya:


أَيَعْجِزُ أَحَدُكُم أَنْ يقْرَأَ بِثُلُثِ الْقُرْآنِ في لَيْلَةٍ » فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ ، وَقَالُوا : أَيُّنَا يُطِيقُ ذلكَ يا رسولَ اللَّه ؟ فقال : قُلْ هُو اللَّه أَحَدٌ ، اللَّهُ الصَّمَدُ : ثُلُثُ الْقُرْآنِ

"Apakah seseorang di antara engkau semua itu akan merasa lemah -tidak kuat - untuk membaca sepertiga al-Quran dalam satu malam?" Tentu saja hal itu dirasakan berat oleh mereka dan mereka berkata: "Siapakah di antara kita semua yang kuat melakukan itu, ya Rasulullah?" Kemudian beliau صلي الله عليه وسلم bersabda: Qul huwallahu ahad Allahush shamad adalah sepertiga al-Quran - yakni pahala membacanya menyamai membaca sepertiga al-Quran itu-." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Said al-Khudri رضي الله عنه pula bahwasanya ada seorang lelaki mendengar orang lelaki lain membaca: Qul huwallahu ahad, dan seterusnya - dan orang itu mengulang-ulanginya. Setelah datang pagi harinya, orang yang mendengar itu pergi ke tempat Rasulullah صلي الله عليه وسلم lalu menyebutkan pada beliau صلي الله عليه وسلم apa yang didengarnya, seolah-olah orang ini menganggapnya sebagai amalan yang kecil saja - kurang berarti. Kemudian Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

والَّذي نَفْسِي بِيَدِهِ ، إِنَّها لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
"Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggamanNya, sesungguhnya surat al-lkhlas itu niscayalah menyamai - pahalanya dengan membaca - sepertiga al-Quran." (Riwayat Bukhari)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda mengenai Qul huwallahu ahad, yaitu:

إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ
"Sesungguhnya surat ini adalah menyamai sepertiga al-Quran." (Riwayat Muslim)

Dari Anas رضي الله عنه bahwasanya ada seorang lelaki berkata:

يا رسول اللَّهِ إِني أُحِبُّ هذِهِ السُّورَةَ: قُلْ هُوَ اللَّه أَحدٌ ، قال : إِنَّ حُبَّها أَدْخَلَكَ الجنَّةَ

"Ya Rasulullah, sesungguhnya saya senang sekali pada surat ini, yaitu Qul huwallahu ahad. Lalu beliau صلي الله عليه وسلم bersabda: "Sesungguhnya kecintaanmu pada surat itu akan dapat memasukkan engkau dalam syurga." (HR. Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan. Imam Bukhari juga meriwayatkannya dalam kitab shahihnya sebagai ta'liq)

Dari 'Uqbah bin 'Amir رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَلَمْ تَر آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثلُهُن قَطُّ ؟ قُلْ أَعُوذُ برَبِّ الفَلَقِ ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

"Adakah engkau mengetahui beberapa ayat yang diturunkan malam ini? Benar-benar tidak ada sama sekali yang seumpama dengan itu, yaitu surat Qul a'udzu birabbil falaq dan surat Qul a'udzu birabbin nas." (Riwayat Muslim)

Dari Abu Said al-Khudri رضي الله عنه, katanya:

كانَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَتَعَوَّذُ مِنَ الجانِّ ، وَعَيْنِ الإِنْسَانِ ، حتَّى نَزَلَتِ المـــُعَوِّذَتَاِنِ ، فَلَمَّا نَزَلَتَا ، أَخَذَ بِهِمَا وتَركَ ما سِواهُما

"Rasulullah صلي الله عليه وسلم dahulunya selalu berta'awwudz - mohon perlindungan kepada Allah - dari gangguan jin dan mata manusia, sehingga turunlah dua surat mu'awwidzah - yaitu surat-surat Qul a'udzu birabbil falaq dan Qul a'udzu birabbin nas. Setelah kedua surat itu turun, lalu beliau صلي الله عليه وسلم mengambil keduanya itu saja - mengamalkannya - dan meninggalkan yang lain-lainnya." (HR. Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مِنَ القُرْآنِ سُورَةٌ ثَلاثُونَ آيَةً شَفعتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ ، وهِيَ : تبارَكَ الذِي بِيَدِهِ المــُلْكُ

"Setengah dari al-Quran itu ada sebuah surat yang jumlah ayatnya ada tiga puluh buah. Surat itu dapat memberikan syafaat kepada seseorang - jikalau ia membacanya - sehingga orang itu diampuni, yaitu surat Tabarakal ladzi biyadihil mulk - yakni surat al-Mulk." (HR. Imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih)

Dalam riwayat Imam Abu Dawud disebutkan dengan menggunakan kata: tasyfa'u - sebagai gantinya "syafaat", artinya sama yaitu memberi syafaat.

Dari Abu Mas'ud al-Badri رضي الله عنه dari Nabi صلي الله عليه وسلم, sabdanya:

مَنْ قَرَأَ بالآيتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورةِ البقَرةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
"Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah di waktu malam -yaitu ayat Aamanar rasulu sampai akhir surat-, maka kedua ayat itu mencukupinya." (Muttafaq 'alaih)

Dikatakan oleh para alim ulama bahwa arti kafataahu atau mencukupi orang tadi, maksudnya mencukupi dari apa yang tidak disenangi atau tidak diinginkan pada malam itu. Ada pula yang mengartikan mencukupi dari berdiri untuk shalat malam.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِر ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِن الْبيْتِ الَّذي تُقْرأُ فِيهِ سُورةُ الْبقَرةِ
"Janganlah engkau semua menjadikan rumah-rumahmu itu sebagai kuburan - yakni tidak pernah bersembahyang sunnah atau membaca al-Quran di dalamnya, sehingga sunyi-sunyi saja dari ibadat. Sesungguhnya syaitan itu lari dari rumah yang di dalamnya itu dibacakan surat al-Baqarah." (Riwayat Muslim)

Dari Ubay bin Ka'ab رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

يا أَبا الـمُـــنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيةٍ مِن كتاب اللَّهِ معكَ أَعْظَمُ ؟ قُلْتُ : اللَّه لا إِلهَ إِلاَّ هُو الحَيُّ الْقَيُّومُ ، فَضَربَ في صَدْري وَقَال : لِيهْنكَ الْعِلْمُ أَبَا المــُنذِرِ

"Hai Abul Mundzir, adakah engkau mengetahui, ayat manakah dari Kitabullah - yakni al-Quran - yang ada besertamu itu yang teragung?" Saya lalu menjawab: "Yaitu Allahu la ilaha ilia huwal hayyul qayyum, yakni ayat al-Kursi. Beliau صلي الله عليه وسلم lalu menepuk-nepuk dadaku dan bersabda: "Semoga engkau mudah memperoleh ilmu, hai Abul Mundzir."(Riwayat Muslim)

Beliau صلي الله عليه وسلم mendoakan demikian kerana benar sekali apa yang diucapkan itu.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya:

وكَّلَني رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بحِفْظِ زَكَاةِ رمضانَ ، فَأَتَاني آتٍ ، فَجعل يحْثُو مِنَ الطَّعام ، فَأخَذْتُهُ فقُلتُ : لأرَفَعَنَّك إِلى رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قال : إِنِّي مُحتَاجٌ ، وعليَّ عَيالٌ ، وبي حاجةٌ شديدَةٌ . ، فَخَلَّيْتُ عنْهُ ، فَأَصْبحْتُ ، فَقَال رسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيْهِ وآلهِ وسَلَّمَ : يا أَبا هُريرة ، ما فَعلَ أَسِيرُكَ الْبارِحةَ ؟ قُلْتُ : يا رسُول اللَّهِ شَكَا حَاجَةً وعِيَالاً ، فَرحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سبِيلَهُ. فقال : أَما إِنَّهُ قَدْ كَذَبك وسيعُودُ فَعرفْتُ أَنَّهُ سيعُودُ لِقَوْلِ رسُولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَرصدْتُهُ . فَجَاءَ يحثُو مِنَ الطَّعامِ ، فَقُلْتُ : لأَرْفَعنَّكَ إِلى رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَ : دعْني فَإِنِّي مُحْتاجٌ ، وعلَيَّ عِيالٌ لا أَعُودُ ، فرحِمْتُهُ وَخَلَّيتُ سبِيلَهُ ، فَأَصبحتُ فَقَال لي رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : يَا أَبا هُريْرةَ ، ما فَعل أَسِيرُكَ الْبارِحةَ ؟ قُلْتُ : يا رسُول اللَّهِ شَكَا حاجةً وَعِيالاً فَرحِمْتُهُ ، وَخَلَّيتُ سبِيلَهُ ، فَقَال : إِنَّهُ قَدْ كَذَبكَ وسيَعُودُ . فرصدْتُهُ الثَّالِثَةَ . فَجاءَ يحْثُو مِنَ الطَّعام ، فَأَخَذْتهُ ، فقلتُ : لأَرْفَعنَّك إِلى رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وهذا آخِرُ ثَلاثٍ مرات أَنَّكَ لا تَزْعُمُ أَنَّكَ تَعُودُ ، ثُمَّ تَعُودُ، فقال : دعْني فَإِنِّي أُعلِّمُكَ كَلِماتٍ ينْفَعُكَ اللَّه بهَا ، قلتُ : ما هُنَّ ؟ قال : إِذا أَويْتَ إِلى فِراشِكَ فَاقْرأْ آيةَ الْكُرسِيِّ ، فَإِنَّهُ لَن يزَالَ عليْكَ مِنَ اللَّهِ حافِظٌ ، ولا يقْربُكَ شيْطَانٌ حتَّى تُصْبِحِ ، فَخَلَّيْتُ سبِيلَهُ فَأَصْبحْتُ ، فقَالَ لي رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : ما فَعلَ أَسِيرُكَ الْبارِحةَ ؟ فقُلتُ : يا رَسُول اللَّهِ زَعم أَنَّهُ يُعلِّمُني كَلِماتٍ ينْفَعُني اللَّه بهَا ، فَخَلَّيْتُ سبِيلَه. قال : مَا هِيَ ؟ قلت : قال لي : إِذا أَويْتَ إِلى فِراشِكَ فَاقرَأْ ايةَ الْكُرْسيِّ مِنْ أَوَّلها حَتَّى تَخْتِمَ الآيةَ : { اللَّه لا إِلهَ إِلاَّ هُو الحيُّ الْقَيُّومُ } وقال لي : لا يَزَال علَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ ، وَلَنْ يقْربَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فقال النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَمَا إِنَّه قَدْ صَدقكَ وَهُو كَذوبٌ ، تَعْلَم مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذ ثَلاثٍ يا أَبا هُريْرَة ؟ قلت : لا ، قال : ذَاكَ شَيْطَانٌ

"Aku diserahi oleh Rasulullah صلي الله عليه وسلم untuk menjaga sesuatu dari hasil zakat Ramadhan-yakni zakat fitrah. Kemudian datanglah padaku seorang pendatang, Segeralah ia mulai mengambil makanan itu - sepenuh tangannya lalu diletakkan dalam wadah. Aku lalu menahannya terus berkata: "Sungguh-sungguh engkau akan aku hadapkan kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم" Orang itu berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah seorang yang sangat memerlukan dan aku mempunyai tanggungan keluarga banyak serta saya mempunyai hajat yang sangat sekali -maksudnya amat fakirnya. Setelah itu ia pun saya lepaskan - dengan membawa makanan secukupnya. Pada pagi harinya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: "Hai Abu Hurairah, apakah yang dikerjakan oleh tawananmu - yakni orang yang kau pegang - tadi malam?" aku menjawab: "Ya Rasulullah, ia mengadukan bahwa ia mempunyai keperluan serta keluarga, lalu aku belas-kasihan padanya, maka dari itu aku lepaskan sekehendak jalannya - yakni sesuka hatinya pergi." Rasulullah صلي الله عليه وسلم lalu bersabda: "Sebenarnya saja orang itu telah berdusta padamu dan ia akan terus mengambil makanan" lalu aku tangkaplah ia, kemudian aku berkata: "Kini sungguh-sungguh aku akan menghadapkan engkau kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم dan ini adalah yang terakhir, kerana untuk kedua kalinya engkau datang, sedang engkau memastikan tidak akan datang, tetapi engkau datang lagi." Orang itu lalu berkata: "Biarkanlah aku - yakni supaya engkau lepaskan saja, sesungguhnya saya akan mengajarkan beberapa kalimat padamu yang dengannya itu Allah akan memberikan kemanfaatan padamu."

Aku berkata: "Apakah kalimat-kalimat itu." la menjawab: "Jikalau engkau hendak menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi, kerana sesungguhnya saja - kalau itu engkau baca, engkau akan senantiasa didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan engkau tidak akan didekati oleh syaitan sehingga engkau berpagi-pagi." Akhirnya orang itu aku lepaskan lagi sekehendak jalannya. Aku berpagi-pagi, lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda padaku: "Apakah yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" Aku menjawab: "la menyangka bahwa ia telah mengajarkan padaku beberapa kalimat yang dengannya itu Allah akan kembali lagi." Jadi aku mengetahui bahwa ia akan kembali kerana begitulah sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم Selanjutnya saya terus mengintipnya, tiba-tiba ia kembali lagi dan segera saja mengambil makanan lagi, lalu aku berkata: "Sungguh-sungguh aku akan menghadapkan engkau kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم" Ia berkata: "Biarkanlah saja - sekali ini, sebab sesungguhnya aku adalah seorang yang amat membutuhkan dan aku mempunyai banyak keluarga yang menjadi tanggunganku. Aku tidak akan kembali lagi." Sekali lagi aku menaruh belas-kasihan padanya, lalu aku lepaskan sekehendak jalannya. Ketika pagi menjelma, Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda padaku: "Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu tadi malam?" Aku berkata: "la mengadukan lagi bahwa ia amat memerlukan dan mempunyai banyak tanggungan keluarga, maka dari itu aku belas-kasihan padanya dan aku lepaskanlah sekehendak jalannya." Beliau صلي الله عليه وسلم lalu bersabda: "Sesungguhnya ia berkata dusta padamu dan ia akan kembali lagi." aku mengintipnya untuk ketiga kalinya. la datang dan memberikan kemanfaatan padaku, lalu aku lepaskanlah ia menurut sekehendak jalannya."

Beliau صلي الله عليه وسلم bertanya: "Apakah kalimat-kalimat itu?" Aku menjawab: "la berkata kepadaku: "Jikalau engkau menempati tempat tidurmu, maka bacalah ayat al-Kursi sejak dari permulaannya sehingga engkau habiskan ayat itu sampai selesai, yaitu: Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qayyum." la melanjutkan katanya kepada ku: "Jikalau itu engkau baca, maka engkau selalu akan didampingi oleh seorang penjaga dari Allah dan syaitan tidak akan mendekat padamu sehingga engkau berpagi-pagi." Nabi صلي الله عليه وسلم lalu bersabda: "Sesungguhnya ia telah berkata benar padamu - yakni kalau membaca ayat al-Kursi, maka akan terus mendapat penjagaan dari Allah, tetapi orang itu sendiri sebenarnya adalah pendusta besar. Adakah engkau mengetahui, siapakah yang engkau ajak bicara selama tiga malam berturut-turut itu?" aku menjawab: "Tidak." Beliau صلي الله عليه وسلم lalu bersabda: "Itu adalah syaitan."
(Riwayat Bukhari)

Keterangan:
Ayat al-Kursi yang dimaksudkan dalam Hadis di atas ialah sebagaimana yang tercantum di bawah ini dan sebelum membaca ayat tersebut, sebaiknya membaca Ta'awwudz dulu yaitu: A'udzu billahu minasy syatthanir rajiim, selanjutnya barulah membaca ayat al-Kursi yang tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 255, bunyinya:


اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar "

Dari Abu Darda' رضي الله عنه bahwasanya Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

منْ حفِظَ عشْر آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورةِ الْكَهْف ، عُصمَ منَ الدَّجَّالِ
وفي رواية : مِنْ آخِرِ سُورةِ الكهْف

"Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia terjaga dari gangguan Dajjal." Dalam riwayat lain disebutkan: "Dari akhir surat al-Kahfi." [1] (Riwayat Muslim)

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, katanya:

بيْنَما جِبْرِيلُ عليهِ السَّلام قاعِدٌ عِندَ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ ، فَرَفَعَ رَأْسَه فَقَالَ : هذا باب مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ اليَوْمَ ولَمْ يُفْتَح قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ ، فَنَزَلَ مِنه مَلكٌ فقالَ : هذا مَلَكٌ نَزَلَ إِلى الأَرْضِ لم يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ اليَوْمَ فَسَلَّمَ وقال : أَبشِرْ بِنورَينِ أُوتِيتَهُمَا ، لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبلَكَ : فَاتحةِ الكتاب ، وخَواتِيم سُورَةِ البَقَرةِ ، لَن تَقرأَ بحرْفٍ منها إِلاَّ أُعْطِيتَه

"Pada suatu ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi صلي الله عليه وسلم, lalu mendengar suara - pintu terbuka - di atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: "Ini adalah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah sama sekali dibuka, melainkan pada hari ini." Kemudian turunlah dari pintu tadi seorang malaikat, lalu Jibril berkata: "Ini adalah malaikat yang turun ke bumi dan tidak pernah turun sama sekali, melainkan pada hari ini." Malaikat yang baru turun itu lalu memberi salam dan berkata: "Bergembiralah - hai Muhammad - dengan dua cahaya yang dikurniakan kepada Tuan dan tidak pernah dikurniakan kepada Nabi siapapun sebelum Tuan, yaitu fatihatul kitab-yakni surah al-Fatihah dan beberapa ayat penghabisan dari surat al-Baqarah. Tidaklah Tuan membaca sehuruf dari keduanya itu, melainkan Tuan akan diberi - pahala besar." (Riwayat Muslim)

Annaqiidh artinya suara - separti suara pintu dan lain-lain.
________________

[1] Hadits dalam riwayat yang lain مِنْ آخِرِ سُورَةِ الكَهْفِ adalah syadz, karena matan hadits sesuai dengan riwayat yang benar adalah, (Sepuluh ayat dari awal surat Al Kahfi). Syahid hadits ini juga terdapat dalam riwayat Muslim yang diriwayatkan oleh An-Nawas bin Sam'an, yaitu:

فَمَنْ أدْرَكَه مِنْكُمْ ، فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورةِ الْكَهْفِ
''Barangsiapa dari kalian yang mendapatinya (gangguan Dajjal), hendaknya membaca awal surah Al Kahfi"
Imam An-Nawawi juga mencantumkan hadits syahid tersebut nomor 1817.
Lihat Silsilah Al Ahadits Ash-Shahihah hadits no. 582 dan hadits no. 1021

***

Sunnahnya Berkumpul Untuk Membaca Al-Quran

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, katanya: "Rasulullah صلي الله عليه وسلم .bersabda:

ومَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ في بَيْتٍ من بُيوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كتاب اللَّهِ ، ويتَدَارسُونَه بيْنَهُم ، إِلاَّ نَزَلتْ علَيهم السَّكِينَة ، وغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَة ، وَحَفَّتْهُم الملائِكَةُ ، وذَكَرهُمْ اللَّه فيِمنْ عِنده

"Tiada suatu kaum pun yang sama berkumpul dalam salah satu rumah dari rumah-rumah Allah - yakni masjid - sambil membaca Kitabullah dan saling bertadarus di antara mereka itu - yaitu berganti-gantian membacanya, melainkan turunlah ketenangan di atas mereka, serta mereka akan diliputi oleh kerahmatan dan diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebut-nyebutkan mereka itu kepada makhluk-makhluk yang ada di sisiNya - yakni para malaikat." 
(Riwayat Muslim)

***
Sumber: www.ibnumajjah.wordpress.com

Adab Membaca Al-Qur'an

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:

1. Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)

2. Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh bersabda, “Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)

Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR. Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.

3. Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.

4. Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.

5. Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98)

Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.

Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.

***
Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf
Artikel www.muslim.or.id

Artikel terkait: Menyentuh Mushaf Al-Qur'an Bagi Orang yang Berhadats

Sebarkan artikel ini :


Artikel Terkait :

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Aqidah

Ibadah

Nasehat

Hukum Islam

Penyejuk Hati

Faedah Ilmu