Hinanya Hati yang Keras
Oleh Ustadz Abu Ahmad Said Yai
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ
رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ
أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk
(menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama
dengan orang yang hatinya keras)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi
mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam
kesesatan yang nyata [az-Zumar/39:22]
RINGKASAN TAFSIR[1]
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan oleh Allâh hatinya untuk
(menerima) agama Islam”, yaitu dengan dipermudah untuk mengenal-Nya,
bertauhid kepada-Nya, taat akan perintah-Nya dan menjadi bertambah
semangat untuk mengerjakan ajaran Islam. Dan ini adalah pertanda yang
baik bagi seseorang.
“Lalu ia mendapat cahaya dari Rabb-nya”, yaitu cahaya kebenaran yang
membuat hatinya bertambah yakin. Apakah mereka itu sama dengan orang
yang hatinya keras? Tentu saja tidak sama.
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk
mengingat Allâh”, yaitu mereka yang hatinya tidak lunak ketika
diingatkan akan Allâh, tidak khusyû’, tidak paham, tidak sadar dan
selalu membangkang.
“Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” yang akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan.
HATI MEMILIKI SIFAT
Setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Sifat-sifat tersebut
pun bisa berubah-ubah setiap waktu. Begitu pula hati, dia pun memiliki
sifat. Hati bisa menjadi sehat dan juga bisa menjadi sakit. Allâh Azza
wa Jalla berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allâh penyakitnya .... [al-Baqarah/2:10]
Hati juga bisa menjadi lunak dan juga bisa menjadi sekeras batu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
Kemudian setelah itu hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi [al-Baqarah/2:74]
Begitu pula hati bisa mengkilap, bersinar dan bisa juga menjadi hitam
kelam sebagaimana diterangkan di beberapa hadits Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Oleh karena itu, sebisa mungkin seorang Muslim
memperhatikan kondisi hatinya setiap saat, jangan sampai menjadi hati
yang keras atau mulai mengeras sehingga nantinya akan menjadi keras dan
sulit menerima kebenaran. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.
BAHAYA HATI YANG KERAS
Ayat di atas dengan jelas menerangkan bahwa orang yang hatinya keras
sangat tercela dan dalam kesesatan yang nyata. Mâlik bin Dînâr
rahimahullah pernah berkata, "Seorang hamba tidaklah dihukum dengan
suatu hukuman yang lebih besar daripada hatinya yang dijadikan keras.
Tidaklah Allâh Azza wa Jalla marah terhadap suatu kaum kecuali Dia akan
mencabut rasa kasih sayang-Nya dari mereka.[2]
TANDA-TANDA HATI YANG KERAS ATAU MULAI MENGERAS
Hati yang keras atau mulai mengeras memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
1. Bermalas-malasan dalam mengerjakan kebaikan dan ketaatan, serta meremehkan suatu kemaksiatan.
2. Tidak terpengaruh hatinya dengan ayat-ayat al-Qur’ân yang dibacakan.
Berbeda dengan kaum mu’minîn, hati mereka akan bergetar jika dibacakan
ayat-ayat al-Qur’ân atau diingatkan akan Allâh Azza wa Jalla . Allâh
Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ
قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb-lah mereka
bertawakkal. [al-Anfâl/8:2]
3. Tidak terpengaruh hatinya dengan berbagai ujian, musibah dan cobaan
yang diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla . Allâh berfirman yang artinya:
أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ
Dan tidakkah mereka (orang-orang munâfiq) memperhatikan bahwa mereka
diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga)
bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran? [at-Taubah/9:126]
4. Tidak merasa takut akan janji dan ancaman Allâh Azza wa Jalla
5. Bertambahnya kecintaan terhadap dunia dan mendahulukannya di atas akhirat
6. Tidak tenang hatinya dan selalu merasa gundah
7. Bertambahnya dan meningkatnya kemaksiatan yang dilakukannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allâh memalingkan hati
mereka. Dan Allâh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik
[ash-Shaf/61:5]
8. Tidak mengenal atau tidak membedakan perbuatan ma’ruf dan munkar.
SEBAB-SEBAB KERASNYA HATI
Hati menjadi keras tentu ada penyebabnya. Penyebab-penyebab kerasnya hati di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kesyirikan, Kekufuran Dan Kemunafikan.
Inilah sebab yang paling besar yang dapat menutupi hati seseorang dari
menerima kebenaran. Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا
بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ
وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena
mereka telah mempersekutukan Allâh dengan sesuatu yang Allâh sendiri
tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah
neraka. Dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim
[Ali ‘Imrân/3:151]
2. Melanggar Perjanjian Yang Dibuat Kepada Allâh Azza wa Jalla
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka kami laknat mereka, dan
kami jadikan hati mereka keras membatu. [al-Mâ-idah/5:13]
Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Abu Bakr Al-Jazâiri, “Melanggarnya
(perjanjian) dengan (car) tidak konsisten dengan apa yang ada di
dalamnya yang berupa perintah dan larangan.”[3]
3. Tertawa Berlebihan
Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُكْثِرُوا الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Janganlah kalian banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati [4]
4. Banyak Berbicara Dan Banyak Makan
Bisyr bin al-Hârits pernah berkata, "(Ada) dua hal yang dapat mengeraskan hati: banyak berbicara dan banyak makan.”[5]
5. Banyak Melakukan Dosa
Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ
، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ ، صُقِلَ قَلْبُهُ ، فَإِنْ زَادَ ،
زَادَتْ ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ : [[
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ]]
Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan dosa, maka akan ada bintik
hitam di hatinya. Jika dia bertaubat dan berhenti (dari dosa tersebut)
serta memohon ampunan, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia terus
melakukan dosa, maka bertambah pula noktah hitam itu. Itu adalah ar-rân
(penutup) yang disebutkan oleh Allâh di kitab-Nya: ‘Sekali-kali tidak
(demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka [al-Muthaffifîn/83:14]
6. Lalai Dari Ketaatan
Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ
لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ
بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ
بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allâh), mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allâh) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
mendengar (ayat-ayat Allâh). Mereka itu seperti binatang-binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang
lalai [al-A’râf/7:179]
7. Nyanyian Dan Alat Musik
‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata:
الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِى الْقَلْبِ
Lagu-laguan menumbuhkan kemunafikan di dalam hati [6]
8. Suara Wanita Yang Menggoda
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
Maka janganlah kamu tunduk (menghaluskan suara) dalam berbicara sehingga
berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah
perkataan yang baik [al-Ahzâb/33:32]
9. Melakukan Hal-Hal Yang Merusak Hati
Hal-hal yang merusak hati sangatlah banyak. Akan tetapi, dari semua itu
ada lima hal yang menjadi faktor perusak hati. Kelima hal tersebut
sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Qayyim rahimahullah : “Adapun lima hal
yang merusak hati adalah banyak bergaul (berkumpul dengan manusia),
(banyak) berangan-angan, tergantung kepada selain Allâh Azza wa Jalla ,
kekenyangan (banyak makan) dan (banyak) tidur. Inilah kelima hal utama
yang dapat merusak hati ”[7]
OBAT HATI YANG KERAS
Hati yang keras juga memiliki obat agar dia bisa kembali melunak. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat melunakkan hati:
1. Beriman kepada Allâh Azza wa Jalla dan selalu meningkatkan keimanan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
Barangsiapa yang beriman kepada Allâh niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya [at-Taghâbun/64:11]
2. Banyak mengingat Allâh (ber-dzikr) dan membaca al-Qur’ân dengan men-tadabburi-nya (memahami dan merenungi maknanya).
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allâh-lah hati
menjadi tenteram [ar-Ra’d/13 : 28]
3. Belajar ilmu syar’i (ilmu agama)
Tidak diragukan lagi, bahwa ilmu syar’i dapat membimbing seseorang untuk
menjadi hamba Allâh Azza wa Jalla yang bertakwa. Di awal surat Ali
‘Imrân, Allâh Azza wa Jalla memuji orang-orang yang memiliki ilmu yang
dalam. Tahukah pembaca, doa apakah yang mereka ucapkan? Doa yang
diucapkan oleh mereka adalah:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati-hati kami condong kepada
kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha
pemberi (karunia) [Ali ‘Imrân/3:8]
Merekalah yang lebih tahu akan Rabb-nya bila dibandingkan orang-orang
awam dan mereka juga lebih tahu bahwa hati manusia bisa berubah-ubah,
sehingga mereka berdoa dengan doa tersebut.
4. Berlindung kepada Allâh dari hati yang tidak khusyû’ dengan doa yang
telah diajarkan oleh Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam , yang berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ
لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ
لَهَا
Ya Allâh! Aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang bermanfaat, dari
hati yang tidak khusyû’, dari jiwa yang tidak kenyang dan dari doa yang
tidak dikabulkan[8]
5. Berbuat baik terhadap anak yatim dan orang miskin
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya seseorang
mengadu kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hatinya yang
keras. Beliau Sallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
Jika engkau ingin agar hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim [9]
6. Banyak mengingat kematian
Diriwayatkan dari Shafiyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya seorang wanita
mendatangi ‘Âisyah Radhiyallahu anhuma dan mengadukan keadaan hatinya
yang keras. Kemudian ‘Âisyah pun berkata, “Perbanyaklah mengingat
kematian, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.” Kemudian
wanita itu pun mengerjakannya. Setelah itu, dia pun mendapatkan petunjuk
di hatinya dan bersyukur kepada ‘Âisyah radhiallâhu 'anhâ.[10]
Sa’îd bin Jubair[11] dan Rabî’ bin Abi Râsyid[12] rahimahumallâh pernah berkata:
لَوْ فَارَقَ ذِكْرُ الْمَوْتِ قَلْبِي سَاعَةً خَشِيت أَنْ يَفْسُدَ قَلْبِي
Seandainya mengingat kematian terpisah dari hatiku sekejap saja, saya takut hatiku akan menjadi rusak
7. Banyak berziarah kubur
Abu Thâlib, seorang murid Imam Ahmad, pernah berkata, “Seorang laki-laki
pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillâh (Imam Ahmad) tentang bagaimana
melunakkan hatinya. Beliau pun menjawab, ‘Masuklah ke dalam pemakaman
dan usaplah kepala anak yatim.’.”[13]
8. Menghadiri majlis ta’lim dan majlis nasihat
Menghadiri majlis-majlis seperti ini sangat berpengaruh terhadap hati
manusia. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh al-‘Irbâdh bin
Sâriyah Radhiyallahu anhu, “Pada suatu hari Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat, kemudian menghadap ke kami dan
memberikan nasihat yang sangat menyentuh, yang membuat mata-mata
menangis dan hati-hati menjadi takut.”[14]
9. Menjauhi sebab-sebab terjadinya fitnah dan dosa
Agar hati kita tidak menjadi keras, maka kita berusaha sekuat mungkin
untuk menjauhi sebab-sebab terjadinya dosa atau fitnah. Oleh karena itu,
Allâh Azza wa Jalla melarang para Sahabat bertanya atau meminta sesuatu
hal kepada istri-istri Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dari
belakang tabir.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri
Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih
suci bagi hatimu dan hati mereka [al-Ahzâb/33:53]
10. Makan makanan yang halal
Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya oleh seseorang, “Dengan apa hati
bisa menjadi lunak?” Kemudian beliau pun menjawab, “Ya bunayya (wahai
anakku)! Dengan makan makananan yang halal.”[15]
11. Shalat malam
12. Beribadah dan mendekatkan diri kepada Allâh di waktu sahûr (sebelum Subuh)
13. Berteman dengan orang-orang yang soleh,
Ibrâhim al-Khawwâsh rahimahullah pernah berkata:
دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاء : قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
بِالتَّدَبُّرِ, وَخَلَاءُ الْبَطْنِ, وَقِيَامُ اللَّيْلِ, وَالتَّضَرُّعُ
عِنْدَ السَّحْرِ, وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ
Obat hati ada lima macam, yaitu: membaca al-Qur’ân dengan
men-tadabburi-nya, mengosongkan perut, shalat malam, mendekatkan diri
(kepada Allâh) di waktu sahûr dan duduk-duduk (berteman) dengan
orang-orang yang soleh[16]
KESIMPULAN
1. Hati memiliki sifat-sifat yang bisa berubah-ubah.
2. Orang yang telah dibukakan hatinya untuk menerima agama Islam dan
taat kepada Allâh tidak sama dengan orang yang berhati keras.
3. Orang yang berhati keras akan mendapatkan ancaman yang sangat besar
4. Orang yang berhati keras memiliki sifat-sifat tertentu seperti yang
sudah dipaparkan di atas. Seyogyanya seorang Muslim selalu melakukan
introspeksi diri.
5. Hati bisa menjadi keras disebabkan oleh beberapa hal. Oleh karena itu, sebisa mungkin kita menjauhi sebab-sebab tersebut.
6. Hati yang keras pun dapat diobati dengan berbagai cara yang telah disebutkan.
7. Orang-orang yang telah terjerumus kepada kemaksiatan atau merasa
bahwa hatinya sangat keras, maka harus segera bertaubat dan Allâh akan
mengampuni orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada-Nya.
Mudahan bermanfaat dan mudah-mudahan Allâh selalu menjaga hati kita agar tetap lunak. Amin.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ. آمِيْن
DAFTAR PUSTAKA
1. Aisarut-Tafâsîr li kalâm ‘Aliyil-Kabîr. Jâbir bin Musa Al-Jazâiri.
2. At-Tahrîr wa At-Tanwîr. Muhammad Ath-Thâhir bin 'Âsyûr. 1997. Tunusia: Dar Sahnûn.
3. Dzammu Qaswatil-Qalb. Al-Hâfizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dan muqaddimah
muhaqqiq-nya, Abu Maryam Thâriq bin ‘Âtif Hijâzi. Dâr Ibni Rajab.
4. Dzammul-Hawâ. ‘Abdurrahmân bin Abil-Hasan al-Jauzi. Tahqîq : Mushthafâ ‘Abdul-Wâhid.
5. Jâmi'ul-Bayân fî ta'wîlil-Qur'ân. Muhammad bin Jarîr ath-Thabari. Beirut: Muassasah ar-Risâlah.
6. Ma'âlimut-tanzîl. Abu Muhammad al-Husain bin Mas'ûd al-Baghawi. 1417 H/1997 M. Riyâdh:Dâr Ath-Thaibah.
7. Madârijus-Sâlikîn. Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Beirut: Dâru Ihyâ’ At-Turâts Al-‘Arabi.
8. Syu’abul-Îmân. Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqi. 2003 M/1423 H. Riyâdh: Maktabatur-Rusyd.
9. Tafsîr al-Qur'ân al-'Azhîm. Ismâ'îl bin 'Umar bin Katsir. 1420 H/1999 M. Riyâdh: Dâr Ath-Thaibah.
10. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Sumber: http://almanhaj.or.id
_______
Footnote
[1]. Diringkas dari Tafsîr at-Thabari XXI/277-278, Tafsîr Ibni Katsîr
III/334-336 dan VII/93 dan at-Tahrîr wa At-Tanwîr XXIV/63-64.
[2]. Ma’âlimut-Tanzîl VII/115.
[3]. Aisarut-Tafâsîr I/338.
[4]. HR. Ibnu Mâjah no. 4193 dan yang lainnya (Dinyatakan shahîh oleh Syaikh Al-Albâni di Shahîh Ibni Mâjah).
[5]. Hilyatul-Auliyâ’ VIII/350 .
[6]. HR. al-Baihaqi dalam Syu’abil-Îmân VII/107 dan yang lainnya (Hadîts
mauqûf ini dinyatakan shahîh isnâd-nya oleh Syaikh Al-Albâni dalam
Silsilah Adh-Dha’îfah ketika men-takhrîj hadîts no. 2430).
[7]. Madârijus-Sâlikîn I/343.
[8]. HR. Muslim no. 7081 dan yang lainnya.
[9]. HR. Ahmad no. 7576 dan 9018. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam ash-Shahîhah no. 854.
[10]. HR. Ibnu Abi ad-Dunya (takhrîj ini dinukil dari kitab Dzammu Qaswatil-qalb).
[11]. HR. Ahmad dalam az-Zuhd no. 2006, Hilyatul-Auliya’ IV/276 dan yang lainnya.
[12]. HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf XIII/562 dan yang lainnya.
[13]. Thabaqât al-Hanâbilah I/39.
[14]. HR. Abu Dâwud no. 4607, at-Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Mâjah no. 43
(Hadîts ini dinyatakan shahîh oleh Syaikh Al-Albâni dalam Shahih Abi
Dâwûd).
[15]. Hilyatul-Auliyâ’ IX/182.
[16]. Dzammul-Hawâ I/70.
0 komentar:
Posting Komentar