Dan ketahuilah bahwa bab ini sangat luas, tidak memungkinkan untuk mengkajinya secara menyeluruh dan tidak mungkin pula mencakup kesemuanya walaupun sepersepuluhnya, akan tetapi saya menunjukkan kepada intinya yang paling penting.
Yang pertama sekali adalah doa-doa yang disebutkan dalam al-Qur`an yang telah Allah kabarkan, dari para nabi ’Alaihimus Shalatu Was Salam dan dari orang-orang yang terpilih. Dan doa-doa ini sangat banyak dan terkenal.
Yang lain adalah doa yang shahih dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau mengamalkannya atau mengajarkannya kepada orang lain, dan bagian ini sangat banyak sekali. Sejumlah doa-doa tersebut telah dikemukakan dalam bab-bab terdahulu, dan saya akan menyebutkannya di sini beberapa doa yang shahih sebagai tambahan doa-doa di dalam al-Qur`an dan doa-doa yang telah dibahas terdahulu. Wabillahi at-Taufiq.
اَلدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ.
Shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, no. 801; Abdurrazaq dalam at-Tafsir, no.2685; Ibnu Abi Syaibah, no. 29158; Ahmad 4/267, no. 271 dan 276; al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 714; Ibnu Majah, Kitab ad-Du'a`, Bab Fadhlu ad-Du'a`, 2/1258, no. 3828; Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab ad-Du'a`, 1/466, no. 1479; at-Tirmidzi, Kitab at-Tafsir, Bab Surah al-Mukmin, 5/374, no. 3247 dan 3372; an-Nasa`i dalam al-Kubra, no. 11643-Tuhfah; Ibnu Hibban, no. 890; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 1-7; al-Hakim 1/490; Abu Nu'aim dalam al-Hilyah 8/120; al-Qudha`i, no. 29; al-Baihaqi dalam asy-Syu'ab, no. 1105; dan al-Baghawi, no. 1384: dari dua jalur sanad, dari Dzar, dari Yusai' al-Kindi, dari an-Nu'man bin Basyir dengan hadits tersebut.
(1221) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dengan isnad yang jayyid (baik) dari Aisyah radhiyallahu 'anha, dia berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذلِكَ.
Shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thayalisi, no. 1491; Ahmad 6/148 dan 189; Abu Dawud, Ibid., 1/467, no. 1482; Ibnu Hibban, no. 867; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 50; dan al-Hakim 1/538: dari beberapa jalur, dari al-Aswad bin Syaiban, dari Abu Naufal bin Aqrab, dari Aisyah dengan hadits tersebut.
Sanad ini shahih, para perawinya adalah tsiqah, perawi Muslim dan al-Mundziri, an-Nawawi serta as-Sakhawi telah menghasankannya, sedangkan al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani telah menshahihkannya.
(1222) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,
لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ تعالى مِنَ الدُّعَاءِ.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib." Kami tidak mengetahuinya secara marfu' kecuali dari hadits Imran al-Qaththan." Ath-Thabrani berkata, "Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Qatadah melainkan Imran al-Qaththan." Dan al-Baghawi berkata, "Hadits ini gharib." Saya berkata, Hadits Imran tidak patut ditadh'ifkan, bahkan ia hasan atau dekat dengannya, sedang rawi-rawi sisanya adalah tsiqah. Dia tidak sendiri dalam meriwayatkannya sebagaimana disebutkan oleh at-Tirmidzi dan ath-Thabrani, akan tetapi dia dimutaba'ah, maka al-Qudha`i, no. 1214 meriwayatkannya dari jalur Basyar al-Khaffaf, Abdurrahman bin Mahdi telah memberitahukan kepada kami, dari Aban al-Athar, dari Qatadah. Dan Basyar dhaif, banyak melakukan kesalahan. Al-Bukhari telah meriwayatkannya secara mu'allaq dalam at-Tarikh 2/355, dari jalur Abu al-Malih al-Farisi, dia mendengar Abu Shalih, dia mendengar Abu Hurairah. Dan Abu Shalih ini adalah al-Khuzi, dia layyin (lemah), akan tetapi berkumpulnya jalur-jalur ini menjadikan hadits ini kuat dan shahih, at-Tirmidzi dan al-Albani menghasankannya, Ibnu Hibban, al-Hakim, al-Mundziri dan adz-Dzahabi men-shahihkannya.
(1223) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكُرَبِ، فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ.
Dan Syahr padanya terdapat kelemahan, dan tidak jauh apabila dia layak dalam kapasitas Mutaba'ah. Dan dia telah diikuti, maka ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 44, dan al-Hakim 1/544 meriwayatkannya dari beberapa jalur, dari Abdullah bin Shalih, Muawiyah bin Shalih telah menceritakan kepada kami, dari Abu Amir al-Alhani, dari Abu Hurairah. Al-Hakim menshahihkannya dan adz-Dzahabi menyetujuinya, dan dia tidak demikian: Abdullah bin Shalih dalam dirinya terdapat kelemahan sehingga tidak akan menjadi layak dalam syawahid. Sedangkan Abu Amir maka al-Hakim menampakkan bahwa dia adalah al-Hauzani. Dan saya menduga bahwa dia adalah al-Yahshabi al-Muqri' ad-Dimasyqi, keduanya adalah tsiqah, sehingga sanadnya la ba`sa bihi dalam syawahid. Dengan terkumpulnya dua jalurnya, maka hadits tersebut tidak akan turun dari derajat hasan. Al-Hakim telah menshahihkannya. Al-Mundziri dan adz-Dzahabi menyepakatinya, dan al-Albani menghasankannya.
كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم :
اللّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Muslim menambahkan dalam riwayatnya, dia berkata,
وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ، دَعَا بِهَا، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ، دَعَا بِهَا فِيْهِ.
(1225) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab at-Ta'awwudz Min Syarri Ma Amila, 4/2087, no. 2721.
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
(1226) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Fadhl at-Tahlil wa at-Tasbih, 4/2073, no. 2697.
dari Thariq bin Asyyam al-Asyja'i yang seorang sahabat radiyallahu 'anhu, dia berkata,
كَانَ الرَّجُلُ إِذَا أَسْلَمَ عَلَّمَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الصَّلاَةَ ثُمَّ أَمَرَهُ أَنْ يَدْعُوَ بِهذِهِ الْكَلِمَاتِ:
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي.
Dan dalam riwayat Muslim yang lain, dari Thariq, bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, ketika didatangi seorang laki-laki dan bertanya kepada beliau,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ أَقُوْلُ حِيْنَ أَسْأَلُ رَبِّيْ؟ قَالَ: قُلْ:
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَعَافِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ،
فَإِنَّ هؤُلاَءِ تَجْمَعُ لَكَ دُنْيَاكَ وَآخِرَتَكَ.
(1227) Kami meriwayatkan di dalamnya, (Yaitu Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, Bab Tashrifullah al-Qulub, 4/2045, no. 2654.) dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radiyallahu 'anhu , dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
اللّهُمَّ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ.
(1228) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,
تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلاَءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ اْلأَعْدَاءِ.
(1229) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ.
Dan dalam riwayat yang lain, (terdapat tambahan),
وَضَلْعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.
Saya berkata, Kata ضَلْعُ الدِّيْنِ bermakna banyak dan beratnya tanggungan hutang, sedangkan kata 'الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ' bermakna kehidupan dan kematian."
(1230) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhuma, bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam,
عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُوْ بِهِ فِي صَلاَتِي. قَالَ: قُلْ:
اللّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Saya berkata, Doa ini diriwayatkan (dalam dua versi); كَثِيْرًا (banyak) dan كَبِيْرًا(besar), dan telah kami kemukakan penjelasannya dalam bab tentang dzikir-dzikir shalat, maka dianjurkan bagi seseorang yang berdoa untuk mengucapkannya secara bersamaan كَبِيْرًا .كَثِيْرً
(1231) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Musa al-Asy'ari radiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau pernah berdoa dengan doa ini
(1232) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu 'anha , bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam doanya,
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ.
(1233) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab Aktsaru Ahl al-Jannah al-Fuqara`, 4/2097, no. 2739. dari Ibnu Umar radiyallahu 'anhu, dia berkata,
كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم :
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ.
"Di antara doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah, 'Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari hilangnya nikmatMu, berubahnya keafiatan (dari)Mu, dan pembalasanMu yang tiba-tiba serta dari segala murkaMu'."
(1234) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab at-Ta'awwudz Min Syarri Ma Amila, 4/2088, no. 2722. dari Zaid bin Arqam radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Saya tidak mengucapkan kepada kalian kecuali sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah ucapkan, beliau pernah mengucapkan,
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ. اللّهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا. اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا.
(1235) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Ibid., 4/2090, no. 2725 dari Ali radiyallahu 'anhu , dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
قُلْ: اللّهُمَّ اهْدِنِيْ وَسَدِّدْنِيْ.
Dan dalam riwayat lain dikatakan,
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ.
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلِّمْنِيْ كَلاَمًا أَقُوْلُهُ. قَالَ: قُلْ:
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لله كَثِيْرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ.
قَالَ: فَهؤُلاَءِ لِرَبِّيْ، فَمَا لِيْ؟ قَالَ: قُلْ:
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، وَارْحَمْنِيْ، وَاهْدِنِيْ، وَارْزُقْنِيْ، وَعَافِنِيْ.
(1237) Kami meriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab at-Ta'awwudz Min Syarri Ma Amila, 4/2087, no. 2720. dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengucapkan,
(1238) Kami meriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda
اَللّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ. اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِيْ، أَنْتَ الْحَيُّ اْلقَيُّوْمُ الَّذِي لاَ يَمُوْتُ، وَالْجِنُّ وَاْلإِنْسُ يَمُوْتُوْنَ.
(1239) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa`i dan Sunan Ibnu Majah, dari Buraidah radiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berkata
فَقَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ صلى الله عليه وسلم بِاْلاِسْمِ الَّذِيْ إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ.
Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 35596; Ahmad 5/349, no. 350 dan 360; Ibnu Majah, Kitab al-Adab, Bab Ismullah al-A'zham, 2/1267, no. 3857; Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab ad-Du'a`, 1/469, no. 1493; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab Jami' ad-Da'awat, 5/515, no. 3475; an-Nasa`i dalam al-Kubra, no. 1998-Tuhfah; Ibnu Hibban, no. 891 dan 892; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 114; al-Hakim 1/504; al-Baghawi, no. 1259 dan 1260; dan al-Ashbahani dalam at-Targhib no. 1297: dari beberapa jalur, dari Malik bin Mighwal, dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya dengan hadits tersebut.
Abu al-Hasan al-Maqdisi berkata sebagaimana yang dinukil oleh al-Mundziri, "Ia adalah isnad yang tidak ada celaan di dalamnya". Saya berkata, Tentu ada, mereka telah berselisih tentangnya dalam beberapa pendapat: Muhammad bin Juhadah meriwayatkannya dari seseorang, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Mizzi dalam at-Tuhfah, no. 1998. Dan diriwayatkan Muhammad bin Juhadah juga dari Sulaiman dari ayahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu as-Suni, no. 758. Husain al-Mu'allim meriwayatkannya dari Abdullah bin Buraidah dari Mihjan al-Arda' sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa`i. Ini bukanlah aib, karena mayoritas jalur ini adalah shahih. Dan mengumpulkan antara jalan-jalan tersebut adalah gampang. Hadits tersebut dihasankan oleh at-Tirmidzi. Al-Hakim dan adz-Dzahabi menshahihkannya berdasarkan syarat keduanya (al-Bukhari dan Muslim). Al-Maqdisi menguatkannya, dan disepakati oleh al-Mundziri. Al-Albani menshahihkannya.
Dan dalam suatu riwayat dikatakan,
لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ بِاسْمِهِ اْلأَعْظَمِ.
(1240) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa`i, dari Anas radiyallahu 'anhu,
إِنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا، وَرَجُلٌ يُصَلِّي، ثُمَّ دَعَا:
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ، بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ، يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ ،
فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: لَقَدْ دَعَا اللهَ تعالى بِاسْمِهِ الْعَظِيْمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى.
Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad 3/158 dan 245; al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 705; Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab, 1/469, no. 1495; an-Nasa`i, Kitab as-Sahw, Bab ad-Du'a` Ba'da adz-Dzikr, 3/52, no. 1299; Ibnu Hibban, no. 893; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 116; al-Hakim 1/503; al-Baghawi, no. 1258; al-Ashbahani dalam at-Targhib, no. 1297: dari beberapa jalur, dari Khalaf bin Khalifah, dari Hafsh anak saudara Anas, dari Anas dengan hadits tersebut.
Al-Hakim dan adz-Dzahabi menshahihkannya berdasarkan syarat Muslim, namun keduanya tidak benar. Karena Muslim meriwayatkan dari Khalaf hanya dalam kapasitas syawahid. Khalaf tidak tertolak dari segi kejujuran, akan tetapi dia mengalami perubahan hafalan (pikun) dan kerancuan sebelum meninggalnya. Maka orang semisalnya tidak layak untuk dihasankan haditsnya, apalagi dishahihkan. Akan tetapi dia layak dalam syawahid.
Akan tetapi hadits tersebut telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab Khalaqallah Mi'ata Rahmah, 5/550, no. 3544: dari jalur Sa'id bin Zarbi, dari 'Ashim al-Ahwal dan Tsabit, dari Anas. At-Tirmidzi berkata, "Gharib dari hadits Tsabit dari Anas." Saya berkata, "Tidak berharga karena adanya Sa'id ini, karena dia haditsnya munkar, dan tertuduh palsu." Dan Ahmad meriwayatkannya 3/265, ath-Thabrani dalam al-Mu'jam ash-Shaghir, no. 1041; dan al-Hakim 1/504: telah meriwayatkannya dari dua jalur di mana yang satu menguatkan yang lainnya, dari Ibrahim bin Ubaid bin Rifa'ah, dari Anas. Dan hadits ini hasan dengan berkumpulnya kedua jalurnya. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 35597; Ahmad 3/120; Ibnu Majah, Kitab al-Adab, Bab Ismullah al-A'zham, 2/1268, no. 3858: telah meriwayatkannya dari jalur Waqi', dari Abu Khuzaimah, dari Anas bin Sirin, dari Anas. Dan Abu Khuzaimah adalah al-Abdi al-Bashri, dia adalah shaduq, haditsnya kuat, sedangkan rawi-rawi sisanya adalah tsiqah, maka sanadnya adalah hasan atau di atas itu. Dan tidaklah diragukan bahwa hadits ini shahih dengan berkumpulnya jalur-jalur ini, al-Haitsami telah menguatkannya, Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani telah menshahihkannya.
(1241) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa`i dan Sunan Ibnu Majah dengan isnad yang shahih dari Aisyah radhiyallahu 'anha,
إِنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَدْعُو بِهؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ:
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ، وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ الْغِنَى وَالْفَقْرِ.
Ini adalah lafazh Abu Dawud. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."
(1242) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Ziyad bin Ilaqah, dari pamannya -yaitu Quthbah bin Malik radiyallahu 'anhu- dia berkata, "Nabi Shallallohu 'alaihi wasallam pernah berdoa,
Dan hadits ini sanad perawinya tsiqah, merupakan perawi asy-Syaikhain, kecuali Quthbah, haditsnya hanya diriwayatkan oleh Muslim saja, maka sanadnya berdasarkan syaratnya sebagaimana dipastikan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi. Sedangkan penghasanan at-Tirmidzi dan an-Nawawi, maka ia berdasarkan sanad at-Tirmidzi saja. Dan al-Albani telah menshahihkannya.
(1243) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan an-Nasa`i, dari Syakal bin Humaid radiyallahu 'anhu, dia berkata,
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلِّمْنِيْ دُعَاءً. قَالَ: قُلْ:
اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِيْ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِيْ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِيْ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِيْ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini dari hadits Sa'ad bin Aus, dari Bilal bin Yahya." Al-Mundziri dan an-Nawawi menyepakatinya. Al-Hakim berkata, "Isnadnya shahih." Adz-Dzahabi dan al-Albani menyetujuinya, dan yang benar adalah ucapan at-Tirmidzi dan al-Mundziri. Dan Sa'ad serta Bilal keduanya adalah shaduq, haditsnya tidak meningkat kepada derajat shahih.
Al-Hakim berkata,"Berdasarkan syarat asy-Syaikhain." Adz-Dzahabi menyetujuinya. Saya berkata, Dan jalur Abdurrazaq juga berdasarkan syarat keduanya, dan Qatadah juga telah diikuti (mutaba'ah). An-Nawawi, al-Haitsami, dan al-Albani telah menshahihkannya
(1245) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa`i, dari Abu al-Yasar yang seorang sahabat radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّيْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِيَ الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ فِي سَبِيْلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوْذُ بِكَ أَنْ أَمُوْتَ لَدِيْغًا.
Hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad 3/427; Abu Dawud, Ibid., 1/484/1552 dan 1553; an-Nasa`i, Kitab al-Isti'adzah, Bab al-Isti'adzah Min at-Taraddi wa al-Hadmi, 8/282, no. 5546-5548; ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir, 19/170, no. 381, dan dalam ad-Du'a`, no. 1362 dan 1363, al-Hakim 1/531, dan al-Ashbahani dalam at-Targhib, no. 314: dari beberapa jalur, dari Abdullah bin Sa'id bin Abu Hind, dari Shaifi bekas budak Abu Ayyub, dari Abu al-Yasar dengan hadits tersebut.
Dan sanad ini telah diperselisihkan, maka mayoritas perawi membawanya kepada jayyid. Sebagian mereka meriwayatkan dari Abdullah bin Sa'id dari kakeknya Abu Hind, dari Shaifi dari Abu al-Yasr.
Dan yang menjadikan rajih menurutku adalah beberapa perkara:
(1246) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud dan Sunan an-Nasa`i dengan isnad yang shahih dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu , dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,
Al-Mundziri berkata, "Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Ajlan, dan dia diperbincangkan kredibilitasnya". Dan yang terpercaya adalah bahwa haditsnya hasan. Muslim telah meriwayatkannya dalam al-Mutaba'at, kemudian ia tidak sendirian dengannya. Bahkan ia diikuti oleh tiga hadits mutaba'ah.
Dan hadits ini telah muncul dari jalur yang lain, Abdurrazaq meriwayatkannya pada no. 19636; Ibnu Majah, Kitab al-Ath'imah, Bab at-Ta'awwudz min al-Jiya', 2/1113, no. 3354; Abu Ya'la, no. 6412; dan al-Baghawi, no. 1370: dari beberapa jalur, dari Laits bin Abi Salim, dari Ka'ab, (sekali dia mengatakan, dari seseorang ), dari Abu Hurairah. Laits adalah dhaif, tetapi dapat dijadikan syahid. Dan Ka'ab adalah majhul, dan hadits ini walaupun belum berderajat shahih dengan jalurnya yang pertama saja, namun dia shahih dengan menyatukan kedua jalurnya. An-Nawawi dan al-Albani telah menshahihkannya.
(1247) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Ali radiyallahu 'anhu,
إِنَّ مُكَاتَبًا جَاءَ هُ فَقَالَ: إِنِّيْ قَدْ عَجَزْتُ عَنْ كِتَابَتِي، فَأَعِنِّي. قَالَ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ عَلَّمَنِيْهِنَّ رَسُوْلُ اللهِ لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلٍ دَيْنًا، أَدَّاهُ عَنْكَ؟ قُلْ:
اَللّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.
(pent), الْمُكَاتَبُ bermakna, seorang hamba yang mempunyai kesepakatan dengan tuannya untuk memerdekakannya dengan pembayaran sejumlah harta, kemudian dia berusaha dan bekerja untuk mendapatkan sejumlah harta ini agar dia mendapatkan kebebasan.
(1248) Kami meriwayatkan di dalamnya dari Imran bin al-Hushain radiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan ayahnya, Hushain dua kalimat yang beliau berdoa dengan keduanya,
At-Tirmidzi berkata, "Hadits gharib". Saya berkata, Syabib di dalamnya terdapat kelemahan dan haditsnya tidak akan melebihi menjadi hadits layak dalam syawahid. Al-Hasan telah melakukan 'an'anah, padahal dia seorang mudallis terlepas dari perbedaan pendapat terhadapnya, apakah dia mendengar dari Imran atau tidak. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini telah diriwayatkan dari Imran dari selain jalur ini". Saya berkata, Yang meriwayatkannya dari Imran adalah Mutharrif dalam riwayat ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir 18/115, no. 223; Ibnu Sirin dalam riwayat ath-Thabrani, al-Mu'jam al-Kabir 18/185, no. 439 dan al-Mu'jam al-Ausath, no. 7871 dan al-Mu'jam ash-Shaghir, no. 683 dengan dua lafazh yang dekat dengan lafazh hadits ini. Sanad keduanya tidak terlepas dari kelemahan. Pada mulanya saya cenderung menguatkan hadits tersebut dengan dua jalur ini. Kemudian tampak olehku bahwa kejadiannya hanya terjadi satu kali ketika masuk Islamnya al-Hushain. Sehingga penguatan berbagai lafazh yang berbeda untuknya, karena persamaannya dalam makna adalah perkara yang ditolak oleh perasaan yang benar. Karena yang diperbolehkan dalam masalah seperti ini adalah mentarjih lafazh yang paling shahih, dan meninggalkan lafazh lainnya yang lemah yang diduga kuat tidak akurat, dan riwayat secara maknawi.
Dan riwayat yang paling shahih di sini adalah riwayat Ahmad 4/444; an-Nasa`i dalam al-Yaum wa al-Lailah, no. 1000-1001; Ibnu Hibban, no. 899; ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir 18/238, 599, ad-Du'a`, no. 1394, al-Hakim 1/510: dari beberapa jalur, dari Manshur dari Rib'i, dari Imran, lalu dia menyebutkannya dengan lafazh:
(1249) Kami meriwayatkan dalam kitab Abu Dawud dan an-Nasa`i dengan isnad yang dhaif dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengucapkan,
Al-Mundziri berkata, "Di dalam isnadnya terdapat Baqiyah bin al-Walid dan Duwaid bin Nafi'. Pada diri keduanya terdapat pembicaraan."
(1250) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari Syahr bin Hausyab, dia berkata, "Saya berkata kepada Ummu Salamah radiyallahu 'anha,
يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، مَا (كَانَ) أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.
Hasan Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29188 dan 30397; Ahmad 6/294, no. 302, dan 315; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/538, no. 3522; Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, no. 100/223; Abu Ya'la, no. 6919; Ibnu Jarir, no. 6647-6649; ath-Thabrani 23/334, no. 772, 785, dan 786; dan al-Ajurri dalam asy-Syari'ah hal. 316: dari beberapa jalur, dari Syahr bin Hausyab dengan hadits tersebut.
Ini merupakan sanad shalih dalam syawahid disebabkan Syahr. Di dalamnya terdapat kelemahan disebabkan lemahnya hafalannya. Akan tetapi ath-Thabrani meriwayatkannya juga 23/366, no. 865; al-Ajurri, hal. 316 dari jalur al-Walid bin Muslim, Salim al-Khayyath menceritakan kepada kami. Hadits tersebut memiliki syawahid dari Anas, Jabir, Ibnu Amru, dan an-Nawwas, Aisyah, dan selain mereka dengan riwayat yang memastikan orang yang berpedoman padanya tentang keshahihan hadits tersebut. At-Tirmidzi dan an-Nawawi telah menghasankannya. Dan al-Albani menshahihkannya.
اَللّهُمَّ عَافِنِيْ فِي جَسَدِيْ، وَعَافِنِيْ فِي بَصَرِيْ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنِّيْ. لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ الْحَلِيْمُ الْكَرِيْمُ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، وَالْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
[/r
Dhaif: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Kitab ad-Da'awat, Bab 5/518, no. 3480; Ibnu Adi 2/815; dan al-Hakim 1/530: dari dua jalur, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Urwah, dari Aisyah dengan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib, saya mendengar Muhammad berkata, 'Habib bin Abi Tsabit tidak mendengar suatu riwayat dari Urwah bin az-Zubair'." Dan al-Hakim berkata, " Isnadnya shahih apabila pendengaran Habib selamat dari Urwah, namun mereka berdua (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya." Saya berkata, Bagaimana mungkin selamat, sedangkan Imam al-Bukhari telah memastikan bahwa dia tidak mendengar sesuatu pun darinya. Ibnu Abi Hatim telah menukilkan dari ayahnya bahwa mereka telah bersepakat atas hal tersebut. Benar, potongan pertama darinya memiliki jalur lain pada ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 1452 yang la ba'sa biha dalam asy-Syawahid. Sedangkan syawahid dari hadits sekumpulan sahabat, maka dia adalah shahih. Adapun hadits secara panjang, maka tidak demikian. Al-Albani telah mendhaifkannya.
(1252) Kami meriwayatkan di dalamnya dari Abu ad-Darda` radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,
كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ:
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَالْعَمَلَ الَّذِيْ يُبَلِّغُنِيْ حُبَّكَ. اللّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ.
Dhaif: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/522, no. 3490; al-Hakim 2/433; Abu Nu'aim 1/226; dan Ibnu Asakir 17/86: Dari jalur Muhammad bin Fudhail, dari Muhammad bin Sa'ad, dari Abdullah bin Rabi'ah bin Yazid ad-Dimasyqi, Abu Idris al-Khaulani telah menceritakan kepada kami, dari Abu ad-Darda` dengan hadits tersebut.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib." Dan an-Nawawi menyetujuinya, dan al-Hakim menshahihkannya, maka adz-Dzahabi mengoreksinya dengan perkataannya,"Abdullah ini kata Ahmad, hadits-haditsnya palsu." Dan al-Albani mengoreksinya dalam ash-Shahihah, no. 707 dengan penjelasan yang memberi faidah bahwa pelaku pemalsu adalah selainnya, dan bahwa Abdullah ini hanya majhul saja. Saya berkata, Di dalamnya dia mudhtharib, maka suatu kali dia menjadikannya berasal dari doa Dawud ‘alaihissalam, dan suatu kali menjadikannya berasal dari doa Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, maka hadits tersebut lemah.
(1253) Kami meriwayatkan di dalamnya dari Sa'ad bin Abi Waqqash radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا رَبَّهُ وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوْتِ:
لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ، سُبْحَانَكَ، إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ،
فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ، إِلاَّ اسْتَجَابَ لَهُ.
(1254) Kami meriwayatkan di dalamnya dan dalam kitab Ibnu Majah dari Anas radiyallahu 'anhu, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam seraya bertanya,
يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: سَلْ رَبَّكَ الْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ. ثُمَّ أَتَاهُ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ؟ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذلِكَ. ثُمَّ أَتَاهُ فِي الْيَوْمِ الثَّالِثِ، فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذلِكَ. قَالَ: فَإِذَا أُعْطِيْتَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَأُعْطِيْتَهَا فِي اْلآخِرَةِ فَقَدْ أَفْلَحْتَ.
(1255) Kami meriwayatkan dalam kitab at-Tirmidzi dari al-Abbas bin Abdul Muththalib radiyallahu 'anhu, dia berkata,
قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلِّمْنِيْ شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللهَ .تعالى قَالَ: سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ. فَمَكَثْتُ أَيَّامًا، ثُمَّ جِئْتُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، عَلِّمْنِيْ شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللهَ .تعالى فَقَالَ: يَا عَبَّاسُ! يَا عَمَّ رَسُوْلِ اللهِ! سَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.
Sanad ini dhaif disebabkan Ibnu Abi Ziyad. Dia seorang yang dhaif. Dia beranjak tua sehingga berubah pikun dan terpengaruh oleh hadits orang lain. Akan tetapi ath-Thabrani meriwayatkannya 11/261, no. 11908; al-Hakim 1/529: dari jalan Hilal bin Khabbab, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dengan hadits tersebut. Al-Hakim dan adz-Dzahabi menshahihkannya berdasarkan syarat al-Bukhari. Sedangkan al-Hilal seorang yang shaduq, namun di akhir hayatnya dia banyak berubah pikun, dia bukan termasuk perawi al-Bukhari, maka orang semisalnya tidak akan melampaui batas menjadi layak dalam syawahid. Ahmad meriwayatkannya 1/206: dari jalur Hatim bin Abi Shaghirah, dari sebagian bani al-Muththalib, dari Ali bin Abdullah bin Abbas, dari ayahnya, dari ayahnya. Sanadnya dhaif, di dalamnya terdapat jahalah. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, no. 951: dari jalur Hammad bin Salamah, Musa bin Salim menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas, bahwasanya dia berkata, "Wahai Rasulullah...". Hadits ini terputus. Musa tidak menjumpai Ibnu Abbas, dan dia telah menyelisihi, dan menjadikan sang penanya adalah Ibnu Abbas, bukan bapaknya! Hadits tersebut menjadi kuat dengan berkumpulnya jalur-jalur ini dan menjadi shahih. Al-Haitsami telah menguatkannya. At-Tirmidzi, an-Nawawi, dan al-Albani menshahihkannya.
(1256) Kami meriwayatkan di dalamnya dari Abu Umamah radiyallahu 'anhu, dia berkata,
دَعَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِدُعَاءٍ كَثِيْرٍ لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئًا. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، دَعَوْتَ بِدُعَاءٍ كَثِيْرٍ لَمْ نَحْفَظْ مِنْهُ شَيْئًا. فَقَالَ: أَلاَ أَدُلُّكُمْ مَا يَجْمَعُ ذلِكَ كُلَّهُ؟ نَقُوْلُ:
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ الْبَلاَغُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.
Dhaif dengan susunan ini, dan doanya shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/537, no. 3521, dari jalur al-Laits bin Abi Sulaim, dari Abdurrahman bin Sabith, dari Abu Umamah dengan hadits tersebut.
أَلِظُّوْا بِـ: يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.
Hasan Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 4/51, no. 1536-Shahihah, at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab, 5/539, no. 3524; Ibnu Adi dalam al-Kamil 7/2561; dan ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 93: dari beberapa jalur, dari Yazid ar-Raqasyi, dari Anas dengan hadits tersebut.
Hadits ini dhaif disebabkan oleh ar-Raqasyi. Akan tetapi at-Tirmidzi meriwayatkannya, 5/540, no. 3525; Abu Ya'la, no. 3833; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 94: dari jalur al-Mu`ammal, dari Hammad bin Salamah, dari Humaid dari Anas. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut gharib, dan tidak terjaga. Ia diriwayatkan dari Hammad, dari Humaid, dari al-Hasan, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dan inilah yang paling shahih." Saya berkata, Al-Mu`ammal adalah la ba`sa bihi dalam al-Mutaba'at. Rauh bin Ubadah telah memutaba'ahnya -sedangkan dia seorang yang tsiqah dan utama- dari Hammad, dari Tsabit dan Humaid dari Anas. Ibnu Abi Hatim menyebutkannya dalam al-Ilal, 2/170 dan 192. Maka hadits tersebut tidak turun dari derajat hasan dengan berkumpulnya dua jalurnya. Kemudian dia menjadi shahih dengan syahidnya yang akan datang setelahnya. Al-Albani menshahihkannya.
(1258) Kami riwayatkan dalam kitab an-Nasa`i dari riwayat Rabi'ah bin Amir yang seorang sahabat radiyallahu 'anhu.
(1259) Kami meriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhu, dia berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَدْعُو وَيَقُوْلُ:
رَبِّ أَعِنِّيْ وَلاَ تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِيْ وَلاَ تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِيْ وَلاَ تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِيْ وَيَسِّرِ الْهُدَى لِيْ، وَانْصُرْنِيْ عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ. رَبِّ اجْعَلْنِيْ لَكَ شَاكِرًا، لَكَ ذَاكِرًا، لَكَ رَاهِبًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيْبًا. رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِيْ، وَاغْسِلْ حَوْبَتِيْ، وَأَجِبْ دَعْوَتِيْ، وَثَبِّتْ حُجَّتِيْ، وَاهْدِ قَلْبِيْ، وَسَدِّدْ لِسَانِيْ، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ قَلْبِيْ.
Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29381; Ahmad 1/227; Abd bin Humaid, no. 717-Muntakhab; al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, no. 664 dan 665; Ibnu Majah, Kitab ad-Du'a’, Bab Du'auhu Shallallahu 'alaihi wasallam, 2/1259, no. 3830; Abu Dawud, Kitab ash-Shalah, Bab Ma Yaqulu ar-Rajul Idza Sallama, 1/474, no. 1510 dan 1511; at-Tirmidzi, Kitab ad-Da'awat, Bab Du'auhu Shallallahu 'alaihi wasallam , 5/554, no. 3551; Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah , no. 384; an-Nasa`i dalam al-Yaum wa al-Lailah, no. 612; Ibnu Hibban, no. 947 dan 948; ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 1411; al-Hakim 1/519; dan al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah, no. 1375: dari beberapa jalur, dari ats-Tsauri, dari Amr bin Murrah, Abdullah bin al-Harits al-Mu'allim telah menceritakan kepadaku, Thulaiq bin Qais telah menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abbas dengan hadits tersebut.
Ini adalah sanad shahih. Semua perawinya adalah tsiqah. Akan tetapi Muhammad bin Juhadah menyelisihi ats-Tsauri, maka dia meriwayatkannya dari Amru bin Murrah dari Ibnu Abbas. An-Nasa`i meriwayatkannya dalam al-Yaum wa al-Lailah, no. 613, seraya berkata, Hadits Sufyan terjaga. Yahya bin Sa'id berkata, 'Saya tidak melihat perawi yang lebih terjaga daripada Sufyan'. Dan dikisahkan dari ats-Tsauri bahwa dia berkata, 'Tidaklah hatiku menitipkan sesuatu, lalu dia mengkhianatiku'." Saya berkata, Apalagi dia tidak bersendirian, bahkan dia dimutaba'ah oleh Mis`ar dalam riwayat ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 1412. Hadits tersebut dishahihkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa`i, al-Baghawi, al-Mundziri, al-Hakim, adz-Dzahabi, dan al-Albani.
(1260) Saya berkata, السَّخِيْمَةُ yaitu, dengki, jamaknya adalahالسَّخَائِمُ . Ini adalah makna السَّخِيْمَةُ pada hadits ini. Dan dalam hadits yang lain,
مَنْ سَلَّ سَخِيْمَتَهُ فِي طَرِيْقِ اْلمُسْلِمِيْنَ، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ.
Makna السَّخِيْمَةُ di sini adalah الغَائِطُ (kotoran manusia).
(1261) Kami meriwayatkan dalam Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan Sunan Ibnu Majah dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya, "Katakanlah,
قُوْلِي: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا سَأَلَكَ بِهِ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه و سلم ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَااسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه و سلم ، وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ أَمْرٍ أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رَشَدًا.
Shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, no. 29336; Ahmad 6/134; al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, no. 639; Ibnu Majah, Kitab ad-Du'a’, Bab al-Jawami' Min ad-Du'a`, 2/1264, no. 3846; Abu Ya'la, no. 1542 –ash-Shahihah; dan Ibnu Hibban, no. 869; serta ath-Thabrani dalam ad-Du'a`, no. 1347: dari beberapa jalur, dari Hammad bin Salamah, dari al-Jariri (dan kadang muncul mengganti al-Jariri: dari Jabr bin Habib, kadang muncul: dari al-Jariri dan Jabr bin Habib bersama-sama, dan kadang muncul: dari al-Jariri, dari Jabr bin Habib), dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar dari Aisyah dengan hadits tersebut.
Al-Haitsami berkata dalam az-Zawa`id, "Dalam isnadnya terdapat pembicaraan, dan Ummu Kultsum di sini, maka saya belum melihat ada yang mempermasalahkannya, dan sejumlah orang memasukkannya sebagai sahabat, tapi ini mengandung kritik, karena dia dilahirkan setelah meninggalnya Abu Bakar, sedangkan sisa perawi sanad adalah tsiqah". Saya berkata, Adapun dinyatakannya memiliki illat dengan Ummu Kultsum maka ia tidak tepat, karena sejumlah perawi telah meriwayatkan darinya, dan Muslim berhujjah dengannya. Dan ia berasal darinya. Sedangkan pembahasan bahwa di dalam sanadnya terdapat pembicaraan, maka karena adanya ikhtilaf yang telah disebutkan, dan yang jelas, dia memiliki jalur selamat dari perselisihan. Al-Hakim telah meriwayatkannya 1/521: dari dua jalur, dari Syu'bah, dari Jabr bin Habib, dari Ummu Kultsum, dari Aisyah. Dan ini merupakan sanad yang shahih. Di dalamnya terjadi perselisihan yang tidak perlu disebutkan, karena ia tidak berbahaya. Dan hadits tersebut shahih dengan jalurnya yang terakhir semata. Maka bagaimana mungkin bila yang terdahulu masuk ke dalamnya? Al-Hakim telah menshahihkan hadits tersebut. An-Nawawi, adz-Dzahabi, dan al-Albani menyepakatinya.
(1262) Saya telah menemukan dalam al-Mustadrak milik al-Hakim dari Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Di antara doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam adalah,
كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم :
اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ اثْمٍ، وَاْلغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَاْلفَوْزَ بِاْلجَنَّةِ، وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ.
Pertama, bahwa Khalaf ini, walaupun shaduq, namun hafalannya telah bercampur di akhir hayatnya. Sedangkan Muslim meriwayatkan haditsnya hanya dalam asy-Syawahid.
(1263) Di dalamnya diriwayatkan, dari Jabir bin Abdullah radiyallahu 'anhu, dia berkata,
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم ، فَقَالَ : وَا ذُنُوْبَاهُ، وَا ذُنُوْبَاهُ، مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا. فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : قُلْ : اللّهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوْبِيْ، وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِيْ مِنْ عَمَلِيْ. فَقَالَهَا. ثُمَّ قَالَ : عُدْ، فَعَادَ. ثُمَّ قَالَ: عُدْ، فَعَادَ. فَقَالَ : قُمْ، فَقَدْ غُفِرَ لَكَ.
Al-Hakim berkata, "Para perawinya dari akhir mereka adalah dari kalangan penduduk Madinah dari kalangan yang tidak dikenal cacat pada mereka." Adz-Dzahabi menyepakatinya. Saya berkata, "Sudah dimaklumi bahwa ini tidak berarti pernyataan tsiqah. Apalagi saya tidak mendapatkan biografi untuk Ibnu Hunain dan tidak pula perawi yang mengambil hadits darinya, kemudian pembicaraan tersebut tidaklah shahih secara mutlak, karena Muhammad bin Jabir telah didhaifkan haditsnya oleh Ibnu Sa'ad."
(1264) Dan di dalamnya (al-Mustadrak) terdapat riwayat, dari Abu Umamah radiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ لله تعالى مَلَكًا مُوَكَّلاً بِمَنْ يَقُوْلُ: يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، فَمَنْ قَالَهَا ثَلاَثًا، قَالَ لَهُ الْمَلَكُ: إِنَّ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ قَدْ أَقْبَلَ عَلَيْكَ، فَسَلْ.
Al-Hakim memunculkan hadits ini sebagai syahid, dan dia diam tidak mengomentarinya. Adz-Dzahabi mengikutinya seraya berkata, "Fadhal tidak ada nilainya'". Saya berkata, "Dia seorang yang sangat lemah sekali atau matruk (ditinggalkan) sebagaimana biografinya menunjukkannya dalam al-Mizan dan al-Lisan. Demikian pula dengan haditsnya ini.
__________________
Sumber : Ensiklopedia Dzikir Dan Do’a, Imam Nawawi, Pustaka Sahifa Jakarta.
http://www.alsofwah.or.id/
Rasulullah saw. benar-benar mengenal umatnya, sehingga lebih menyukai doa yang ringkas dan padat makna. aku cinta rasulullah
BalasHapusMohon share ya
BalasHapus