- Mari Menuntut Ilmu Syar'i (Keutamaan dan Kemuliaan Ilmu)
- Kemuliaan Ilmu
- Ilmu Melahirkan Amalan
- Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal
- Nasehat Bagi Penuntut Ilmu
- Allah Melihat Hati dan Amal
- Membangun Jiwa Cinta Akhirat
- Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan Dunia
- Larangan Beramal Untuk Tujuan Dunia
- Yang Seharusnya Jadi Idola Keluarga Muslim …
- Saudaraku... Apa Yang Kau Cari?
- Menggapai Ma'rifatullah
Lalai untuk Belajar Islam
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Tuntunan zaman dan semakin canggihnya teknologi menuntut generasi
muda untuk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun
berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer dan
lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang
berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di
tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qur’an pun dilalaikan.
Lihatlah tidak sedikit dari generasi muda saat ini yang tidak bisa baca
Qur’an, bahkan ada yang sampai buku Iqro’ pun tidak tahu.
Merenungkan Ayat
Ayat ini yang patut jadi renungan yaitu firman Allah Ta’ala,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)
Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari
Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud
dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui
berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka
benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)
Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di
atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tidak
mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia
secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan dan permainannya yang
ada. Mereka tidak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tidak tahu
bahaya dunia dan tidak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang
hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tidak mengetahui kalau dunia
itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)
Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka
mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu
mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui
perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, dan selain itu.
Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al
Jalalain, hal. 416)
Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan
ayat di atas, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja
seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian,
perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai
dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka
tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan
mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar
Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)
Lalu Syaikh Abu Bakr Al Jazairi mengambil faedah dari ayat tersebut,
“Kebanyakan manusia tidak mengetahui hal-hal yang akan membahagiakan
mereka di akhirat. Mereka pun tidak mengetahui aqidah yang benar,
syari’at yang membawa rahmat. Padahal Islam seseorang tidak akan
sempurna dan tidak akan mencapai bahagia kecuali dengan mengetahui
hal-hal tersebut. Kebanyakan manusia mengetahui dunia secara lahiriyah
seperti mencari penghidupan dari bercocok tanam, industri dan
perdagangan. Namun bagaimanakah pengetahuan mereka terhadap dunia yang
batin atau tidak tampak, mereka tidak mengetahui. Sebagaimana pula
mereka benar-benar lalai dari kehidupan akhirat. Mereka tidak membahas
apa saja yang dapat membahagiakan dan mencelakakan mereka kelak di
akhirat. Kita berlindung pada Allah dari kelalaian semacam ini yang
membuat kita lupa akan negeri yang kekal abadi di mana di sana
ditentukan siapakah yang bahagia dan akan sengsara.” (Aysarut Tafasir,
4/125)
Itulah gambaran dalam ayat yang awalnya menerangkan mengenai kondisi
orang kafir. Namun keadaan semacam ini pun menjangkiti kaum muslimin.
Mereka lebih memberi porsi besar pada ilmu dunia, sedangkan kewajiban
menuntut ilmu agama menjadi yang terbelakang. Lihatlah kenyataan di
sekitar kita, orang tua lebih senang anaknya pintar komputer daripada
pandai membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Sebagian anak ada yang tidak tahu
wudhu dan shalat karena terlalu diberi porsi lebih pada ilmu dunia
sehingga lalai akan agamanya. Sungguh keadaan yang menyedihkan.
Bahaya Jahil akan Ilmu Agama
Kalau seorang dokter salah memberi obat karena kebodohannya, maka
tentu saja akan membawa bahaya bagi pasiennya. Begitu pula jika
seseorang jahil atau tidak paham akan ilmu agama, tentu itu akan
berdampak pada dirinya sendiri dan orang lain yang mencontoh dirinya.
Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mengawali amalan dengan
mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Ingin melaksanakan shalat, harus
dengan ilmu. Ingin puasa, harus dengan ilmu. Ingin terjun dalam dunia
bisnis, harus tahu betul seluk beluk hukum dagang. Begitu pula jika
ingin beraqidah yang benar harus dengan ilmu. Allah Ta’ala berfirman,
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad: 19). Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.
Sufyan bin ‘Uyainah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan
keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)
Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat
adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang
di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan
merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak
didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah
seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al
Bukhari libni Baththol, 1/144)
Gara-gara tidak memiliki ilmu, jadinya seseorang akan membuat-buat
ibadah tanpa tuntunan atau amalannya jadi tidak sah. Jika seseorang
tidak paham shalat, lalu ia mengarang-ngarang tata cara ibadahnya, tentu
ibadahnya jadi sia-sia. Begitu pula mengarang-ngarang bahwa di malam
Jumat Kliwon dianjurkan baca surat Yasin, padahal nyatanya tidak ada
dasar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka amalan
tersebut juga sia-sia belaka. Begitu pula jika seseorang berdagang tanpa
mau mempelajari fiqih berdagang terlebih dahulu. Ia pun mengutangkan
kepada pembeli lalu utangan tersebut diminta diganti lebih (alias ada
bunga). Karena kejahilan dirinya dan malas belajar agama, ia tidak tahu
kalau telah terjerumus dalam transaksi riba. Maka berilmulah terlebih
dahulu sebelum beramal. Mu’adz bin Jabal berkata,
العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ
“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
Beramal tanpa ilmu membawa akibat amalan tersebut jauh dari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, akhirnya amalan itu jadi sia-sia dan tertolak. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Kerusakanlah yang ujung-ujungnya terjadi bukan maslahat yang akan dihasilkan. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata,
مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf, hal. 15)
Beri Porsi yang Adil
Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu dunia. Dalam satu
kondisi mempelajari ilmu dunia bisa menjadi wajib jika memang belum
mencukupi orang yang capable dalam ilmu tersebut. Misalnya di
suatu desa belum ada dokter padahal sangat urgent sehingga masyarakat
bisa mudah berobat. Maka masih ada kewajiban bagi sebagian orang di desa
tersebut untuk mempelajari ilmu kedokteran sehingga terpenuhilah
kebutuhan masyarakat.
Namun yang perlu diperhatikan di sini bahwa sebagian orang tua hanya
memperhatikan sisi dunia saja apalagi jika melihat anaknya memiliki
kecerdasan dan kejeniusan. Orang tua lebih senang menyekolahkan anaknya
sampai jenjang S2 dan S3, menjadi pakar polimer, dokter, dan bidan,
namun sisi agama anaknya tidak ortu perhatikan. Mereka lebih pakar
menghitung, namun bagaimanakah mengerti masalah ibadah yang akan mereka
jalani sehari-hari, mereka tidak paham. Untuk mengerti bahwa
menggantungkan jimat dalam rangka melariskan dagangan atau menghindarkan
rumah dari bahaya, mereka tidak tahu kalau itu syirik. Inilah yang
sangat disayangkan. Ada porsi wajib yang harus seorang anak tahu karena
jika ia tidak mengetahuinya, ia bisa meninggalkan kewajiban atau
melakukan yang haram. Inilah yang dinamakan dengan ilmu wajib yang harus
dipelajari setiap muslim. Walaupun anak itu menjadi seorang dokter atau
seorang insinyur, ia harus paham bagaimanakah mentauhidkan Allah,
bagaimana tata cara wudhu, tata cara shalat yang mesti ia jalani dalam
kehidupan sehari-hari.
Tidak mesti setiap anak kelak menjadi ustadz.
Jika memang anak itu cerdas dan tertarik mempelajari seluk beluk fiqih
Islam, sangat baik baik sekali jika ortu mengerahkan si anak ke sana.
Karena mempelajari Islam juga butuh orang-orang yang ber-IQ tinggi dan
cerdas sebagaimana keadaan ulama dahulu seperti Imam Asy Syafi’i
sehingga tidak salah dalam mengeluarkan fatwa untuk umat. Namun jika
memang si anak cenderung pada ilmu dunia, jangan sampai ia tidak
diajarkan ilmu agama yang wajib ia pelajari.
Dengan paham agama inilah seseorang akan dianugerahi Allah kebaikan,
terserah dia adalah dokter, engineer, pakar IT dan lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Ingatlah pula bahwa yang diwarisi oleh para Nabi bukanlah harta, namun ilmu diin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا
دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ
بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka
hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah
memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, Shahih)
Semoga tulisan ini semakin mendorong diri kita untuk tidak melalaikan
ilmu agama. Begitu pula pada anak-anak kita, jangan lupa didikan ilmu
agama yang wajib mereka pahami untuk bekal amalan keseharian mereka. Wallahu waiyyut taufiq.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Artikel terkait:
0 komentar:
Posting Komentar